Showing posts with label Artikel Keperawatan. Show all posts
Showing posts with label Artikel Keperawatan. Show all posts

Saturday, May 10, 2008

Perawat di Indonesia Akan Melakukan Aksi Damai 12 Mei 2008


Perawat Akan Melakukan Aksi Damai untuk RUU Praktek Keperawatan

Sekitar 10.000 perawat di Jakarta akan menggelar aksi damai di gedung DPR pada Senin depan untuk memperingati Hari Keperawatan Sedunia (International Nurses Day)tanggal 12 Mei 2008.

Prof.Achir Yani S. Hamid MN,DN.Sc Ketua Umum Persatuan Perawat Indonesia (PPNI), mengatakan aksi tersebut sekaligus untuk menuntut disahkannya Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Praktek Keperawatan menjadi UU.

"Kami akan mengerahkan lebih dari 10.000 perawat di Jakarta. Begitu juga dengan perawat-perawat di daerah. Namun kami akan menjamin aksi ini tidak akan mengganggu pelayanan perawat tersebut di tempat kerjanya masing-masing," katanya hari ini dalam jumpa pers Gerakan Nasional Sukseskan UU Praktek Keperawatan dengan Aksi Simpatik bersama Perawat, Masyarakat Sehat

Baca di :
http://web.bisnis.com/









Monday, August 13, 2007

CPR / RJP-Resusitasi Jantung Paru pada orang dewasa terbaru dengan 30 kompresi




CPR / RJP-Resusitasi Jantung Paru pada orang dewasa terbaru adalah 30 kompresi pada jantung

CPR (Cardio pulmonary Resucitation)/RJP (Resusitasi Jantung – Paru) adalah hal yang penting diketahui tenaga kesehatan, termasuk perawat dalam menyelamatan pasien kegawat daruratan di RS ataupun di luar RS.

CPR/RJP merupakan tehnik dasar untuk safe and rescue jika terdapat korban yang mengalami henti jantung mendadak (cardiac arrest) atau henti napas (misalnya : near drowning). RJP dilakukan dengan 2 prinsip bantuan napas mulut ke mulut (mouth-to-mouth rescue breathing) dan kompresi jantung (chest compression), sampai pasien respon positif atau bantuan ambulance datang.


Apa yang terjadi saat jantung berhenti berdenyut ??

4 menit pertama jantung gagal memompakan darah terutama ke otak, maka akan mengalami kekurang suplai gula darah (utamanya) dan oksigen – otak mengalami iskemia. Lewat dari itu selama 10 menit akan menyebabkan kematian sel otak yang irreversible.(WAKTU KRITIS)
Apa yang mesti dilakukan saat menemukan korban henti jantung /serangan jantung mendadak ??

1. Lihat sekitar korban ada bahaya, singkirkan dan bawa korban ke tempat yang tenang Hati-hati copet mengintai,,,,
2. Periksa apakah korban atau pasien sadar : dengan panggil pasien misalnya : "Pak bangun pak ??? Baik-baik sajakah ??? sambil sentuh pundak/bahu pasien kalau dia tidak sadar. Kalau yakin pasien mengalami penurunan kesadaran, terus ke 3.
3. Minta bantuan teman atau telepon no darurat 118/112 (di Indonesia banyak banget), kalau Kuwait cukup 777 (pasti ambulance, polisi dan pemadam kebakaran akan datang kompak), atau di Negara lain Amerika Serikat misalnya 911.

Indonesia :
Nomor darurat telpon selular dan satelit : 112
Ambulans : 118 dan 119.
Badan Search and Rescue Nasional : 115.
Polisi 110
Posko bencana alam : 129.
Pemadam Kebakaran : 113 atau 1131.
Keracunan : (021) 4250767 atau (021) 4227875.
Pencegahan bunuh diri : (021)7256526, (021) 7257826, (021) 7221810.

Lantas kita Lakukan Prinsip ABC !!!!
A (Airway) – Jalan napas B (Breathing) – Napasnya C (Circulation) – Denyut nadi

Apa yang dilakukan di A - AIRWAY ???
Periksa jalan napas korban dengan cara :
Membuka mulut korban dengan 2 jari, lihat apakah ada benda asing, lidah yang drop atau darah. Kemudian taruh tangan penolong diatas jidat dan bawah dagu korban dan dongakkan kepalanya, hiperfleksi - (Head tilt chin lift), kalau kita curiga ada fraktur servikal maka pakai model jaw trust. Dan buka jalan napas

Selanjutnya B – BREATHING ???
Cek napas korban selama 10 detik dengan : Look – Feel – Listen (Letakkan pipi penolong di depan mulut korban, sambil rasakan dan lihat ke arah dada pasien apakah naik – turun (ekspansinya ada).
Kalau tidak ada napas – berikan mouth to mouth ventilation dengan cara tutup hidung korban dan berikan napas dua kali dengan jarak antaranya 5 detik, lakukan sampai terlihat rongga dada pasien ekspansi/naik. Ingat posisi pasien masih hiperfleksi (head till chin lift). Setelah itu kita periksa denyut nadi di arteri karotis sebelah kanan – kiri dekat jakun ( 2- 3 jari) selama 10 detik – rasakan.



Setelah itu C – CIRCULATION ???
Kalau ada denyut nadi, korban hanya henti napas maka lanjutkan Pulmonary Recusitation dengan berikan napas mulut ke mulut sampai 1 menit (berarti 12 kali), sampai napas OK (satu siklus).

Kalau denyut nadi tidak ada maka lakukan kompresi jantung (CPR-cardiac pulmonary resucitation) dengan letakkan ujung telapak tangan di kunci dengan telapak tangan yang lain di tulang dada (sternum) bisa sejajar/segaris antara putting payudara atau 3 jari diatas tulang muda di bawah sternum (prosessus xypoid), letakkan kedua bahu anda sejajar dan lakukan kompresi jantung.


Kompresi dilakukan dengan kedalaman 4 – 5 cm dengan 30 kompresi (dulu 15, yang terbaru 30 kompresi). Mau 1 atau 2 penolong semua 30 kompresi per siklus. Ini dilakukan selama 4 siklus (kurang lebih 1 menit menjadi 100 kompresi).

Di Inggris sendiri setelah 30 kompresi tidak dilakukan ventilasi (2 bantuan napas mulut – mulut), sedang di AS tetap , 30 kompresi : 2 Ventilasi.

Setelah 4 siklus tadi, cek kembali denyut nadi karotis sampai bantuan Ambulance datang, atau ada respon pasien, atau pasien terlihat mati biologis – tanda-tanda rigor mortis.


Kenapa meningkatkan Kompresi Dada menjadi 30 x persiklus ???
• Memberikan kesempatan jantung berdenyut lebih cepat, kalau terlalu banyak ventilasi ada fase silence
• Mengurangi ITP (Intra Thoracik Pressure) – Tekanan Dalam Rongga Dada karena ventilasi untuk mencegah regurgitasi /aspirasi
• Sebenarnya dengan mengkompresi jantung, secara tidak langsung memberikan ekspirasi napas

Kalau ada DC shock atau Automated External Defibrillator (AED), bisa diberikan kejut jantung sebanyak 200 joule, namun pada VF/VT. Sedangkan kalau henti jantung pukul saja rongga dada dengan model cardiac thumb.


source :

http://www.mayoclinic.com/health/first-aid-cpr/FA00061
http://depts.washington.edu/learncpr/quickcpr.html









Wednesday, August 01, 2007

Belajar Mudah Membaca EKG Untuk Perawat (2) - patologi gelombang P, kompleks QRS, dan gelombang T





Belajar Mudah Membaca EKG Untuk Perawat (2)
Gelombang P, Kompleks QRS dan Gelombang T

Kalau ingin melihat dan belajar mudah EKG disertai contoh-contoh gambaran gelombangnya, teman-teman perawat bisa mencoba melihat di www.ecglibrary.com
Atau belajar ECG bersama dr Alan Lindsay :
http://library.med.utah.edu/kw/ecg/
Atau latihan menjawab soal EKG
http://www.cvphysiology.com/index.html
Namun memang masih dalam bahasa inggris, soalnya memang belum ada ahli jantung indonesia yang mau dan ingin menuliskan/membuat website khusus.


