Sunday, July 30, 2006

PERAN PERAWAT INDONESIA DALAM PENCEGAHAN PENINGKATAN KASUS HIV/AIDS ; DIPERSIMPANGAN JALAN


PERAN PERAWAT INDONESIA DALAM PENCEGAHAN
PENINGKATAN KASUS HIV/AIDS ;
DI PERSIMPANGAN JALAN


Menurut prediksi Departemen Kesehatan (Depkes), pada 2010 HIV/AIDS di Indonesia akan menjadi epidemi dengan jumlah kasus infeksi HIV bisa mencapai satu juta hingga lima juta orang, sementara akumulatif kasus AIDS pada 2010 (sejak 1987) akan mencapai 80-130 ribu orang, dan diprediksi akan terus menggelembung 1). Indonesia bahkan dewasa ini berada pada fase awal epidemi penyakit AIDS dengan epidemi HIV yang cukup serius. Menurut data Family Health International (FHI), presentase mereka yang memiliki risiko tinggi terjangkit HIV/AIDS di Indonesia antara lain, pengguna narkoba (34 persen), PSK (tujuh persen), pelanggan PSK (31 persen), waria (satu persen), gay (delapan persen), partner group berisiko tinggi (12 persen), dan lain-lain (tujuh persen). Penyakit ini menyebar cepat di kalangan pengguna narkoba dengan suntikan, pekerja seks dan pelanggannya serta melalui kontak heteroseksual seperti halnya di Papua, demikian menurut Direktur Eksekutif UNAIDS Dr Peter Piot 2)

Sebagai contoh di Jawa Barat saja penderita HIV/AIDS sebanyak 7.000-23.262 orang sampai Juli 2006. Namun, jumlah yang tercatat, penderita HIV/AIDS di Jabar hanya 1.735 kasus, menurut Sekretaris Tim Penanggulangan AIDS Perjan Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, dr Rasmia Riwawi SpKK. Jumlah itu terdiri dari 464 penderita AIDS dan 1.289 HIV. ''Estimasi penderita HIV/AIDS memang besar,'' katanya. Baru sedikitnya penderita HIV/AIDS yang tercatat, sambung dia, salah satunya disebabkan penderita belum siap diperiksa.3)

Definisi AIDS dan Sejarah Penyebarannya

AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome. Acquired artinya didapat, jadi bukan merupakan penyakit keturunan, immuno berarti sistem kekebalan tubuh, deficiency artinya kekurangan, sedangkan syndrome adalah kumpulan gejala. AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang merusak sistem kekebalan tubuh, sehingga tubuh mudah diserang penyakit-penyakit lain yang dapat berakibat fatal. Padahal, penyakit-penyakit tersebut misalnya berbagai virus, cacing, jamur protozoa, dan basil tidak menyebabkan gangguan yang berarti pada orang yang sistem kekebalannya normal. Selain penyakit infeksi, penderita AIDS juga mudah terkena kanker sehingga gejala AIDS amat bervariasi.

Virus yang menyebabkan penyakit ini adalah virus HIV (Human Immuno-deficiency Virus). Dewasa ini dikenal juga dua tipe HIV yaitu HIV-1 dan HIV-2. Sebagian besar infeksi disebabkan HIV-1, sedangkan infeksi oleh HIV-2 didapatkan di Afrika Barat. Infeksi HIV-1 memberi gambaran klinis yang hampir sama. Hanya infeksi HIV-1 lebih mudah ditularkan dan masa inkubasi sejak mulai infeksi (masuknya virus ke tubuh) sampai timbulnya penyakit lebih pendek 4)

HIV adalah bagian dari keluarga atau kelompok virus yang disebut lentivirus ditemukan dalam lingkup luas primata non-manusia. Diketahui secara kolektif sebagai virus monyet yang dikenal dengan SIV (Simian Immunodeficiency Virus). Sekarang secara umum diterima bahwa HIV merupakan keturunan dari SIV. Jenis SIV tertentu mirip dengan HIV-1 dan HIV-2, dua tipe HIV. Sebagai contoh, HIV-2 dapat disamakan dengan SIV yang ditemukan pada monyet /sooty mangabey (SIV_sm ), kadang-kadang dikenal sebagai monyet hijau yang berasal dari Afrika barat. 5)

Jenis HIV yang lebih mematikan, yaitu HIV-1, hingga akhir-akhir ini sangat sulit untuk digolongkan. Pada Februari 1999 diumumkan bahwa kelompok peneliti dari University of Alabama - AS, telah meneliti jaringan yang dibekukan dari seekor simpanse dan menemukan jenis virus (SIV_cpz ) yang nyaris sama dengan HIV-1. Simpanse ini berasal dari sub-kelompok simpanse yang disebut /Pan troglodyte troglodyte,/ yang dahulu umum di Afrika tengah-barat. Tim peneliti menegaskan bahwa ini menunjukkan simpanse adalah sumber HIV-1, dan virus ini pada suatu ketika menyeberang dari spesies simpanse ke manusia.

