Saturday, November 17, 2007

56 menit 16 detik menonton live bedah ceasar (Cesarean Section) heheheheheheh

Asiknya atau Ngerinya Nonton Langsung 56 menit 12 detik Bedah Ceasar (Cesarean Section) Live di Hartford Hospital

Hampir 22% wanita bersalin di Amerika serikat melahirkan dengan bedah ceasar, sejumlah 1,2 juta pembedahan di AS yang umum di tahun 2005. Di Indonesia sendiri angka tersebut lebih mencengangkan dimana hampir 30% di beberapa RS, bahkan ada yang mencapai 80%.

Mungkin masih banyak bumil yang menginginkan persalinan normal dan itu lebih baik. Namun ada pula yang dengan alasan tidak medikal causa (tanpa alasan medis) menghendaki SC. Entah dengan alasan tidak ingin sakit, tetap original, praktis dsb.
Hanya saja :


(Klik gambar) atau link di bawah !!!

SILAHKAN NONTON DULU BEDAH SC LIVE (56 menit 12 detik )
Mungkin menjadi pertimbangan deh,,,




Harus kah selalu SC ???







Monday, October 29, 2007

Uni Eropa Akan Memberlakukan Blue Card Untuk Perawat




Uni Eropa Akan Memberlakukan “Blue Card” Untuk Perawat


BLUE CARD V GREEN CARD

Blue Card

Does not give permanent residency

Valid up to two years, renewable

Allows holders and families to live, work and travel in EU

Applicant must have one-year EU job contract with salary of three times minimum wage

Permanent residency automatic after five years

Green Card

Gives holder permanent residency

Valid for 10 years, renewable

Allows holder to live, work and travel in the US

Five channels to seek a card: employment, family links, a lottery, investment, or resident since before 1972

Holders can become US citizens after five year

27 negara yang tergabung dalam Uni Eropa sedang merancang keluarnya kebijakan baru untuk menarik minat masuknya tenaga migran professional seperti perawat, dokter, insinyur dan IT. Saat ini mereka sedang menggodok ratifikasi kebijakan “blue card (seperti “green card”) yang berlaku di Amerika Serikat. Sehingga nantinya tenaga migran professional tersebut, berhak mendapatkan permanen residen untuk bekerja di negara-negara Uni Eropa.

Kebijakan ini ditempuh guna mengurangi stigma bahwa Uni Eropa tidak ramah terhadap tenaga migran asing professional, dan mengurangi terjadinya brain drain di Eropa. Dengan rencana ini diharapkan dalam 2 dekade mendatang , 20 juta tenaga migran professional termasuk perawat dari Asia, Afrika dan Amerika Latin akan masuk bekerja di sana.

Sementara sebuah riset dari Universitas Stanford memperkirakan hampir ½ pekerja di Silicon Valley, AS adalah tenaga migran asing. Yang menandakan banyaknya tenaga IT, sebagai contoh yang bekerja di Amerika Serikat saat ini. Sementara hanya 0.9% tenaga kerja migran professional di Uni Eropa, bandingkan dengan jumlah di Australia mencapai 9,9%, Kanada 7,3% dan Amerika Serikat 3,9% dari total tenaga kerja.

Blue card ini penting untuk tetap mempertahankan kompetitif tehnologi kesehatan dan industri informatika di Eropa, yang tertinggal dengan perkembangan di AS bahkan Asia seperti Cina dan India. Kebijakan ini diharapkan mengurangi banyaknya tenaga migran Afrika dan Asia yang informal (non skill) yang mencapai angka 85% di negara Uni Eropa saat ini.

Tentu saja menjadi pertanyaan kenapa juga ???

  1. Kebijakan tentang tenaga kerja migran di Eropa selama ini belum seragam dan tidak jelas di setiap negara
  2. Salary yang belum kompetitif disana
  3. Dan belum tercipta permanen residen (seperti green card)
  4. Iklim perkembangan industri IT dan kesehatan yang tidak semaju AS
Hal ini tentu menggembirakan untuk tenaga perawat, dokter dan IT Indonesia baik yang telah dan sedang bermukim dan bekerja di negara Uni Eropa, atau pun merancang bekerja di luar negeri. Sehingga saat ybs telah memiliki Blue Card akan dapat bekerja berpindah di setiap negara yang tergabung dalam EU tsb lebih mudah.

Paling tidak saat ini akan ada peluang untuk perawat Indonesia bekerja di Uni Eropa, sehingga hayalan untuk semakin banyak “menarik keluar” perawat kita untuk berkompetitif semakin besar. Bagaikan sebuah jantung apabila tidak ada sirkulasi pertukaran aliran darah, pasti akan terganggu sistemnya dan menghambat perkembangan keperawatan di Indonesia, semoga …











Monday, October 22, 2007

MELIHAT PEMBEDAHAN SECARA LIVE




Melihat Pembedahan(Operasi Bedah) Secara Live

Kalau kita kebetulan berprofesi sebagai tenaga kesehatan, mungkin kesempatan melihat dan belajar terlibat dalam pembedahan (operasi bedah) dapat diperoleh secara langsung. Namun itupun seandainya kita bekerja di ruang bedah (OT – Operation theatre), atau di gawat darurat.