Untuk mempelajari hasil rekaman EKG mestinya memang mencari hal yang simple saja dan prinsip. Bisa saja misalnya mengkonversikan satu kotak kecil dalam mm atau detik (ms) tapi itu RUMIT, nanti saja. Lebih baik kita melihatnya dalam gambaran kotak kecil atau kotak besar saja.

Tetap patokannya fokus pada 3 gelombang yaitu : P, kompleks QRS dan T dulu, baru melihat interval antar gelombang. Sekarang mari kita mengulang kembali gelombang tersebut dan bentuk kelainannya.

1. Gelombang P (kontraksi atrium/atrial depolarisasi) --- SA node/pace maker ke AV node – normal keatas dan kesamping 1 – 3 kotak kecil. – gelombang P selalu ke atas/positif

Kalau gelombang P meruncing keatas (peaked P wave) – jadi kesamping mungkin normal (1-3 kotak kecil) dan keatas (lebih dari 3 kotak kecil) berarti ada gangguan yang kemungkinan disebabkan oleh :
COPD (Chronic Obstruction Pulmonary Diseases) – Astma bronkhiale, Emphysema atau Bronchitis kronik
• Kelainan katup jantung kiri (mitral) atau kanan (trikuspid) seperti MS (mitral stenosis) atau MI (Mitral insufisiensi)
Atrial Hipertropi juga bisa; contoh (di lead II), dapat membentuk huruf seperti v (notchead P wave) seperti pada Left Atrial Hipertropi.

Kalau gelombang P melebar kesamping (lebih dari 3 kotak kecil) keatas bisa normal atau lebih dari 3 biasanya akibat : Sino atrial block/gangguan hantaran jantung

Kalau gelombang P negatif (kebawah) pada lead II biasanya disebabkan adanya pacemaker (pasien menggunakan alat pacu jantung) atau ectopic focus (adanya impuls diluar dari SA node).

Kalau gelombang P hilang /tidak ada : dapat terjadi pada VF – Ventrikel Fibrilasi atau VT – Ventrikel Tacycardia – jadi tidak ada impuls SA node dari atrium, ventrikel cuma bergetar- getar saja (BAHAYA BANGET, mengancam jiwa dan siapkan DC shock – 200 – 360 joules), dan CPR – kalau gagal bisa asystole atau flat atau KO IT (+).
Contoh gambaran di :

Pada hiperkalemia gelombang P bisa juga hilang atau kecil dan juga pada AF (Atrial Fibrilasi).


2. Kompleks Gelombang QRS - Ventrikel kontraksi/ventrikel depolarisasi
Pada kompleks gelombang QRS, yang perlu diperhatikan gelombang Q dan gelombang R saja, S abaikan nanti saat S-T interval baru penting). Kalau pada gelombang Q tajam dan runcing , dengan ukuran tinggi/attitude lebih dari 25% gelombang R , ini dikenal dengan Q pathologic pada Akut MI


Lebar kompleks QRS sendiri normal 1 – 2 kotak kecil kesamping, kalau lebih lebar dari itu kemungkinan pada gangguan Hiperkalemia, LBBB (Left bundle branch block) dan RBBB (Right bundle branch block)


3. Gelombang T - ventrikel relaksasi.
Pada gelombang T yang runcing keatas tajam (normal 1 – 5 kotak kecil) bisa terjadi pada hiperkalemia di semua lead. Sedangkan pada old MI/iskemia heart diseases (IHD) terjadi gelombang T negatif ke bawah. Ini bisa juga terjadi pada PVC (Premature ventricular contraction).



Selanjutnya nanti kita lihat interval antar gelombang yang penting terutama :
1. P - R interval
2. S - T interval
3. Q - T interval

Dan 8 rumus membaca EKG yang sederhana namun mendasar yaitu :
1. Rytme /irama : Regular/irregular
2. Menghitung HR (heart rate) – denyut jantung
3. Gelombang P
4. P – R interval
5. QRS kompleks
6. S – T interval
7. Diagnosa
8. Penatalaksanaan









Monday, July 23, 2007

Belajar Mudah Membaca Hasil EKG Untuk Perawat (1)







Belajar Mudah Membaca Hasil EKG Untuk Perawat ( 1 )



Seandainya kita sebagai perawat/mahasiswa keperawatan, mungkin telah mampu dan mahir untuk menggunakan/mengoperasikan EKG/ECG (Electrocardiogam) pada pasien. Namun tidak semua perawat, mampu membaca dan menganalisa hasil rekaman EKG tersebut – termasuk saya tentunya !!!!.


Jelasnya kita sebagai perawat tidak berwenang untuk menegakkan diagnosa medis. Namun apabila kita dengan segera mengetahui hasil rekaman EKG, maka mungkin dapat segera memberikan pertolongan dan mengkolaborasikannya dengan dokter. Umumnya kasus MI (Myocard infark) dan gangguan jantung lainnya adalah mengancam jiwa dan memerlukan pertolongan segera; CPR (Cardio Pulmonary Resucitation). Sehingga kemampuan perawat dalam menganalisa hasil rekaman EKG SANGAT DIPERLUKAN dan BUKAN GAYA-GAYAAN.

Kebetulan saya dan 4 teman Indonesia lainnya, bersama dengan perawat dari negara lain (ada 20 orang total)- sedang mengikuti Training ACLS (Advanced Cardio Life Suport). Untuk membagi hasil belajar, dan agar saya tidak lupa juga maka mencoba mem-postingnya.

Terus terang selama ini saya hanya paham membandingkan hasil EKG pasien (biasanya di ruangan saya bekerja pada pasien gangguan jantung MI, ACS, Angina) dilakukan EKG harian. Atau saat pasien mengeluh chest pain, maka saat itu dilakukan EKG segera – dan kita bandingkan saja ada perubahan tampilan gelombang atau tidak.


Saya hanya mencoba membahas secara mudah dan tidak terlalu detail.





Hasil gambaran EKG terdiri dari 3 gelombang (tidak usah melihat di Lead mana baik L1-3, V1 – V6, AVR, AVL atau AVF) :
• Prinsipnya dalam kertas print hasil rekaman EKG ada kotak besar (5 x 5 ) yang terdiri dari 5 x 5 kotak kecil
• Sumbu kesamping (vertikal) : 1 kotak kecil = 1 mm, satu kotak besar = 5 mm, 10 kotak kecil = 1 mV, sedangkan keatas (horizontal) 1 kotak kecil = 0.04 detik, satu kotak besar = 0.2 detik.
• Gelombang yang perlu diperhatikan adalah gelombang P, QRS kompleks dan T, sedangkan gelombang U tidak terlalu penting
• Interval antar gelombang yang penting adalah P-R interval dan Q-T interval dan S-T interval.

INI PRINSIP yah !!! (Analisa pada Lead II panjang)

1. Gelombang P : P adalah kontraksi Atrium (Atrial Depolarisasi)

Maksudnya adalah kontraksi dari SA node (page maker-Sinus Atrial) menuju AV node (Atria-ventrikular).

Ukuran normal gelombang P adalah kesamping 1 – 3 kotak kecil dan keatas 1 – 3 kotak kecil juga.
Gelombang P selalu keatas dari garis isometric

2. Kompleks Gelombang QRS adalah kontraksi Ventrikel (Ventrikel Depolarisasi)
Gelombang QRS adalah kontraksi dari AV node menuju His (Ventrikel kiri dan kanan) yang berakhir di serat purkinje.

• Patokannya gelombang Q selalu kebawah dari garis isometric, ukuran kesamping dan keatas 1 kotak kecil. Kalau ukuran Q keatas >= 25% gelombang R. Hati-hati ini adalah gambaran Q patologis , pada Akut MI --- bahaya banget dan mengancam jiwa, butuh segera DC shock.
• Gelombang R selalu keatas garis isometric dan paling tinggi. Ukuran kesamping 1 – 2 kotak kecil dan keatas 1 – 3 kotak besar. Gelombang R menjadi patokan untuk mengukur rytme/irama jantung regular/irregular dan menghitung denyut jantung (HR = heart rate).