Telah lama diketahui bahwa virus tertentu dapat menyeberang dari hewan kepada manusia, dan proses ini dikenal dengan zoonosis. Peneliti dari University of Alabama mengesankan bahwa HIV dapat menyeberang dari simpanse karena manusia membunuh simpanse dan memakan dagingnya. Beberapa teori lain yang diperdebatkan berpendapat bahwa HIV berpindah secara iatrogenik (diakibatkan kealpaan pihak medis), misalnya melalui percobaan medis. Satu teori yang disebarluaskan secara baik adalah bahwa vaksin polio yang memainkan peranan dalam perpindahan ini, karena vaksin tersebut dibuat dengan menggunakan ginjal monyet. 5)


Pengobatan dan Pencegahan , Pilihan yang dilematis bagi Indonesia


Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan UNAIDS meluncurkan rencana untuk menyediakan obat-obat antiretroviral bagi tiga juta orang di negara-negara berkembang dan mereka yang dalam transisi sebelum tahun 2005. WHO memperkirakan bahwa enam juta orang di negara-negara miskin memerlukan pengobatan antiretroviral (ARV) yang telah dinikmati banyak pengidap AIDS di negara maju, namun kurang dari 300.000 orang yang menerimanya.

Tiga juta orang tewas pada tahun 2003 karena AIDS. Di Asia-Pasifik, menurut WHO, kini satu orang tewas setiap menitnya karena AIDS. Lima juta kasus baru HIV/AIDS tercatat di seluruh dunia tahun ini saja, sebagian besar di Afrika sub-Sahara, walau AIDS dengan cepat menjadi masalah besar di Cina, India, dan Rusia. Di India, di mana diperkirakan empat juta orang telah terinfeksi HIV, pemerintah mengatakan merencanakan untuk menyediakan obat-obat antiretroviral gratis bagi pasien-pasien AIDS-dengan membeli versi generik obat-obat itu dari perusahaan-perusahaan India dengan harga murah. Pada tahun pertama, pemerintah akan membelanjakan 2 miliar rupee (44 juta dollar AS) untuk pengobatan bagi 100.000 pasien di enam negara bagian India yang paling terkena AIDS. 7)

Menurut Ketua Harian Kelompok Studi AIDS Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RSCM Prof dr Zubairi Djoerban SpPD KHOM di sela-sela simposium ”Peningkatan Risiko Penularan HIV/AIDS pada Perempuan”, sejak 2004 pemerintah telah menyediakan obat gratis bagi pasien HIV/AIDS berupa Duviral (kombinasi 3 TC dan AZT) dan Neviral(Nevirapine). Akan tetapi, sekitar 30 persen pasien tidak cocok menggunakan obat tersebut. Ada yang mengalami alergi gatal-gatal terhadap Nevirapine atau menalami anemia karena mengonsumsi Duviral. Untuk pasien seperti ini diperlukan obat antiretroviral linik kedua atau ketiga yang harganya cukup mahal, sekitar Rp 850.000 (Efavirenz) sampai Rp 2,5 juta (Nelvinavir) per bulan, walau sudah generik.

Di Indonesia sendiri obat AIDS sekarang sudah menjadi daftar obat sosial, diproduksi sendiri oleh PT Kimia Farma sejak 8 Desember 2003 dan mendapat perhatian dari pemerintah. Sehingga obat generik AIDS dari India yang semula harganya Rp 850 ribu, sekarang dapat diperoleh dengan harga Rp 385 ribu, bahkan saat ini menjadi Rp 200 ribu harganya setelah mendapat subsidi pemerintah. Demikian menurut Prof Dr dr Samsuridjal Djauzi, SpPD yang menjabat Direktur Utama RS Kanker Dharmais, dia juga ketua Gerakan Nasional meningkatkan Akses Terapi HIV/AIDS (GN-MATHA), yang telah memperjuangkan penanggulangan dan dan penanganan penderita HIV/AIDS, untuk menghasilkan obat murah antiretroviral (ARV) generik bagi pengidap HIV/AIDS di Indonesia.7)

Di kawasan Asia Tengggara, Thailand telah berhasil menahan laju pertumbuhan infeksi baru dan mampu menyediakan terapi AIDS untuk 80 persen penduduk yang memerlukan. Sedangkan Kamboja berhasil meningkatkan cakupan terapi 50 persen dalam 2 tahun. Indonesia juga berhasil meningkatkan cakupan terapi secara nyata dan merupakan salah satu dari tiga negara di kawasan Asia Tenggara yang telah berhasil memproduksi sendiri obat AIDS (antiretroviral).

Dengan melaksanakan program pencegahan dan terapi yang baik, Ditahun 2005 Thailand berhasil menurunkan jumlah infeksi baru HIV yang diperkirakan 140.000 sampai 150.000 setahun, hanya menjadi 17.000. Sejak 1984 sekitar 551.000 orang telah meninggal di Thailand karena AIDS. Namun, program penanggulangan yang efektif di negara ini kemudian juga dapat mencegah 540.000 kematian 8)

Keberhasilan Thailand, Uganda serta beberapa negara lain dalam menekan angka penularan dapat kita tiru. Intinya adalah informasi, hubungan seks yang aman serta mengurangi kemudharatan penggunaan jarum suntik di kalangan penggunaan narkoba. Kita sudah tak punya waktu lagi untuk terus berdebat. Umpama rumah kita sedang terbakar maka kita tak dapat menghabiskan waktu untuk membahas bagaimana memadamkan api, namun semua harus berusaha. Orang tua, kalangan agama, guru, tokoh masyarakat amat berperan dalam meningkatkan daya tahan keluarga terutama remaja dalam mencegah penularan HIV/AIDS. Dua jalur penting penularan yang sekarang ini terjadi adalah penggunaan narkoba dan hubungan seks yang tak aman. Kalangan kesehatan perlu diberi kesempatan untuk melakukan upaya dengan sungguh-sungguh untuk melakukan upaya pencegahan yang telah terbukti bermanfaat. 6)

Pemerintah daerah juga diharapkan dapat meningkatkan kontribusinya pada upaya penanggulangan AIDS. Selain itu, upaya untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna program penanggulangan AIDS harus terus diusahakan. Di beberapa daerah Indonesia prevalensi HIV/AIDS masih rendah. Namun itu tidak berarti bahwa upaya penanggulangan belum perlu dilakukan. Justru pada tingkat prevalensi rendah ini upaya pencegahan akan lebih berhasil.