Sekiranya kita ingin melihat secara langsung hal tersebut, sekarang ini terdapat beberapa website yang memberikan gambaran secara utuh, bahkan hingga terdapat jadual operasinya. Tentu saja hal ini membantu kalangan medis maupun awam untuk dapat melihat secara langsung proses pembedahan.

Meskipun masih menggunakan pengantar berbahasa inggris dan kita mesti mendownload windows media player, tapi sekilas betapa pelayanan kesehatan di Negara Eropa dan AS membuka lebar untuk akses online dalam pelayanan kepada pasien.

Situs layanan seperti www.or-live.com salah satunya membantu kita untuk melihat operasi pembedahan dari bedah major maupun minor. Meskipun dengan pengantar berbahasa inggris, namun penjelasan yang diberikan banyak bermanfaat.

Semoga hal ini memberikan pencerahan kepada banyak tenaga kesehatan di Indonesia untuk semakin menghargai keterbukaan informasi kepada pasiennya. Sebagai bagian dari pembelajaran etika dan ilmu kesehatan di Indonesia.








Sunday, September 02, 2007

Indonesian Forces in South Libanon (UNIFIL) Garuda XXIII A





1000 Indonesian Forces in South Libanon (UNIFIL) Garuda XXIII. Part of 15.000 troops from 20 countries on the job to maintain peacefull in there, Through UN Security Council resolution No. 1701.

Nice Indonesian forces, nice song for them (hmmm boring posting nurses today, just keep on).








Monday, August 20, 2007

NCLEX in Manila News Video







Test NCLEX di Manila, Philipina - Memudahkan Perawat Indonesia untuk langsung mengikuti Test NCLEX. Kalau Perawat Philipina per tahun 15.000 orang yang mengikuti test ini, mudah-mudahan setiap tahunnya Indonesia mencapai 10% nya (1.500) orang-nya. Sekarang mungkin masih di bawah 100 orang, wah sebuah tantangan dan peluang.









Monday, August 13, 2007

CPR / RJP-Resusitasi Jantung Paru pada orang dewasa terbaru dengan 30 kompresi




CPR / RJP-Resusitasi Jantung Paru pada orang dewasa terbaru adalah 30 kompresi pada jantung

CPR (Cardio pulmonary Resucitation)/RJP (Resusitasi Jantung – Paru) adalah hal yang penting diketahui tenaga kesehatan, termasuk perawat dalam menyelamatan pasien kegawat daruratan di RS ataupun di luar RS.

CPR/RJP merupakan tehnik dasar untuk safe and rescue jika terdapat korban yang mengalami henti jantung mendadak (cardiac arrest) atau henti napas (misalnya : near drowning). RJP dilakukan dengan 2 prinsip bantuan napas mulut ke mulut (mouth-to-mouth rescue breathing) dan kompresi jantung (chest compression), sampai pasien respon positif atau bantuan ambulance datang.


Apa yang terjadi saat jantung berhenti berdenyut ??

4 menit pertama jantung gagal memompakan darah terutama ke otak, maka akan mengalami kekurang suplai gula darah (utamanya) dan oksigen – otak mengalami iskemia. Lewat dari itu selama 10 menit akan menyebabkan kematian sel otak yang irreversible.(WAKTU KRITIS)
Apa yang mesti dilakukan saat menemukan korban henti jantung /serangan jantung mendadak ??

1. Lihat sekitar korban ada bahaya, singkirkan dan bawa korban ke tempat yang tenang Hati-hati copet mengintai,,,,
2. Periksa apakah korban atau pasien sadar : dengan panggil pasien misalnya : "Pak bangun pak ??? Baik-baik sajakah ??? sambil sentuh pundak/bahu pasien kalau dia tidak sadar. Kalau yakin pasien mengalami penurunan kesadaran, terus ke 3.
3. Minta bantuan teman atau telepon no darurat 118/112 (di Indonesia banyak banget), kalau Kuwait cukup 777 (pasti ambulance, polisi dan pemadam kebakaran akan datang kompak), atau di Negara lain Amerika Serikat misalnya 911.

Indonesia :
Nomor darurat telpon selular dan satelit : 112
Ambulans : 118 dan 119.
Badan Search and Rescue Nasional : 115.
Polisi 110
Posko bencana alam : 129.
Pemadam Kebakaran : 113 atau 1131.
Keracunan : (021) 4250767 atau (021) 4227875.
Pencegahan bunuh diri : (021)7256526, (021) 7257826, (021) 7221810.