3. Gelombang T (relaksasi ventrikel) – Ventrikel Repolarisasi
Gelombang T adalah saat ventikel relaksasi – selalu normal ke atas garis isometric dan ukurannya 1 – 5 kotak kecil kesamping dan ke atas.

Untuk interval dan Analisa EKG lanjutan di posting berikutnya.










Saturday, June 30, 2007

Depression affects most Indonesians, says study


Depression affects most Indonesians, says study

The Jakarta Post, Jakarta

The majority of the country's population has suffered depression of some form in the last year, says the Indonesian Doctors Association (IDI). IDI chairman Fachmi Idris said Wednesday that the latest survey put out by the country's psychiatrist association showed that 94 percent of the country was suffering from some form of depression.

"This ranges from mild to severe cases of depression," Fachmi told a press conference after a meeting with President Susilo Bambang Yudhoyono at the Bina Graha Presidential Office. Fachmi said that among the symptoms of depression were a tendency to violate rules and norms, apathy, withdrawal and a refusal to work.

He said the research was based on the assumption of health as defined by the law on health, which regards health as encompassing physical, mental and social factors.He also cited the World Health Organization's definition of health as a "state of complete physical, mental and social well-being, and not merely and absence of disease or infirmity."

Since the economic crisis in 1997, Indonesia has seen an increase in depression rates.The WHO's regional office reports that suicide is on the rise in Indonesia. From 1997 to 1998 there were 34 suicides in Jakarta alone.The suicide rate was 1.6 per 100,000 people in 1997 and 1.8 per 100,000 in 1998, while prior to 1996 the number had been decreasing.

Fachmi said that the high incidence of depression was aggravated by a lack of access to health care for most of the population. He said that people suffering from depression needed constant monitoring by a doctor or psychiatrist and that ideally there would be one doctor for every 250 people, although the whole health care system in the country also needed revamping.
"We need a better system in which the role and function of doctors is revitalized," Fachmi said. He said that Yudhoyono supported the proposal to improve the health care system.

Health Minister Siti Fadilah Supari said that the government was devising a new health care system that would enlist more that 70 percent of the country's population to take part in a new health insurance scheme. She said that low-quality infrastructure was not the main problem of Indonesia's health care system.

"What matters is not the infrastructure but the patient's mental state and culture. State-run Cipto Mangunkusumo General Hospital, for example, lacks state-of-the-art equipment but patients line up to get its services," Siti told reporters.











Friday, June 22, 2007

70% Perawat di Inggris stress akibat pekerjaannya


Baca juga 50,9% di Indonesia perawat stress juga akibat pekerjaannya

KEY FINDINGS
In UK :
70% of nurses suffer side-effects of work stress 44% said stress was negatively affecting their sex life 24% were drinking more alcohol than usual 13% were smoking more than usual or have started smoking 30% were taking more sick days than usual

Stress 'harms nurses' sex lives' in UK

Almost half of nurses feel their sex lives are damaged by the emotional stress of their job, a poll suggests. Nursing Times magazine surveyed almost 2,000 nurses, and found 70% said they suffered from physical or mental health problems linked to work-related stress.

Some 44% said their sex life was suffering as a result and a quarter said they had started drinking more. Nursing Times blamed the pressure of financial deficits and the threat of job cuts in the NHS. The poll also found one in 10 nurses were smoking more, and almost a third reported taking off more days sick than usual. More than one in five of those surveyed had taken 30 or more days off during the last year.

Dr Peter Carter, general secretary of the Royal College ofNursing said: "Nurses are under pressure, under valued and under paid. "Stress is a serious issue for nurses who run the daily gamut of violence and abuse from patients and relatives, as well as coping with the day-to-day pressures of having to do ever more with fewer resources because of deficit-led cost cutting.

"When you add to that worries about job security and a pay cut, it comes as no surprise that stress levels are affecting nurses' personal lives and relationships."

Physical attacks

A RCN poll last year found more than a quarter of nurses surveyed had been physically attacked at work, while nearly half had been bullied or harassed by a manager.

Dr Carter said: "We need to tackle these issues if we are to keep nurses in the profession, while at the same time attracting new recruits so they can continue to deliver high quality patient care." Steve Barnett, director of NHS Employers, said the impact of stress on NHS employees was "vastly under-estimated".

He said work-related stress was responsible for 30% of sickness absence in the NHS - and cost the service £300-400million a year. However, he said NHS Employers had launched a campaign to combat stress, which seemed to be having an effect.

Other findings

A second survey of almost 400 nurses found 90% predicted there would be an increase in sexually transmitted infections over the next five years. The majority (84%) said that services had improved in the previous decade but a similar number (74%) said they were now being stretched by recent cuts.

Over 80% said sexual health was not given a high enough priority by healthcare providers and 85% said sexual health services were not given sufficient funds.

source : BBC












Monday, June 11, 2007

Robert Priharjo : Profil Perawat Indonesia di Luar Negeri (UK)


Robert Priharjo : Profil Perawat Indonesia di Luar Negeri

Saya mengenal Robert Priharjo saat di masa kuliah sekitar tahun 1995 (Program B) di PSIK Universitas Indonesia yang saat ini dikenal sebagai Fakultas Ilmu Keperawatan UI. Setelah sekian lama tidak bertemu, akhirnya kembali kontak dengan beliau via online. Robert Priharjo menurut saya adalah orang yang aktif dan dapat dijadikan contoh untuk Perawat kita. Lihat saja buku-bukunya yang banyak diterbitkan oleh EGC, seperti Pengkajian Fisik Keperawatan (Physical Assestment in Nursing), Perawatan Nyeri dan Pemenuhan Kebutuhan Aktifitas dan Istirahat Pasien (Pain Management and Nursing Care to meet Activity and Rest Needs); Teknik Dasar Pemberian Obat bagi Perawat (Basic Techniques of Drug Administration for Nurses); Pengantar Etika Keperawatan (Introduction to Nursing Ethics) and Praktik Keperawatan Profesional (Professional Nursing Practice).

Saat ini beliau berkarir di bidang keperawatan di Inggris dan telah membantu banyak perawat terutama dari Philipina, India dan Eropa Timur melalui ‘Overseas Nurses Programme’-nya. Yang diakreditasi oleh Nursing and Midwivery Council di Inggris dan juga perawat dari Inggris sendiri.

Keputusan berkarir di luar negeri tentu saja diambil dengan sebuah harapan untuk mengembangkan ilmu, profesi keperawatan dan pengembangan pribadi. Awalnya hanya untuk melanjutkan studi Master Keperawatan (S2 Keperawatan) di Manchester yang kemudian melanjutkan S3 Keperawatan di Cambridge, namun akhirnya beliau memilih berkarir di Inggris.

Artinya ada 2 pembelajaran apabila kita menjadi perawat, pertama adalah bahwa perawat adalah sebuah profesi yang menyediakan berbagai peluang karir dimanapun kita berada. Dan yang kedua pentingnya untuk tetap mengembangkan diri atau ’long live education’ selagi kita masih bekerja sebagai perawat.

Ini penting sekali untuk teman-teman profesi, paling tidak dapat mengkaji dengan melihat apa yang dapat dicapai oleh orang lain. Dan untuk sukses, terkadang memang kita mesti menjalani jalan yang berbeda dari main stream. Kalau kita melihat sebuah distribusi normal kadang saya menilai perawat Indonesia yang sedang bermukim, belajar dan berkarir di luar negeri adalah gambaran nilai ekstrem (0.05) dari profil 350.000 perawat Indonesia lainnya. Angka ini tentu jauh lebih rendah bila dibanding dengan profil perawat dari negara tetangga misalnya Philipina. Mengapa demikian?

Ini juga menjadi sebuah tantangan kedepan utamanya di Kuwait. Saya pernah bercanda dengan seorang teman disini, Kalau 20 tahun lagi hanya menjadi staf nurses (SN) senang, puas atau sedih ?. Teman saya hanya senyum-senyum. Kan coba lah meningkatkan level, naik menjadi leader, head nurses, atau metron kalau perlu – minimalnya kan bermimpi siapa tahu kesampaian. Namun, saya yakin jabatan ini tidak datang dengan sendirinya. Kalau para perawat dari Indonesia ingin menjadi leader keperawatan tidak saja di negara sendiri tapi juga ditingkat global. Saya yakin sudah saatnya berbagai peluang yang ada dicari dan dicoba. Kalau kita mimpi saja tidak berani lahh gimana mau kesampaian.