Biaya yang akan timbul karena tidak melakukan upaya pencegahan (cost of inaction) sesuai dengan pengalaman masa lalu amatlah besar. Karena itulah informasi mengenai cara penularan dan upaya pencegahan sudah harus dilakukan di daerah yang prevalensi HIV/AIDS masih rendah. 8)


Ditetapkan pula strategi pembangunan kesehatan beserta program-program pokoknya. Dalam Program Pembangunan Nasional (PROPENAS) disebutkan bahwa salah satu program pokok pembangunan kesehatan adalah peningkatan perilaku sehat dan pemberdayaan masyarakat, yang karenanya menempatkan promosi kesehatan sebagai salah satu program unggulan. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2004-2009 dan Rencana Strategis (Renstra) Depkes 2005-2009 juga disebutkan bahwa Promosi Kesehatan merupakan program tersendiri dan diposisikan pada urutan pertama. Ini menegaskan bahwa Paradigma Sehat dengan Visi Indonesia Sehat-nya tersebut sangat sesuai dengan Deklarasi Jakarta,

Selanjutnya masing-masing program termasuk Promosi Kesehatan menyusun visi, misi dan program kegiatannya, serta sasaran atau target yang harus dapat terukur. Dalam kaitan itu ditetapkan Visi Promosi kesehatan yaitu : Berkembangnya masyarakat Indonesia baru yang berbudaya sehat. Misinya adalah: (1) Melakukan advokasi kebijakan publik yang berdampak positif pada kesehatan; (2) Mensosialisasikan pesan-pesan kesehatan; (3) Mendorong gerakan-gerakan sehat di masyarakat; 9)

Peran Perawat Dalam Penanggulangan AIDS ; di persimpangan jalan

Sudah puluhan dokter, artis, tokoh masyarakat yang peduli dan mendirikan LSM atau Lembaga pemerintah yang bergerak dalam memerangi pengobatan, penanggulangan dan perawatan pasien AIDS/HIV di Indonesia saat ini; kemana perawat Indonesia ???
Banyak pastinya perawat yang bekerja di semua RS di Indonesia yang saat ini telah berpengalaman dalam menangani pasien AIDS/HIV, namun sudahkah advokasi publik atau masyarakat mengenal mereka ???

Lantas akan semakin berderet pertanyaan guna merefleksikan peran profesi dalam masalah ini, apakah memang tidak ada tokoh perawat yang siap dan berpengalaman dan sanggup dikenal publik dan masyarakat dalam penanggulangan AIDS/HIV, ataukah perawat memang profesi yang masih malu-malu mengakui keprofesiannya ???? Sebuah Autorefleksi

Masyarakat telah mengenal beberapa nama :
  1. Prof dr Zubairi Djoerban SpPD KHOM dengan POKDISUS AIDS-nya http://www.pokdisus-aids.org/
  2. Prof Dr dr Samsuridjal Djauzi, SpPD dengan (GN-MATHA)
  3. Artis : Nurul Arifin http://www.nurularifin.com/ind/
  4. Baby Jim Aditya S yang juga artis http://www.babyjimaditya.com/
Dan banyak ratusan yayasan lainnya yang bergerak di advokasi dan perawatan penderita ODHA, tetapi entahlah mungkin saja ada yang dikelola oleh perawat.


Bergabungnya para dokter, perawat, apoteker serta relawan merupakan wahana untuk saling memahami, menghargai serta meningkatkan kerjasama dalam penanggulangan dan pengobatan AIDS. Kerjasama yang baik ini akan merupakan, modal kuat untuk melayani masyarakat. 10)

Kedekatan perawat dengan para pasien HIV memang menjadi kunci dalam proses kesembuhan pasien. Peran perawat memang dianggap wajar sebagai bagian dari tugas atau pekerjaan yang memang harus dilaksanakan. Nyatanya, menjadi perawat pasien HIV/AIDS tak sekadar menjalankan kewajiban. Frekuensi pertemuan yang rutin diban¬ding para dokter yang membuat perawat berubah menjadi 'perawat plus.' 9)

Jika selama ini peran pendamping atau sukarelawan yang banyak disorot, peran perawat HIV/AIDS pun sudah sepatutnya mendapat perhatian. Rugaiyah atau biasa disapa Ria, 38, adalah salah satu 16 perawat pasien HIV/AIDS Unit Perawatan Intermediate Penyakit Infeksi (UPIPI) RSU Dr Soetomo Surabaya yang menerima piagam penghargaan dari Gubernur Jawa Timur, Imam Oetomo, pekan lalu, ini mungkin tak seban¬ding jika dibandingkan dengan risiko yang harus mereka terima. Risiko tertular membuat banyak perawat segan tatkala ditugaskan di UPIPI. Alih alih ada juga yang rela memilih keluar pekerjaan. "Kalau perawatnya saja takut, bagaimana dengan keluarganya? Tugas kami di awal awal UPIPI berdiri memang berat," kenang Ria. 9)