Lantas kita Lakukan Prinsip ABC !!!!
A (Airway) – Jalan napas B (Breathing) – Napasnya C (Circulation) – Denyut nadi

Apa yang dilakukan di A - AIRWAY ???
Periksa jalan napas korban dengan cara :
Membuka mulut korban dengan 2 jari, lihat apakah ada benda asing, lidah yang drop atau darah. Kemudian taruh tangan penolong diatas jidat dan bawah dagu korban dan dongakkan kepalanya, hiperfleksi - (Head tilt chin lift), kalau kita curiga ada fraktur servikal maka pakai model jaw trust. Dan buka jalan napas

Selanjutnya B – BREATHING ???
Cek napas korban selama 10 detik dengan : Look – Feel – Listen (Letakkan pipi penolong di depan mulut korban, sambil rasakan dan lihat ke arah dada pasien apakah naik – turun (ekspansinya ada).
Kalau tidak ada napas – berikan mouth to mouth ventilation dengan cara tutup hidung korban dan berikan napas dua kali dengan jarak antaranya 5 detik, lakukan sampai terlihat rongga dada pasien ekspansi/naik. Ingat posisi pasien masih hiperfleksi (head till chin lift). Setelah itu kita periksa denyut nadi di arteri karotis sebelah kanan – kiri dekat jakun ( 2- 3 jari) selama 10 detik – rasakan.



Setelah itu C – CIRCULATION ???
Kalau ada denyut nadi, korban hanya henti napas maka lanjutkan Pulmonary Recusitation dengan berikan napas mulut ke mulut sampai 1 menit (berarti 12 kali), sampai napas OK (satu siklus).

Kalau denyut nadi tidak ada maka lakukan kompresi jantung (CPR-cardiac pulmonary resucitation) dengan letakkan ujung telapak tangan di kunci dengan telapak tangan yang lain di tulang dada (sternum) bisa sejajar/segaris antara putting payudara atau 3 jari diatas tulang muda di bawah sternum (prosessus xypoid), letakkan kedua bahu anda sejajar dan lakukan kompresi jantung.


Kompresi dilakukan dengan kedalaman 4 – 5 cm dengan 30 kompresi (dulu 15, yang terbaru 30 kompresi). Mau 1 atau 2 penolong semua 30 kompresi per siklus. Ini dilakukan selama 4 siklus (kurang lebih 1 menit menjadi 100 kompresi).

Di Inggris sendiri setelah 30 kompresi tidak dilakukan ventilasi (2 bantuan napas mulut – mulut), sedang di AS tetap , 30 kompresi : 2 Ventilasi.

Setelah 4 siklus tadi, cek kembali denyut nadi karotis sampai bantuan Ambulance datang, atau ada respon pasien, atau pasien terlihat mati biologis – tanda-tanda rigor mortis.


Kenapa meningkatkan Kompresi Dada menjadi 30 x persiklus ???
• Memberikan kesempatan jantung berdenyut lebih cepat, kalau terlalu banyak ventilasi ada fase silence
• Mengurangi ITP (Intra Thoracik Pressure) – Tekanan Dalam Rongga Dada karena ventilasi untuk mencegah regurgitasi /aspirasi
• Sebenarnya dengan mengkompresi jantung, secara tidak langsung memberikan ekspirasi napas

Kalau ada DC shock atau Automated External Defibrillator (AED), bisa diberikan kejut jantung sebanyak 200 joule, namun pada VF/VT. Sedangkan kalau henti jantung pukul saja rongga dada dengan model cardiac thumb.


source :

http://www.mayoclinic.com/health/first-aid-cpr/FA00061
http://depts.washington.edu/learncpr/quickcpr.html









Friday, August 03, 2007

Asian Nurses Anchor The Industry





Asian Nurses Anchor the Industry

Asian Americans are changing the face of nursing significantly in Southern California. About 15 percent of registered nurses in San Diego are Asian or Pacific Islander, compared to 12 percent of the total population.

SAN DIEGO -- The face of nursing is changing significantly in San Diego and elsewhere in Southern California. According to a survey by NurseWeek earlier this year, 15 percent of registered nurses in San Diego are Asian or Pacific Islander, compared to 12 percent of the total population.

At Kaiser, the ratio is double that. Of 1,565 nurses working for Kaiser Permanente in San Diego, a third, or 528, are Asian, according to Kaiser spokesperson Sylvia Wallace. And at UCSD Medical Center, where Crystal Hsaio works, the majority of nurses on her floor are Asian or Pacific Islander.

"When people see an Asian face they feel more comfortable," said nurse Hsiao, a native of Taiwan, adding that having someone available to translate for a patient can be critical. So is awareness of cultural differences. For example, some nationalities believe that washing a mother and baby after birth can be harmful to both by changing the temperature of the body and thereby altering the chi or flow of energy which, in turn, prevents elimination of toxins. Nurses need to know how to deal with a variety of cultural views such as that.