Tuesday, June 05, 2007

Kuliah Sarjana Keperawatan Bagi Lulusan SMU


Kuliah Sarjana Keperawatan

Bagi Kamu Lulusan SMU

Mungkin saat ini informasi tentang Sarjana Keperawatan (S.Kep)/Bachelor Sciences of Nursing(BSn) telah semakin banyak diperoleh ketimbang saat saya kuliah dulu. Lebih karena semakin banyaknya Program Studi S1 Keperawatan/Fakultas Ilmu Keperawatan di PTN dan atau STIKES (PTS) yang ada di Indonesia.


Di awal tahun 1990 program ini masih belum sebanyak sekarang sehingga gaungnya dan prospek ke depan juga belum sejelas saat ini. Pendidikan S1 Keperawatan (saat itu lulusannya bergelar SKp) pertama berdiri di UI (Universitas Indonesia) tahun 1985 berupa Program Studi Ilmu Keperawatan, dan menjadi Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK) di tahun 1995.

Awalnya sebagian besar alumni pendidikan ini, lebih banyak bekerja di bidang pendidikan (menjadi dosen), atau memilih bekerja menjadi perawat di RS (lebih cepat untuk jabatan struktural). Namun saat ini semakin banyak pilihan untuk bekerja selain di 2 traditional core tempat bekerja tersebut.

Tempat lahan kerja S.kep yang ada saat ini adalah :

  1. Menjadi Dosen AKPER/STIKES/FIK di Negeri (PNS) atau di Swasta
  2. Menjadi Perawat di RS Negeri/Swasta (cepat mencapai jabatan struktural; Kepala Ruangan, Bidang Keperawatan, Diklat dsb)
  3. Bekerja di Asuransi Kesehatan, bagian claim
  4. Med Rep (Detailer) di Pharmacy
  5. Bekerja di Penerbit Buku Kesehatan
  6. Menjadi Perawat di luar negeri
  7. Pekerjaan lain yang tidak berhubungan (alias NYASAR)

Sebenarnya lapangan kerja untuk S1 Keperawatan masih terbuka lebar. Terlebih lagi mungkin suatu saat minimal perawat di Indonesia nantinya berpendidikan minimal S1 (Depkes telah mencanangkan tenaga kesehatan di Indonesia di tahun 2015 minimal S1). Sehingga akan ada LIKUIDASI AKPER; seperti sekarang SPK (Sekolah Pendidikan Keperawatan = setara SMU) yang telah hapus sejak 5 tahun silam, dan dikonversi menjadi AKPER/AKBID. Dan saat ini pendidikan Perawat Indonesia juga semakin berkembang dengan telah dibukanya S2 Keperawatan di FIK UI.

Kalau kamu-kamu lulusan SMU dari jurusan IPA berminat menjadi Sarjana Keperawatan, coba saja ikut melalui Jalur SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) dan PPKB (Program Pemerataan Kesempatan Belajar) di Universitas negeri di :

  1. FIK (Fakultas Ilmu Keperawatan) UI
  2. FIK Unpad
  3. PSIK (Program Studi Ilmu Keperawatan) UGM
  4. PSIK Unair
  5. PSIK Unhas Makasar
  6. PSIK Universitas Andalas
  7. PSIK Universitas Brawijaya
  8. PSIK USU Medan
  9. PSIK Unsoed Purwokerto
  10. PSIK UNS Solo
  11. PSIK Undip

Masa kuliah ditempuh selama 8 - 9 semester (7 semester tahap akademik, dan 2 semester tahap profesi). Kalau kamu tidak dapat diterima di negeri, juga banyak PTS yang membuka program S1 Keperawatan.

So Why Not Becoming Nurses


















Thursday, May 24, 2007

Pulse Oximetri : Alat Bantu Untuk Perawat




Aplikasi Pulse Oximetry Di Rumah Sakit

Alat Bantu untuk Perawat

Pulse oximetry adalah salah satu metode penggunaan alat untuk memonitor keadaan saturasi O2 dalam darah (arteri) pasien, untuk membantu pengkajian fisik pasien, tanpa harus melalui ABG/Analisa Gas Darah.

Pulse oximetry saat ini telah menjadi alat yang baku untuk memonitor keadaan pasien pre operasi, menjadi indikator status sistem pernapasan dan kardiovaskular pasien. Selama ini alat pulse oximetry sangat berguna di ruang ICU, ruang recovery post operasi, saat pasien di anastesi, atau juga di ruang penyakit dalam/bedah untuk pasien dengan observasi jantung dan parunya. Tehnik pulse oximetry sangat mudah dan dengan cepat dapat diajarkan kepada perawat, pasien dan keluarga sekaligus.

Pulse oximetry mengukur saturasi oksigen dalam pembuluh darah arteri terutama dalam Hb (hemoglobin). Tehnologi ini sebenarnya cukup rumit, namun secara umum terdiri dari dua prinsip dasar. Pertama adalah absorpsi dari gelombang cahaya yang berbeda dari Hb yang memiliki tingkat kadar oksigen yang berbeda. Dan yang kedua, transmisi pada jaringan tubuh memilki komponen impuls yang menghasilkan satu gelombang cahaya, yang terjadi akibat perbedaan volume darah yang menghasilkan denyut nadi.

Fungsi dari pulse oximeter sangat terpengaruh oleh berbagai macam variable, seperti ambient light, nilai Hb (Hemoglobin), irama dan kekuatan denyut nadi, vasokontriksi pembuluh darah arteri dan fungsi jantung. Alat pulse oxymetri tidak mengindikasikan keadaan ventilasi pasien, tetapi lebih menggambarkan keadaan oksigenasi dalam darah arteri (perfusi). Dan mungkin saja keadaan hipoksia dapat terdeteksi lebih cepat saat alat ini mendeteksi adanya penurunan saturasi oksigen.



Tip penggunaan alat pulse oksimetri
  • Colok kabel pulse oksimetri ke soket listrik, untuk pengisian baterainya
  • Nyalakan pulse oksimetri tunggu beberapa saat untuk melakukan kalibrasi dan mentest alat
  • Pilih tombol yang akan disesuaikan (pilihan parameter) dan angka rendah/tingginya (umumnya dibawah 85% O2 saturasi ) alat ini di set untuk berbunyi alarmnya, dan denyut nadi (dibawah 60 x/min atau diatas 100 x/min)
  • Berikan waktu beberapa saat untuk alat ini mendeteksi denyut nadi dan menghitung saturasi oksigen
  • Lihat juga tampilan gelombang, sehingga tanpa adanya tampilan gelombang pembacaan hasil tidak bermakna
  • Lihat pembacaan hasil jika semula 99% dan langsung drop 85% maka saturasinya dianggap tidak bermakna

Sebagai perawat tentu saja alat ini membantu sekali untuk membuat rencana asuhan keperawatan misalnya untuk menegakkan diagnosa keperawatan : Gangguan perfusi jaringan atau Inadekuat bersihan jalan napas (Data objektif pendukungnya : O2 saturasi kurang dari 85%)











Saturday, May 12, 2007

The Economic Benefit of Adressing Nursing Shortage



The Economic
Benefits of
Addressing the
Nursing Shortage on DC US


As state governments, colleges and universities, and others work to address the national nursing work force shortage and associated costs, it is critical to quantify the cost-benefits of reducing the shortage in Southern Regional Education Board (SREB) states and communities. The shortage of registered nurses is widespread in the 16 SREB states and the District of Columbia. It cuts across many urban, rural or socioeconomic areas. And its impact is enormous. No other professional group is in higher demand than nursing, and no other single group offers the economic benefits of the nursing profession. Alleviating the nursing work force shortage makes sound economic sense.