Untuk itu diperlukan kegiatan yang berkaitan dengan HIV/AIDS difokuskan pada tersusunnya Pedoman Asuhan Keperawatan pasien dengan HIV/AIDS, meningkatnya kemampuan perawatan dalam melayani pasien dengan HIV/AIDS serta makin banyaknya perawat yang terlibat dalam upaya upaya penanganan HIV/AIDS di Indonesia. 12)

Penanganan HIV/AIDS dengan ARV saat ini terdapat beberapa kendala terutama kelemahan pada sistem kesehatan, termasuk kurangnya jumlah tenaga professional kesehatan. Hal ini sering menjadikan alasan rasional untuk mengadakan pelatihan kepada tenaga pekerja kesehatan di masyarakat (Community Health Workers) dalam rangka membantu dalam pemberian ARV dan memonitor kepatuhan (adherence). Disaat yang sama terjadi pertumbuhan jumlah perawat disejumlah negara yang belum diberdayakan untuk meningkatkan access dalam upaya preventive, perawatan (care) dan pengobatan (treatment) AIDS. Kondisi tersebut juga terjadi di Indonesia, dilihat dari pertumbuhan lulusan sekolah perawat cukup tinggi.

Tahun 1997 CDC melaporkan 52 kasus petugas kesehatan lain HIV akibat kecelakaan ditempat kerja, sedangkan 114 orang petugas kesehatan lain diduga terinfeksi ditempat kerja. ICN 2005 melaporkan bahwa estimasi sekitar 19-35 % semua kematian pegawai kesehatan pemerintah di Afrika disebabkan oleh HIV/AIDS. Sedangkan di Indonesia data ini tidak tersedia dengan baik. Namun dari kejadian itu resiko pada perawat paling besar tertular terutama akibat dari terpapar cairan dan tertusuk jarum, sehigga berkembang upaya untuk mencegah terinfeksi pasca paparan HIV termasuk di Indonesia. 13)

Dampak dari HIV/AIDS juga memicu faktor migrasi pekerja kesehatan di sub sahara Afrika, dengan akibat tidak langsung menyebabkan peningkatan beban kerja makin perawat. Di Indonesia belum terjadi migrasi perawat sebagai dampak HIV/AIDS, tetapi yang lebih mengemuka adalah tidak terpenuhinya standar-standar yang harus dilakukan dalam memberikan asuhan keperawatan pasien HIV/AIDS dan masih banyak pula stigma serta diskriminasi pelayanan yang dilakukan oleh perawat terhadap pasien HIV/AIDS di Indonesia. 8)

Pada akhirnya PPNI sangat concerned dengan pertumbuhan jumlah orang yang menderita HIV/AIDS, saat ini estimasui dunia menjadi 16 juta orang serta pada tahun 2020 menjadi 20 juta orang. Terutama sekali PPNI conserned pada bagaimana access terhadap upaya preventive, perawatan dan pengobatan pada pasien HIV/AIDS sesuai dengan standar baik di RS maupun di masyarakat.13)

Untuk itu peran perawat dalam advokasi AIDS lebih akan berdampak ganda (mengurangi resiko infeksi nosokomial AIDS dan meningkatkan peran dalam preventif, promoti dan rehabilitatif) dalam penanggualangan AIDS/HIV, misalnya dengan jalan :
  1. Membuat LSM atau lembaga penelitian AIDS/HIV
  2. Advokasi KIE (komunikasi-informasi dan edukasi) lewat website/internet
  3. Mengadakan pelatihan/seminar publik
  4. Menjaring tokoh perawat Indonesia dalam penanggulangan AIDS/HIV agar masyarakat lebih mengenal keperawatan lebih maju dan modern
  5. Mengoptimalkan pemanfaatan dana hibah/grant lewat bidang keperawatan AIDS/HIV
  6. Membuat SOP Askep AIDS/HIV
Hingga pada akhirnya peran perawat Indonesia dalam penanggulangan, perawatan, pencegahan dan pengobatan AIDS/HIV menuju jalan maju, tidak ragu ke kanan dan ke kiri, terlebih lagi mundur kebelakang.



Nur Martono

http://www.nurmartono.blogspot.com/

http://www.belajarnclexbersama.blogspot.com/

ADVERTISE

DICARI TOKOH PERAWAT
DICARI PERAWAT
DICARI KOMUNITAS NURSING BLOGGER

Untuk bergabung bersama dalam tim manajement mengembangkan website :

www.carehiv-aidsindonesia.com







DAFTAR PUSTAKA
1) http://www.gatra.com/artikel.php?id=95752
2) http://www.cybermq.com/cybermq/detail_topikutama.php?id=114&noid=2
3) http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=256706&kat_id=90
4) http://www.mer-c.org/mc/ina/ikes/ikes_0604_aids.htm Apa yang perlu kita ketahui tentang AIDS, Dr. Edi Patmini SS
5) http://spiritia.or.id/Asalusul.php
6) http://situs.kesrepro.info/pmshivaids/agu/2004/pms02.htm
7) http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=167629&kat_id=85&kat_id1=&kat_id2=
8) http://situs.kesrepro.info/pmshivaids/apr/2006/pms02.htm Penanggulangan AIDS Memasuki Babak Baru, Samsuridjal Djauzi,
9) http://hqweb01.bkkbn.go.id/hqweb/ceria/mbrtpage109.html Cerita Remaja Indonesia - Situs Informasi Kesehatan Seksual dan Masalah Sosial Remaja
10) http://www.pokdisus-aids.org/pel_penata_HIV.htm
11) http://www.bnn.go.id/konten.php?nama=Berita&op=detail_berita&id=233&mn=6&smn=a Alokasi Dana untuk Obat Antiviral
12) http://www.inna-ppni.or.id/index.php?name=News&file=article&sid=66 KEGIATAN WORKSHOP ASOSIASI/PERSATUAN PERAWAT
NEGARA NEGARA YANG MEMPUNYAI PROJEK KERJA SAMA DENGAN CANADIAN NURSES ASSOCIATION (CNA)
13) http://www.inna-ppni.or.id/index.php?name=Forums&file=viewtopic&t=28 HIV dan AIDS, Forum Index, Harif Fadilah