"Even if we are not the same (in nationality), we are more open-minded about cultural differences," Hsaio said. While the nationwide average of Asian Pacific Islander nurses, according to the NurseWeek survey, is still only 4 percent but increasing, Southern California has become a magnet for nurses from Pacific Rim countries.

While less and less Americans are enrolled in nursing, more and more nurses are emigrating or being recruited from countries such as India, Taiwan, China, and even Korea. The largest source, however, remains the Philippines.

Training as a nurse in the Philippines and coming to work in America is a tradition that began in the 1970s and 1980s, according to Ben Macapugay, spokesperson for Paradise Valley Hospital in Southeast San Diego.

Quality of labor and quality of training is another factor. The Philippines is known to produce more nursing graduates and have more nursing schools than any other country in the world – 186 with the combined ability to graduate 20,000 nurses a year, according to Dr. Jaim Z. Galvez-Tan of the University of the Philippines in Manila.

Supply also dictates salary. In the Philippines, a nurse can expect to earn between $150 and $250 a month. In the United States, where demand is greater, salaries range from $3,000 to 4,000 and often come with signing bonuses, according to Galvez-Tan.
Coming from a poor country makes coming to the United States an easy choice to make, especially when many people in the Philippines already have family here.

"People prefer places like San Diego, where they already have relatives," said John Pasamonte, a recruiter for International Nurses Solutions, one of many companies recruiting foreign nurses for U.S hospitals.Patt Mareschal, lead nurse at Fallbrook Hospital's Medical Surgical Unit, who has spent 30 years in the profession, sees an even greater shift.

For one, nurses have to work more effectively with fewer resources, caring for sicker patients for shorter periods of time. Their responsibilities extend well past a patient's general health and often include sociological and psychological issues, such as domestic violence or mental illness, according to Mareschal.In addition, today's nurses are older; the average age is 46. And they are increasingly male – 6 percent nationwide.

Despite the economic advantages, becoming a nurse in the United States isn't all that easy. No matter how well trained, foreign nurses must pass the NCLEX (National Council for Licensure Examination) and must demonstrate a proficiency in English. Still, the number of nurses passing the NCLEX exam rose to 16,490 in 2003, nearly double what it was in 2001, according to NurseWeek. Many believe a large part of that is the level of education supplied by such institutions as UCSD and United Education Institute of San Diego and El Cajon, which offers, among other things, training for medical assistants, pharmacy technicians and dental assistant, in addition to nursing careers.

For a hospital, the attraction of Asian and Pacific Islander nurses is two-fold: one cultural, one economic. "There is no question that cultural diversity is important, said Wallace. "At Kaiser we work hard to provide faces and cultures that reflect the community at large."
Culture aside, there is a critical need for skilled nurses, period.

"The nursing crisis is grave and only growing worse. Nationwide, there are 130,000 nursing vacancies, a deficit that is expected to double in the next five years. By 2012 it will be 1.1 million," said Pasamonte.

Here in this country, nursing school enrollments have dropped 16 percent in the last five years because of other opportunities opening up, according to Mareschal. "There are new avenues for women now. We no longer have to go the teaching, nursing route," she said.

Meanwhile, those trained as nurses don't always stay in the profession. Many leave in their 20s and 30s to raise families or to pursue other careers. Others go on to related careers such as nurse practitioners or physician assistants.

For their part, the nursing schools are working hard to respond to the crisis, but it has not been easy. "We can't get educated students fast enough," said Dottie Crummy, head of the nursing program at Point Loma Nazarene University. "All the nursing programs in the city are filled to more than capacity. This year we took in an extra five students. Last year we took in 10, and we still had to turn away qualified students."

While the vast majority of students in nursing programs are native born, a high percentage are Asian – a sharp change from past years. "The majority of our students were white Anglo-Saxon Protestants," said Crummy. "Now, Filipino/Pacific Islanders are our largest ethnic group, followed by Asians, then Hispanic."Many of the Filipinos, she added, are the children and nieces of the nurses who came here to practice their profession 20 or 30 years ago.

Michelle Capati, a nursing student at Grossmont College is one of them. When asked why she wants to be a nurse, her answer is simple: "My Mom."Capati's mother has been a nurse for more than 20 years, logging 12-hour shifts seven days a week. But she wouldn't have it any other way, her daughter said.

Hard work or the capacity for hard work may be another reason Asians and Pacific Islanders are swelling the nursing ranks."The Philippines is a third world country. People there are used to stress and hardship, Pasamonte said, adding that "Asians are also known for their compassion."
Mareschal agrees: "They work hard and are generous, caring people."

from :
news.newamericamedia.org