Sheer numbers tell the story. Business Week reported in a 2006 cover story that
the primary engine fueling the U.S. economy is health care — not information technology, energy or other industries, including real estate. The demand for health care and skilled health care workers is expected to sky- rocket as the U.S. population ages. As the article points out, health care is highly personnel-intensive, and registered nurses are the largest personnel group in the industry. Therefore, state and community leaders who seek a larger, more viable economic base simply cannot afford to ignore the labor shortage in this predominant sector.

Growing communities need more registered nurses to serve their population, and registered nurses are among the most desirable and beneficial workers in a community. Currently, considerable efforts are made by many community and government leaders to recruit new industries to a specific locale, yet many of those industrial employees are relatively unskilled, minimum-wage earners.
Their “return” in economic and tax benefits to the community and state ranks far below those of a high-demand, highly skilled nursing work force.

Research shows that the lesser economic benefit of these lower-wage workers trickles down only to the surrounding community.

In contrast, addressing the nursing shortage benefits the entire region since the shortage is so wide-spread and nurses earn higher wages.
Registered nurses are highly educated and technically skilled professionals, many with annual salaries above $50,000. As higher-paid employees, registered nurses pay more local and state taxes, contributing to a larger degree to the economic well-being of their state.

With higher wages, they are also more likely to buy more food and clothing, professional services, gasoline and other goods, and engage in more travel and entertainment, thus contributing to the economic vitality of a great number of other businesses. The higher salaries paid to nurses trickle down to benefit many others inside and outside of their surrounding communities.
1

In sum, more registered nurses mean more revenue. Included in this report is a table highlighting the projected shortage of registered nurses in each SREB state and the District of Columbia. It shows the entry salary for those positions, the resulting state taxes that would be generated and the economic benefits if those positions were filled. If the shortage of registered nurses in the SREB region was resolved, the projected trickle-down economic benefit to local communities throughout the region would top
$5 billion annually. Governments that collect state taxes would gain from $1 million to $12 million — or more — in new tax revenues.

For the past 40 years, through the SREB Council on Collegiate Education for Nursing, SREB has played an important leadership role in addressing the issues and needs facing nursing education. During this time, creating a larger nursing work force to care for state residents has grown into an urgent need. In particular, the Council calls attention to the serious nursing faculty shortage. The Council has monitored student enrollment and the characteristics of faculty in colleges and universities since 2001 and has repeatedly warned that the nursing shortage cannot be addressed without also addressing the nursing faculty shortage.
Without additional faculty, a greater number of nursing students cannot be educated, and applicants will continue to be turned away. In fact, a 2006 Council survey found that 26,101 qualified applicants were denied admission to associate’s and bachelor’s degree nursing programs in SREB states and the District of Columbia that year, mainly due to lack of nursing faculty and facilities to teach them.

Since the late 1990s, the Council has called specifically for the nurse educator shortage to become a higher priority in each state. For the economic viability of our communities as well as the health of our people, it is essential — and increasingly critical — for SREB states and the District of Columbia to put reducing the shortage of the registered nurses and nurse educators at the top of the public agenda.









Monday, April 23, 2007

Bolehkah Kita Cemburu Dengan Perawat Philipina ????



Bolehkah kita cemburu dengan Perawat Philipina ???

Ada sekitar 15.000 perawat Philipina akan masuk bekerja di Amerika Serikat di tahun 2006 (Kuwait sedang cari 10 Indo nurses for NCLEX nihh ... susahnya setengah ampun). bahkan mereka masuk bekerja di Negara-negara seperti Libya, Bahrain, Israel, Arika Selatan, Mesir, dsb. (Mungkin tidak ada Negara di dunia yang tidak ada Perawat Philipinanya yah???)

Remitance mereka mencapai 14% dari APBN Negara-nya mencapai U$ 25 billion pertahun. Waw ….. Bahkan anggota DPRnya sampai turun tangan menangani penempatan perawat, Presiden membuat Mahkamah Keperawatan setingkat Lembaga Tinggi Negara, dsb, dsbnya.

15,000 Pinoy nurses sought US jobs in 2006

More than 15,000 new Filipino nurses sought employment in the United States last year, former senator and labor leader Ernesto Herrera disclosed over the weekend. Herrera said a total of 15,171 Filipinos took the US National Council Licensure Examination (NCLEX) for nurses for the first time (excluding repeaters) from January to December 2006.

This represents an increase of 5,990 or 65 percent compared to the 9,181 Filipinos that took the NCLEX for the first time in the whole of 2005, according to Herrera, secretary-general of the Trade Union Congress of the Philippines (TUCP). The former senator said the 2006 NCLEX statistics reaffirmed the Philippines’ position as the foremost supplier of foreign nurses in the US.
He said the Philippines easily topped the five countries with the highest number of first-time NCLEX examinees in 2006. India came second, with 4,395 examinees; followed by South Korea, 2,145; Canada, 943; and Cuba, 537.

Passing the NCLEX is usually the final step in the nurse licensure process in the US. Thus, the number of people taking the examination is a good indicator of how many new US-educated as well as foreign-trained nurses are trying to enter the profession in the US, according to the US National Council of State Boards of Nursing.

The TUCP has been pushing the deployment of surplus nurses and other highly skilled workers to lucrative job markets abroad.“Our position is, if we must boldly pursue the export of services, we might as well purposely encourage the deployment of highly skilled laborers such as nurses,” said Herrera, former chairman of the Senate labor and employment committee.

“Nursing skills are not readily replaceable. This is why we seldom come across cases of employers taking advantage of, or abusing nurses. In fact, Filipino nurses overseas are pampered by their employers,” he said.He added: “We must consciously discourage the overseas deployment of relatively unskilled workers such as domestic helpers. Their skills are easily replaceable. This is why they are undeniably far more susceptible to employer abuse.”

Herrera earlier rejected proposed new legislation that seeks to require nurses who obtained government-subsidized schooling to render two years of compulsory local service before they can leave for overseas employment.

The former senator was referring to House Bill 5791, which seeks to oblige nursing graduates of state colleges and universities to perform 24 months of service here before they may be lawfully recruited to work abroad.“We regard the bill as highly prejudicial and absolutely unnecessary, considering the massive oversupply of nurses locally,” he pointed out.

Last year alone, Herrera noted that the Professional Regulation Commission admitted to the local nursing profession a total of 37,533 candidates who passed licensure examination.“Of this number, only about 2,000 will find gainful work here, either in government or the private sector. So we definitely have a large surplus of nurses,” he said. (PNA)

http://thepinoy.net/?p=578

Sunday, April 22, 2007

Mengenal Taksonomi Diagnosa Keperawatan NANDA



Mengenal Taksonomi Diagnosa Keperawatan Versi NANDA

By : Nur Martono

Banyak mahasiswa keperawatan di Indonesia yang telah memahami Asuhan keperawatan dengan NCP (Nursing Care Plan) didalamnya. Ada pula yang sering menggunakan Taksonomi Diagnosa Keperawatan versi NANDA. Untuk itulah kita akan sama-sama mengulas kembali dan mengetahui sekelumit latar belakang taksonomi diagnosa keperawatan versi NANDA (by the way - saya suka dengan singkatannya !!).

Apa itu NANDA ?

Sebenarnya NANDA adalah Singkatan dari North American Nursing Diagnosis Association (Asosiasi Diagnosa Keperawatan Amerika Utara). Meskipun singkatan NANDA lebih memaknakan sebuah organisasi, namun jangan terlihat tersurat, lebih menyimaknya secara tersirat.

NANDA secara internasional memiliki komitmen untuk meningkatkan kemampuan dan pemahaman keperawatan dalam membangun, menjabarkan, dan mengklasifikasi aspek keperawatan. Secara esensial NANDA mengembangkan, menjabarkan dan menyebarluaskan informasi Taksonomi Diagnosa Keperawatan yang secara umum digunakan oleh perawat profesional.