Tuesday, July 04, 2006

"TELENURSING"


TELENURSING (PELAYANAN ASUHAN KEPERAWATAN JARAK JAUH)
ALTERNATIF ASUHAN KEPERAWATAN INDONESIA
MENJELANG INDONESIA SEHAT 2010


Telenursing (Distance Nursing Care Services) : Alternative of Nursing Care Beyond Indonesian Health 2010

Oleh : Nur Martono, SKp

Data UNDP tahun 2001 mencatat bahwa Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Indexs) Di Indonesia masih menempati urutan ke 102 dari 162 negara. Tingkat pendidikan, pendapatan serta kesehatan penduduk Indonesia belum memuaskan.

Peranan keberhasilan pembangunan kesehatan sangat menentukan tercapainya tujuan pembangunan nasional, karena dalam rangka menghadapi makin ketatnya persaingan pada era globalisasi,tenaga kesehatan yang sehat akan menunjang keberhasilan program pelayanan kesehatan dan juga akan mendorong peningkatan produktivitas dan pendapatan penduduk. 1)
Dimana Visi Indonesia Sehat 2010 yang telah dirumuskan oleh Dep.Kes (1999) menyatakan bahwa, gambaran masyarakat Indonesia dimasa depan yang ingin dicapai melalui pembangunan kesehatan adalah masyarakat, bangsa dan negara yang ditandai oleh penduduknya hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku yang sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya diseluruh wilayah Republik Indonesia.

Pengertian sehat meliputi kesehatan jasmani, rohani, serta sosial dan bukan hanya keadaan bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan. Masyarakat Indonesia yang dicita citakan adalah masyarakat Indonesia yang mempunyai kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat sehingga tercapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya, sebagai salah satu unsur dari pembangunan sumber daya manusia Indonesia seutuhnya.2)

Asuhan keperawatan yang merupakan bagian dari pelayanan kesehatan secara integral juga tetap harus mengarahkan visi tersebut dimana pelayanan keperawatan sudah semestinya diarahkan ke aspek preventif dan promotif. Perawat semakin dituntut untuk professional dan mengedepankan perkembangan tehnologi kesehatan, dimana pasien/klien yang membutuhkan asuhan keperawatan dapat berasal dari berbagai kalangan dan dalam “dunia maya” (cybernet), dimana semakin ditandai dengan tingginya pengguna internet di Indonesia, dan semakin banyaknya website di bidang kesehatan.

Hal ini ditandai dengan pertumbuhan lalu lintas internet di Indonesia hingga awal Juni tahun 2006 diperkirakan hanya sekitar 1,57 Gbps, naik 15,4% dibandingkan catatan akhir tahun lalu sebesar 1,3 Gbps. Seiring pula dengan pertumbuhan jumlah penggunanya dan penambahan kapasitas dari saluran internet TV kabel, diperkirakan lalu lintas internet hingga akhir tahun ini akan mendekati 2 GHz atau sekitar 1,9 GHz. Menurut anggota Dewan Penasihat APJII Heru Nugroho, pengguna internet di Indonesia diprediksi mencapai 30 juta orang akhir tahun ini, tumbuh 50% dibandingkan tahun lalu, dipicu oleh berbagai program pengenalan internet ke sekolah. Saat ini jumlah pengguna internet di Indonesia masih berkisar 18 juta sampai 20 juta orang saja dengan pertumbuhan dari tahun lalu sebesar 20%. Jika angka ini terus berlanjut maka diprediksikan di tahun 2010 ada 54 juta pengguna internet di Indonesia, sebuah angka yang fantastis, tidak terkecuali bagi pelayanan kesehatan . 3)

Seiring itu, semakin berkembang istilah telemedicine, telehealth dan telenursing dalam model pelayanan kesehatan yang berbasis informatika kesehatan/informatika kedokteran. Untuk selanjutnya tele nursing/tele keperawatan (pelayanan asuhan keperawatan jarak jauh) akan lebih dipaparkan dalam tulisan ini, dalam upaya meningkatkan peran perawat Indonesia menghadapi Indonesia Sehat 2010 melalui bidang informatika kesehatan.

Ada sebuah ilustrasi betapa telenursing menjadi sebuah pembelajaran yang menarik bagi perawat Indonesia, ada beberapa website Indonesia yang dapat diakses beberapa website/blogsite mencari istilah ini diantaranya :
  1. http://eriktapan.blogspot.comseorang dokter yang mempopulerkan telemedicine di Indonesia dengan motto : Mendokterkan internet dan menginternetkan dokter.
  2. http://www.siswanto.co.nr/ seorang perawat di Kuwait, teman saya yang bekerja di Kuwait dengan blogspotnya tentang dunia keperawatan, termasuk blogspot saya yangbanyak dibantu Siswanto di http://www.nurmartono.blogspot.com/
  3. http://health.groups.yahoo.com/group/indofirstaid/ Sebuah kumpulan anggota yangtertarik dalam bidang gawat darurat dengan 1200 lebih anggota.Dan lebih menarik lagi dimana beberapa mahasiswa keperawatan Indonesia didalam dan di luar negeri telah menambah warna telenursing di bidang keperawatan (menjadi issu penting dalam hal aspek legal), seperti contohnya :
  1. http://indonesiannurse.multiply.com/ seorang mahasiswa keperawatan Indonesia di Kentucky, USA,
  2. http://nusaindah.tripod.com/fikui.htm/ seorang mahasiswa FIK UI yang melink aktivitas mahasiswa FIK-UI dengan blog kesehatan nusaindah yang berisikan beragam informasi dunia kesehatan,
Dan mungkin ratusan website dan blogsite bidang kesehatan lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu.




Apa itu telenursing??

Pelayanan asuhan keperawatan jarak jauh

Definisi :
a.Telenursing (pelayanan asuhan keperawatan jarak jauh) adalah penggunaan tehnologi komunikasi dalam keperawatan untuk memenuhi asuhan keperawatan kepada klien. Yang menggunakan saluran elektromagnetik (gelombang magnetik, radio dan optik) dalam menstransmisikan signal komunikasi suara, data dan video. Atau dapat pula di definisikan sebagai komunikasi jarak jauh, menggunakan transmisi elektrik dan optik, antar manusia dan atau komputer 4)

b.Telenursing (pelayanan asuhan keperawatan jarak jauh) adalah upaya penggunaan tehnologi informasi dalam memberikan pelayanan keperawatan dalam bagian pelayanan kesehatan dimana ada jarak secara fisik yang jauh antara perawat dan pasien, atau antara beberapa perawat. Sebagai bagian dari telehealth, dan beberapa bagian terkait dengan aplikasi bidang medis dan non-medis, seperti telediagnosis, telekonsultasi dan telemonitoring. 5)

c.Telenursing is defined as the practice of nursing over distance using telecommunications technology (National Council of State Boards of Nursing). 6)

d.Telenursing diartikan sebagai pemakaian telekomunikasi untuk memberikan informasi dan pelayanan keperawatan jarak-jauh. Aplikasinya saat ini, menggunakan teknologi satelit untuk menyiarkan konsultasi antara fasilitas-fasilitas kesehatan di dua negara dan memakai peralatan video conference (bagian integral dari telemedicine atau telehealth)7)

•Bagaimana aplikasi dan keuntungan telenursing

Telenursing saat ini semakin berkembang pesat di banyak negara, terkait dengan beberapa faktor seperti mahalnya biaya pelayanan kesehatan, banyak kasus penyakit kronik dan lansia, sulitnya mendapatkan pelayanan kesehatan di daerah terpencil, rural, dan daerah yang penyebaran pelayanan kesehatan belum merata. Dan keuntungannya, telenursing dapat menjadi jalan keluar kurangnya jumlah perawat (terutama di negara maju), mengurangi jarak tempuh, menghemat waktu tempuh menuju pelayanan kesehatan, mengurangi jumlah hari rawat dan jumlah pasien di RS, serta menghambat infeksi nosokomial. 5)

Sama seperti telemedicine yang saat ini berkembang sangat luas yang telah diaplikasikan di Amerika, Yunani, Israel, Jepang, Italia, Denmark , Belanda, Norwegia, Jordania dan India bahkan Malaysia. 7). Telenursing telah lama diaplikasikan di Amerika Serikat, Kanada, Australia dan Inggris. Di Amerika Serikat sendiri ANA (American Nurses Association) dalam dialog nasional telemedicine/telehealth Agustus 1999, telah menganjurkan pengembangan analisa komprehensif penggunaaan telehealth/telemedicine termasuk didalamnya telenursing.

Di Amerika Serikat 36% peningkatan kebutuhan perawat home care dalam 7 tahun mendatang, dapat ditanggulangi oleh telenursing. Sedangkan di Inggris sendiri 15% pasien yang dirawat di rumah (home care) dilaporkan memerlukan tehnologi telekomunikasi, dan sejumlah studi di Eropa memperlihatkan sejumlah besar pasien mendapatkan pelayanan telekomunikasi di rumah dengan telenursing 4). Pasien tirah baring, pasien dengan penyakit kronik seperti COPD/PPOM, DM, gagal jantung kongestif, cacat bawaan, penyakit degeneratif persyarafan (Parkinson, Alzheimer, Amyothropic lateral sclerosis) dll, yang dirawat di rumah dapat berkunjung dan dirawat secara rutin oleh perawat melalui videoconference, internet, videophone, dsb. Atau pasien post op yang memerlukan perawatan luka, ostomi, dan pasien keterbelakangan mental. Yang dalam keadaan normal seorang perawat home care hanya dapat berkunjung maksimal 5 – 7 pasien perhari, maka dengan menggunakan telenursing dapat ditingkatkan menjadi 12 – 16 pasien seharinya 5).