Taksonomi ini merupakan konsep kerangka kerja dalam menentukan sebuah diagnosa keperawatan. Konsep dari diagnosa keperawatan sendiri adalah upaya keberhasilan pendekatan klinis keperawatan dan diagnosa keperawatan secara internasional dianggap penting dalam pendekatan sistem dan rencana keperawatan klien/pasien (Barnum, 1994)

NANDA nomenklatur diagnosa keperawatan lebih melambangkan pengambilan keputusan tindakan klinis keperawatan tentang masalah kesehatan yang aktual atau potensial. Diagnosa Keperawatan NANDA menjelaskan tentang reaksi pasien terhadap penyakit atau trauma yang dapat diperbandingkan dengan kode ICD-9-CM(International Code of Diseases)/ diagnosa medis kedokteran, yang lebih menjelaskan penyakit atau trauma secara medis. NANDA saat ini berisi 167 diagnosa keperawatan yang telah disepakati dan terbagi dalam 9 domain (ranah). Setiap diagnosa terdiri dari label/judul, definisi, karakteristik umum dan khusus masing-masing definisi, dan faktor yang terkait.

Secara mudahnya NANDA adalah metode yang umum untuk menentukan dan mengmbangkan diagnosa keperawatan. Survey terbaru dari 43 Fakultas Keperawatan di Michigan, Amerika Serikat mengindikasikan bahwa penggunaan NANDA nomenklatur tetap konsisten tinggi di angka 91% (Keenan, 2001). Bahkan sebagian besar universitas mengajarkan NANDA nomenklatur dalam kurikulum mereka.

Saat mengkaitkan dengan klasifikasi Intervensi keperawatan (nursing intervention classification – NIC) dan klasifikasi tujuan diagnosa keperawatan (nursing outcomes classification – NOC), semua dikembangkan di Universitas Keperawatan Iowa. Sehingga sangat membantu menjelaskan proses keperawatan secara utuh.

Sejarah Pengembangan Nomenklatur Diagnosa Keperawatan NANDA

Kebutuhan untuk menstandarisasi bahasa dalam medical records (rekam medik) adalah bukan hal yang baru. Hal ini lebih dalam upaya mendefinisikan peran perawat, konstribusi dan keunikkan body of knowledge keperawatan yang akhirnya mengarahkan pengembangan klasifikasi diagnosa keperawatan.

Pada tahun 1973 Kristine Gebbie dan Mary Ann Lavin pertama kalinya membuat kelompok kerja (task force) untuk memberi nama dan mengklasifikasi Diagnosa Keperawatan. Kemudian tim kerja yang diberi nama Task Force of the National Conference Group on the Classification of Nursing Diagnoses (Pokja Konferensi Nasional Klasifikasi Diagnosa Keperawatan). Pokja ini terbentuk di tahun 1974, dan di tahun 1982 NANDA menyusun Pokja Nasional yang beranggotakan Amerika Serikat dan Kanada.

Di tahun 1986, The North American Nursing Diagnosis Association (NANDA) membuat sistem klasifikasi yang memberi judul dan membunyikan diagnosa keperawatan. Taksonomi ini awalnya hanya daftar diagnosa keperawatan yang tersusun secara alphabet, namun kemudian menjadi satu sistem panduan klasifikasi diagnosa keperawatan (taksonomi) di tahun 1987 dikenal dengan Taksonomi NANDA I, dan menjadi standar teksbook pendidikan perawat di Amerika Serikat dan diseluruh dunia. Taksonomi NANDA II yang terbaru terbit di tahun 2003-2004.

Taksonomi NANDA

Sebuah taksonomi berarti sebuah metode yang terorganisir dari beberapa kumpulan informasi. NANDA dengan mudahnya membuat kerangka kerja diagnosa keperawatan lebih mudah dipetakan dan terstandarisasi. NANDA adalah sebuah kode yang tediri dari 9 (NINE) " Human Response Patterns" – sembilan pola respon tubuh manusia.
  1. Exchanging
  2. Communicating
  3. Relating
  4. Valuing
  5. Choosing
  6. Moving
  7. Perceiving
  8. Knowing
  9. Feeling

Daftar Diagnosa keperawatan versi NANDA memasukkan unsur 3 masalah :
  • Actual problems (Masalah Aktual)
  • Risks for problems (Masalah Resiko)
  • Welness Issues (Isu Sehat-sakit)

Dan setiap diagnosa keperawatan menyertakan selalu 4 komponen yang terpisah yaitu :
  • Judul Diagnosa
  • Definisi
  • Karakteristik Umum dan Khusus tiap masalah
  • Faktor Resiko/terkait

Sebagai contoh, diagnosa keperawatan "Nyeri" didefinisikan sebagai " Suatu keadaan tidak nyaman dari sensoris dan melibatkan pengalaman emosional klien yang mungkin muncul akibat kerusakan jaringan tubuh (aktual/potensial); yang muncul sesaat/perlahan dalam intensitas ringan – berat, yang dapat diprediksi, dan dalam durasi kurang dari 6 bulan. Karakteristik umum termasuk keluhan secara verbal, adanya tanda, penggunaan "pain killer drugs", perilaku protektif terhadap nyeri. Karakteristik khusus termasuk " fokus terhadap diri, gangguan persepsi terhadap waktu, gangguan proses pikir, penurunan interaksi dengan lingkungan dan orang lain, perilaku distraksi. Faktor yang berhubungan dengan nyeri antara lain adanya trauma biologis, kimia, fisik, dan psikologis.

Berikut adalah list Diagnosa Keperawatan NANDA 2003-2004 2003–2004 NANDA-Approved Nursing Diagnoses

Activity Intolerance • Activity Intolerance, Risk for • Adaptive Capacity: Intracranial, Decreased • Adjustment, Impaired • Airway Clearance, Ineffective • Anxiety • Anxiety, Death • Aspiration, Risk for • Attachment, Parent/Infant/Child, Risk for Impaired • Body Image, Disturbed • Body Temperature: Imbalanced, Risk for • Bowel Incontinence • Breastfeeding, Effective • Breastfeeding, Ineffective • Breastfeeding, Interrupted • Breathing Pattern, Ineffective • Cardiac Output, Decreased • Caregiver Role Strain • Caregiver Role Strain, Risk for • Communication, Readiness for Enhanced • Communication: Verbal, Impaired • Confusion, Acute • Confusion, Chronic • Constipation • Constipation, Perceived • Constipation, Risk for • Coping: Community, Ineffective • Coping: Community, Readiness for Enhanced • Coping, Defensive • Coping: Family, Compromised • Coping: Family, Disabled • Coping: Family, Readiness for Enhanced • Coping (Individual), Readiness for Enhanced • Coping, Ineffective • Decisional Conflict (Specify) • Denial, Ineffective • Dentition, Impaired • Development: Delayed, Risk for • Diarrhea • Disuse Syndrome, Risk for • Diversional Activity, Deficient • Dysreflexia, Autonomic • Dysreflexia, Autonomic, Risk for • Energy Field, Disturbed • Environmental Interpretation Syndrome, Impaired • Failure to Thrive, Adult • Falls, Risk for • Family Processes, Dysfunctional: Alcoholism • Family Processes, Interrupted • Family Processes, Readiness for Enhanced • Fatigue • Fear • Fluid Balance, Readiness for Enhanced • Fluid Volume, Deficient • Fluid Volume, Deficient, Risk for • Fluid Volume, Excess • Fluid Volume, Imbalanced, Risk for • Gas Exchange, Impaired • Grieving, Anticipatory • Grieving, Dysfunctional • Growth, Disproportionate, Risk for • Growth and Development, Delayed • Health Maintenance, Ineffective • Health-Seeking Behaviors (Specify) • Home Maintenance, Impaired • Hopelessness • Hyperthermia • Hypothermia • Identity: Personal, Disturbed • Infant Behavior, Disorganized • Infant Behavior: Disorganized, Risk for • Infant Behavior: Organized, Readiness for • Enhanced • Infant Feeding Pattern, Ineffective • Infection, Risk for • Injury, Risk for • Knowledge, Deficient (Specify) • Knowledge (Specify), Readiness for Enhanced • Latex Allergy Response • Latex Allergy Response, Risk for • Loneliness, Risk for • Memory, Impaired • Mobility: Bed, Impaired • Mobility: Physical, Impaired • Mobility: Wheelchair, Impaired • Nausea • Neurovascular Dysfunction: Peripheral, Risk for • Noncompliance (Specify) • Nutrition, Imbalanced: Less than Body • Requirements • Nutrition, Imbalanced: More than Body • Requirements • Nutrition, Imbalanced: More than Body • Requirements, Risk for • Nutrition, Readiness for Enhanced • Oral Mucous Membrane, Impaired • Pain, Acute • Pain, Chronic • Parenting, Impaired • Parenting, Readiness for Enhanced • Parenting, Risk for Impaired • Perioperative Positioning Injury, Risk for • Poisoning, Risk for • Posttrauma Syndrome • Posttrauma Syndrome, Risk for • Powerlessness • Powerlessness, Risk for • Protection, Ineffective • Rape-Trauma Syndrome • Rape-Trauma Syndrome: Compound Reaction • Rape-Trauma Syndrome: Silent Reaction • Relocation Stress Syndrome • Relocation Stress Syndrome, Risk for • Role Conflict, Parental • Role Performance, Ineffective • Self-Care Deficit: Bathing/Hygiene • Self-Care Deficit: Dressing/Grooming • Self-Care Deficit: Feeding • Self-Care Deficit: Toileting • Self-Concept, Readiness for Enhanced • Self-Esteem, Chronic Low • Self-Esteem, Situational Low • Self-Esteem, Risk for Situational Low • Self-Mutilation • Self-Mutilation, Risk for • Sensory Perception, Disturbed (Specify: Visual, • Auditory, Kinesthetic, Gustatory, Tactile, • Olfactory) • Sexual Dysfunction • Sexuality Patterns, Ineffective • Skin Integrity, Impaired • Skin Integrity, Risk for Impaired • Sleep Deprivation • Sleep Pattern Disturbed • Sleep, Readiness for Enhanced • Social Interaction, Impaired • Social Isolation • Sorrow, Chronic • Spiritual Distress • Spiritual Distress, Risk for • Spiritual Well-Being, Readiness for Enhanced • Spontaneous Ventilation, Impaired • Sudden Infant Death Syndrome, Risk for • Suffocation, Risk for • Suicide, Risk for • Surgical Recovery, Delayed • Swallowing, Impaired • Therapeutic Regimen Management: Community, • Ineffective • Therapeutic Regimen Management, Effective • Therapeutic Regimen Management: Family, • Ineffective • Therapeutic Regimen Management, Ineffective • Therapeutic Regimen Management, Readiness for • Enhanced • Thermoregulation, Ineffective • Thought Processes, Disturbed • Tissue Integrity, Impaired • Tissue Perfusion, Ineffective (Specify: Renal, • Cerebral, Cardiopulmonary, Gastrointestinal, • Peripheral) • Transfer Ability, Impaired • Trauma, Risk for • Unilateral Neglect • Urinary Elimination, Impaired • Urinary Elimination, Readiness for Enhanced • Urinary Incontinence, Functional • Urinary Incontinence, Reflex • Urinary Incontinence, Stress • Urinary Incontinence, Total • Urinary Incontinence, Urge • Urinary Incontinence, Risk for Urge • Urinary Retention • Ventilatory Weaning Response, Dysfunctional • Violence: Other-Directed, Risk for • Violence: Self-Directed, Risk for • Walking, Impaired


Wandering
Source.
NANDA Nursing Diagnoses: Definitions
and Classification, 2003–2004. Philadelphia: North American Nursing Diagnosis Association.











Thursday, April 12, 2007

Pengantar Pengkajian Fisik Keperawatan Untuk Mahasiswa AKPER/STIKES



Membantu Mahasiswa Keperawatan /Dosen AKPER dan STIKES
Dalam menyediakan Paket Alat Pemeriksaan Fisik Keperawatan
Paket Terjamin dan Telah Berpengalaman

Alat terdiri dari : Stetoskop, Tensimeter, Termometer, Refleks Hammer, Gunting, Klem, Pinset sirurgis dan Pinset Anatomis, Penlight, Tongue spatel, Tas Alat, Meteran, Alat KDM, Gloves, Buku Pengkajian Fisik Keperawatan karangan Robert Priharjo,

Harga Per paket Rp. 150.000,- (diskon 10%)
Hub. Yuni – 08561872273 /7716558

Via email : nurmartono.skp@gmail.com
Nury_dinar2005@yahoo.com


PENGKAJIAN FISIK KEPERAWATAN

PENGANTAR UNTUK MAHASISWA KEPERAWATAN

Outline
Pendahuluan

1. Wawancara Keperawatan

2. Pengkajian Fisik : Pendekatan, tehnik pengkajian, kriteria, metode

Pengkajian Fisik sistem "head to toe" meliputi :
a.
Sistem Syaraf Pusat
b.
Sistem Jantung dan pembuluh darah
c.
Sistem Pernafasan
d.
Sistem Pencernaan
e.
Sistem Perkemihan
f.
Sistem Integumen
g.
Sistem Muskuloskeletal
h.
Sistem Physikososial

3. Dokumentasi Keperawatan

Pendahuluan

Pengkajian fisik keperawatan pada klien dalam kondisi sehat-sakit penting dilakukan oleh perawat untuk menentukan data subjektif dan data objektif yang akan dipergunakan dalam merumuskan Diagnosa dan Rencana Asuhan Keperawatan.

Proses pengkajian fisik keperawatan meliputi tiga tahap :

  1. Wawancara (Interview)
  2. Pemeriksaan fisik
  3. Pendokumentasian : yang meliputi tahapan perumusan diagnosa keperawatan, tujuan dan rencana intervensi keperawatan.

1. Wawancara (Interview)

Tujuan dari wawancara adalah untuk merumuskan data base yang lengkap yang nantinya berhubungan dengan data sekarang dan masa lalu status kesehatan klien, yang nantinya membantu perawat menyusun Asuhan keperawatan dan membina hubungan saling percaya (trust relationship) dengan klien. Hasil wawancara ini juga akan mampu menggali informasi tentang persepsi pasien terhadap kesehatan, perhatian tentang sehat-sakit dan kebutuhan penyuluhan kesehatan. Keberhasilan dalam wawancara sangat bergantung terhadap ketrampilan komunikasi keperawatan si perawat yang bersangkutan dan penerimaan klien, serta kondisi dan situasi lingkungan. Faktor yang mempengaruhi hasil suatu wawancara adalah : keterbatasan privacy, stress emosional dan fisik, hambatan bahasa dan adanya interupsi dari pihak lain.

Apabila tidak memungkinkan melakukan wawancara dengan klien, maka sumber data dapat diperoleh dari file/rekam medik, catatan keperawatan, dan riwayat pengobatan, penyakit dan dari keluarga.

Beberapa kriteria penting dalam wawancara meliputi : status kesehatan saat ini, keluhatan utama dan gejala yang dirasakan, riwayat penyakit masa lalu, riwayat sosial dan keluarga, manajemen pengobatan dan perawatan saat ini, persepsi tentang penyakit yang diderita dan pemahaman akan penatalaksanaan medis dan rencana keperawatan

Wawancara yang dilakukan hendaknya mengarahkan perawat untuk memudahkan dalam pengkajian fisik terkait dengan keluhan klien, sehingga terfokus kepada satu sistem tubuh yang terkena penyakit.

  1. Pemeriksaan Fisik

Dari hasil wawancara maka perawat akan dapat lebih terfokus kepada satu sistem tubuh yang terkait dengan penyakit yang diderita klien. Ada 2 metode pendekatan dalam pemeriksaan fisik yaitu pendekatan sistem tubuh dan pendekatan head to toe (ujung kepala – ke kaki). Sangat direkomendasikan kita mengkombinasikan kedua pendekatan tersebut Sangat baik jika kita sebagai perawat memulai pemeriksaan fisik dari kepala dan leher, kemudian ke dada, dan abdomen, daerah pelvis, genital area, dan terakhir di ekstremitas (tangan dan kaki). Dalam hal ini dapat saja beberapa sistem tubuh dapat dievaluasi sekaligus, sehingga pendokumentasiannya dapat dilakukan melalui pendekatan sistem tubuh.