Telenursing dapat mengurangi biaya perawatan, mengurangi hari rawat di RS, peningkatan jumlah cakupan pelayanan keperawatan dalam jumlah yang lebih luas dan merata, dan meningkatkan mutu pelayanan perawatan di rumah (home care). Aplikasi telenursing di Denmark pada perawat yang bekerja di poliklinik (OPD – outpatient) yang mempertahankan kontak dengan pasien melalui telepon, maka jumlah kunjungan ke RS, dan hari rawat berkurang setengahnya. Di Islandia, dengan penduduk yang terpencar, pelayanan asuhan keperawatan berbasis telepon dapat mensuport ibu yang kelelahan dan stress merawat bayinya. Dan beberapa program telenursing dapat membantu mengurangi hipertensi pada ibu bersalin dengan eklamsia. Bahkan di Irlandia utara telenursing untuk perawatan luka diabetik telah menjadi alternatif pelayanan keperawatan untuk pasien penderita diabetik ulcer. 4)

Aplikasi telenursing juga dapat diterapkan dalam model hotline/call centre yang dikelola organisasi keperawatan, untuk melakukan triage pasien, dengan memberikan informasi dan konseling dalam mengatur kunjungan RS dan mengurangi kedatangan pasien di ruang gawat darurat. Telenursing juga dapat digunakan dalam aktifitas penyuluhan kesehatan, telekonsultasi keperawatan, pemeriksaan hasil lab dan uji diagnostik, dan membantu dokter dalam mengimplementasikan protokol penanganan medis.8)

Telenursing melalui telepon triage dan home care merupakan bentuk aplikasi yang berkembang pesat saat ini. Dalam perawatan pasien di rumah, maka perawat dapat memonitor tanda-tanda vital pasien seperti tekanan darah, gula darah, berat badan, peak flow pernapasan pasien melalui internet. Dengan melakukan video conference, pasien dapat berkonsultasi dalam perawatan luka, injeksi insulin dan penatalaksanaan sesak napas.

Pada akhirnya telenursing dapat meningkatkan partisipasi aktif pasien dan keluarga, terutama dalam manajemen pribadi penyakit kronik. Dapat memberikan pelayanan akurat, cepat dan dukungan online, perawatan yang berkelanjutan dan kontak antara perawat dan pasien yang tidak terbatas.

Menurut Britton, Keehner, Still & Walden 1999 ada beberapa keuntungan telenursing adalah yaitu :
  1. Efektif dan efisiensi dari sisi biaya kesehatan, pasien dan keluarga dapat mengurangi kunjungan ke pelayanan kesehatan (dokter praktek, ruang gawat darurat, RS dan nursing home)
  2. Dengan sumber daya minimal dapat meningkatkan cakupan dan jangkauan pelayanan keperawatan tanpa batas geografis
  3. Telenursing dapat mengurangi jumlah kunjungan dan masa hari rawat di RS
  4. Dapat meningkatkan pelayanan untuk pasien kronis, tanpa memerlukan biaya dan meningkatkan pemanfaatan tehnologi
  5. Dapat dimanfaatkan dalam bidang pendidikan keperawatan (model distance learning) dan perkembangan riset keperawatan berbasis informatika kesehatan. Telenursing dapat pula digunakan dalam pembelajaran di kampus, video conference, pembelajaran online dan multimedia distance learning. Ketrampilan klinik keperawatan dapat dipelajari dan dipraktekkan melalui model simulasi lewat secara interaktif.

Dalam model pendidikan di Indonesia telenursing telah dikembangkan Universitas Gajah Mada (UGM) lewat e-learning/model e-lisa yang terintegrasi di semua fakultas UGM. Seperti untuk perawatan luka bisa dilihat di e-lisa UGM studi dengan terlebih dahulu menjadi anggota. http://elisa.ugm.ac.id/comm_view.php?Kebutuhan_Dasar_Man. Atau juga model pembelajaran keperawatan yang dikembangkan fakultas keperawatan UPN Veteran Jakarta http://www.belajarkeperawatan.com/ , yang saat ini justru banyak berkembang di institusi pendidikan keperawatan swasta di Indonesia. Hal ini mungkin saja terintegrasi dengan fakultas kedokteran atau kesehatan di universitas yang bersangkutan seperti di PSIK UMY Jogjakarta. http://els.fk.umy.ac.id/

Selain itu telenursing dapat memberikan kesempatan kepada perawat yang berpengalaman klinik namun telah pensiun/ tidak lagi bekerja di pelayanan kesehatan, namun masih dapat memberikan asuhan keperawatan secara online. Hal ini juga menghindari kontak langsung, meminimalkan resiko infeksi nosokomial, memberikan privasi ruang dan waktu bagi pasien dan perawat. Dapat dibayangkan bagi penderita HIV/AIDS, atau pasien pengguna narkotika/obat terlarang /alkoholik akan lebih merasa terjaga privasinya dengan pelayanan telenursing ini .

Penggunaan tehnologi dalam telenursing juga dapat menjadi dasar database data keperawatan, yang terintegrasi dalam sistem informasi kesehatan/kedokteran. Dalam praktek sehari-hari penerapan Informatika Kedokteran bisa dilihat seperti:
1.Proses pengolahan data
Data adalah tulang punggung proses informatika selanjutnya. Dalam bidang ini dipelajari bagaimana memperoleh dan mengeluarkan data, merawat data, dll. Kesemuanya dibutuhkan agar pengambilan keputusan manusia bisa dipercepat.
2.Telekomunikasi
Masuk dalam bidang ini adalah teleconsultation, teleradiologi, telekardiologi, telenursing dan tele yang lainnya
3.Medical Imaging
Yang masuk dalam area ini seperti: ultrasound, radiologi, kedokteran nuklir, dll
4.Sistem Informasi
Terdapat dua pembagian besar sistem informasi yaitu yang berfokus pada pasien dan yang berfokus pada keperawatan
5.Web dan internet
Perkembangan dunia telekomunikasi begitu cepat. Saat ini aplikasi yang berbasis web sudah mulai digemari karena lebih mudah digunakan dari manapun dan kapan saja. Sebaliknya, sifat website pun sudah mulai berubah. Jika dahulu hanya bersifat satu arah (broadcast),misalnya menginformasikan jam praktek dokter, artikel kesehatan, dll.
Kemudian berkembang menjadi bersifat interaktif (dua arah), seperti: tanya jawab, dll. Akhir-akhir ini, aktivitas di website bisa dijadikan sebagai salah satu alat untuk proses bisnis, seperti: proses pendaftaran pasien, melihat rekam medik dll.
9)(Dr. Erik Tapan MHA)