Tehnik yang dilakukan meliputi inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi. Umumnya semua berurutan, kecuali pengakajian fisik di abdomen yang auskultasi dilakukan setelah inspeksi. Inspeksi dilakukan melalui pengamatan langsung, termasuk dengan pendengaran dan penciuman. Sedangkan palpasi dengan menggunakan tangan kita untuk merasakan tekstur kulit, meraba adanya massa di bawah kulit, suhu tubuh dan vibrasi/getaran juga dapat dipalpasi. Berbeda dengan perkusi yang digunakan untuk mendengar suara yang dipantulkan jaringan tubuh di bawah kulit atau struktur organ. Suara yang dihasilkan dari ketukan tangan kita dapat dinilai dari timpani atau resonan dan dull atau flat . Sedangkan auskultasi dengan menggunakan stetoskop untuk mendengarkan suara organ tubuh, dan penting untuk mengkaji sistem pernapasan, jantung dan sistem pencernaan.

Sedangkan kriteria pemeriksaan fisik yang penting adalah meliputi :

a. Tanda-tanda vital / vital sign (suhu, nadi, pernapasan dan tekanan darah)

b. Observasi keaadaan umum pasien dan perilakunya

c. Kaji adanya perubahan penglihatan dan pendengaran

d. Pengakajian head to toe seluruh sistem tubuh dengan memaksimalkan tehnik inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi

Berikut ini merupakan detail pemeriksaan fisik, yang meliputi head to toe dan pendekatan sistem tubuh adalah :

a. Sistem syaraf pusat

  1. Kaji LOC (level of consiousness) atau tingkat kesadaran : dengan melakukan pertanyaan tentang kesadaran pasien terhadap waktu, tempat dan orang
  2. Kaji status mental
  3. Kaji tingkat kenyamanan, adanya nyeri dan termasuk lokasi, durasi, tipe dan pengobatannya.
  4. Kaji fungsi sensoris dan tentukan apakah normal atau mengalami gangguan. Kaji adanya hilang rasa, rasa terbakar/panas dan baal.
  5. Kaji fungsi motorik seperti : genggaman tangan, kekuatan otot, pergerakan dan postur
  6. Kaji adanya kejang atau tremor
  7. Kaji catatan penggunaan obat dan diagnostik tes yang mempengaruhi SSP.

b. Sistem Kardiovaskular

  1. Kaji nadi : frekuensi, irama, kualitas (keras dan lemah) serta tanda penurunan kekuatan/pulse deficit
  2. Periksa tekanan darah : kesamaan antara tangan kanan dan kiri atau postural hipotensi
  3. Inspeksi vena jugular seperti distensi, dengan membuat posisi semi fowlers
  4. Cek suhu tubuh dengan metode yang tepat, atau palpasi kulit.
  5. Palpasi dada untuk menentukan lokasi titik maksimal denyut jantung
  6. Auskultasi bunyi jantung S1- S2 di titik tersebut, adanya bunyi jantung tambahan, murmur dan bising.
  7. Inspeksi membran mukosa dan warna kulit, lihat tanda sianosis (pucat) atau kemerahan
  8. Palpasi adanya edema di ekstremitas dan wajah
  9. Periksa adanya jari-jari tabuh dan pemeriksaan pengisian kapiler di kuku
  10. Kaji adanya tanda-tanda perdarahan (epistaksis, perdarahan saluran cerna, phlebitis, kemerahan di mata atau kulit.
  11. Kaji obat-obatan yang mempengaruhi sistem kardiovaskular dan test diagnostik.

c. Sistem Respirasi (Pernapasan)

1. Kaji keadaan umum dan pemenuhan kebutuhan respirasi
2. Kaji respiratory rate, irama dan kualitasnya
3. Inspeksi fungsi otot bantu napas, ukuran rongga dada, termasuk diameter anterior dan posterior thorax, dan adanya gangguan spinal
4. Palpasi posisi trakea dan adanya subkutan emphysema
5. Auskultasi seluruh area paru dan kaji suara paru normal (vesikular, bronkovesikular, atau bronkial) dan kaji juga adanya bunyi paru patologis (wheezing, cracles atau ronkhi)
6. Kaji adanya keluhan batuk, durasi, frekuensi dan adanya sputum/dahak, cek warna, konsistensi dan jumlahnya dan apakah disertai darah
7. Kaji adanya keluhan SOB (
shortness of breath)/sesak napas, dyspnea dan orthopnea.
8. Inspeksi membran mukosa dan warna kulit

9. Tentukan posisi yang tepat dan nyaman untuk meningkatkan fungsi pernapasan pasien
10. Kaji apakah klien memiliki riwayat merokok (jumlah per hari) dan berapa lama telah merokok
11. Kaji catatan obat terkait dengan sistem pernapasan dan test diagnostik


d. Sistem Pencernaan

1. Inspeksi keadaan umum abdomen : ukuran, kontur, warna kulit dan pola pembuluh vena (venous pattern)
2. Auskultasi abdomen untuk mendengarkan bising usus
3. Palpasi abdomen untuk menentukan : lemah, keras atau distensi, adanya nyeri tekan, adanya massa atau asites
4. Kaji adanya nausea dan vomitus
5. Kaji tipe diet, jumlah, pembatasan diet dan toleransi terhadap diet
6. Kaji adanya perubahan selera makan, dan kemampuan klien untuk menelan
7. Kaji adanya perubahan berat badan
8. Kaji pola eliminasi : BAB dan adanya flatus
9. Inspeksi adanya ileostomy atau kolostomi, yang nantinya dikaitkan dengan fungsi (permanen atau temporal), kondisi stoma dan kulit disekitarnya, dan kesediaan alat
10. Kaji kembali obat dan pengkajian diagnostik yang pasien miliki terkait sistem GI

e. Sistem Perkemihan
1. Kaji kebiasaan pola BAK, output/jumlah urine 24 jam, warna, kekeruhan dan ada/tidaknya sedimen
2. Kaji keluhan gangguan frekuensi BAK, adanya dysuria dan hematuria, serta riwayat infeksi saluran kemih
3. Palpasi adanya distesi bladder (kandung kemih)
4. Inspeksi penggunaan condom catheter, folleys catheter, silikon kateter atau urostomy atau supra pubik kateter
5. Kaji kembali riwayat pengobatan dan pengkajian diagnostik yang terkait dengan sistem perkemihan

f. Sistem Integumen
1. Kaji integritas kulit dan membrane mukosa, turgor, dan keadaan umum kulit (jaundice, kering)
2. Kaji warna kulit, pruritus, kering, odor
3. Kaji adanya luka, bekas operasi/skar, drain, dekubitus, dsb
4. Kaji resiko terjadinya luka tekan dan ulkus
5. Palpasi adanya nyeri, edema, dan penurunan suhu
6. Kaji riwayat pengobatan dan test diagnostik terkait sistem integument

g. Sistem muskuloskeletal

1. Kaji adanya nyeri otot, kram atau spasme
2. Kaji adanya kekakuan sendi dan nyeri sendi
3. Kaji pergerakan ekstremitas tangan dan kaki, ROM (range of motion), kekuatan otot
4. Kaji kemampuan pasien duduk, berjalan, berdiri, cek postur tubuh
5. Kaji adanya tanda-tanda fraktur atau dislokasi
6. Kaji ulang pengobatan dan test diagnostik yang terkait sistem musculoskeletal

i. Sistem Physikososial
1.
Kaji perasaan pasien tentang kondisinya dan penyakitnya
2.
Kaji tingkat kecemasan, mood klien dan tanda depresi
3.
Kaji pemenuhan support sistem
4.
Kaji pola dan gaya hidup klien yang mempengaruhi status kesehatan
5.
Kaji riwayat penyalah gunaan obat, narkoba, alkohol, seksual abuse, emosional dan koping mekanisme
6.
Kaji kebutuhan pembelajaran dan penyuluhan kesehatan

3. Dokumentasi

Semua informasi yang dieproleh dari hasil wawancara dan pemeriksaan fisik harus didokumentasikan dalam catatan pengkajian keperawatan klien. Hal ini nantinya mendukung pencatatan data objektif dan data subjektif, yang mengarahkan diagnsa keperawatan yang akan ditegakkan. Rencana dan tujuan nursing care plan (NCP) yang akan dibuat sesuai format PER (Problem – Etiologi dan Respon) akan berguna untuk perawat, pasien dan tenaga kesehatan lainnya

KUNJUNGI :
KEDAI PERAWAT