Seputar Isu aspek legal, peraturan, etik dan kerahasiaan/privasi pasien dalam kaitan telenursing dan Informasi kesehatan

Telenursing akan berkaitan dengan isu aspek legal, peraturan, etik dan kerahasiaan pasien sama seperti telehealth secara keseluruhan. Dibanyak negara, dan di beberapa negara bagian di Amerika Serikat khususnya praktek telenursing dilarang (perawat yang online sebagai koordinator harus memiliki lisensi di setiap resindesi negara bagian dan pasien yang menerima telecare harus bersifat lokal) guna menghindari malpraktek perawat antar negara bagian. Isu legal aspek seperti akontabilitas dan malprakatek, dsb dalam kaitan telenursing masih dalam perdebatan dan sulit pemecahannya. 8)

Dalam memberikan asuhan keperawatan secara jarak jauh maka diperlukan kebijakan umum kesehatan (terintegrasi) yang mengatur praktek, SOP/standar operasi prosedur, etik dan profesionalisme, keamanan, kerahasiaan pasien dan jaminan informasi yang diberikan. Kegiatan telenursing mesti terintegrasi dengan startegi dan kebijakan pengembangan praktek keperawatan, penyediaan pelayanan asuhan keperawatan, dan sistem pendidikan dan pelatihan keperawatan yang menggunakan model informasi kesehatan/berbasis internet . 4)

Perawat memiliki komitmen menyeluruh tentang perlunya mempertahankan privasi dan kerahasiaan pasien sesuai kode etik keperawatan. Beberapa hal terkait dengan isu ini, yang secara fundamental mesti dilakukan dalam penerapan tehnologi dalam bidang kesehatan dalam merawat pasien adalah :
•Jaminan kerahasiaan dan jaminan pelayanan dari informasi kesehatan yang diberikan harus tetap terjaga
•Pasien yang mendapatkan intervensi melalui telehealth harus diinformasikan potensial resiko (seperti keterbatasan jaminan kerahasiaan informasi, melalui internet atau telepon) dan keuntungannya
•Diseminasi data pasien seperti identifikasi pasien (suara, gambar) dapat dikontrol dengan membuat informed consent (pernyataan persetujuan) lewat email
•Individu yang menyalahgunakan kerahasiaan, keamanan dan peraturan dan penyalah gunaan informasi dapat dikenakan hukuman/legal aspek. 10)

Di Amerika Serikat khususnya telah ada 29 negara bagian yang membuat UU tentang ketentuan, etik dan peraturan telehealth termasuk telenursing yang terlingkup dalam telehealth legislation 1997 yang berdasar The Telecommunications Reform Act of 1996 charged, dan ada 53 UU yang sedang dibahas di Amerika ditahun tersebut. 11)

Dengan melihat potensi dan perkembangan pelayanan keperawatan, sistem informasi kesehatan dan penggunaan internet di Indonesia, bukan tidak mungkin hal ini mendasari telenursing berkembang di Indonesia (dalam berbagai bentuk aplikasi tehnik komunikasi) dan beragam tujuan. Hal ini tidak lain agar pelayanan asuhan keperawatan dan perkembangan ilmu, riset dan pendidikan keperawatan di Indonesia dapat sejajar minimal dengan perkembangan tehnologi kesehatan, dan kedokteran di Indonesia, menjelang Indonesia Sehat 2010.

MENGINTERNETKAN PERAWAT
DAN MERAWAT INTERNET



Penulis, Staf Nurse Al Amiri Hospital
Ministry of Health Kuwait

Sumber pustaka :
1)http://www.promosikesehatan.com/
2).http://www.hakli.or.id/.
3)http://cybertech.cbn.net.id/
4)http://www.icn.ch/
5)http://en.wikipedia.org
6)http://www.allhealthnet.com
7) (idionline/NeT) Telemedicine: Sarana Supervisi dan Konsultasi Kesehatan Jantung Jarak-Jauh.
8) http://www.ana.org/
9)(Dr. Erik Tapan MHA) Cermin Dunia Kedokteran No. 144, Pengantar Informatika Kedokteran
10) Telenursing: Nursing Practice in Cyberspace. By Charles C Sharpe 2000 - 280 pg
11) http://www.nursingworld.org/

Tuesday, June 27, 2006

KIAT-KIAT DAN PENGETAHUAN TAMBAHAN UNTUK PERAWAT INDONESIA YANG INGIN BEKERJA DILUAR NEGERI


Oleh Nur Martono, SKp
Staf Nurse Al Amiri Hospital, Kuwait


Untuk perawat Indonesia yang saat ini tertarik ingin bekerja diluar negeri terutama di negara-negara Eropa, Amerika, Australia, Timur tengah dan juga Asia, maka diperlukan kiat-kiat dan pengetahuan tambahan. Meskipun saat ini banyak lembaga baik Agency/PJTKI, Pusgunakes (Pusat Pendayagunaan Tenaga Kesehatan) Depkes RI www.tenaga-kesehatan.or.id bahkan juga lembaga pendidikan (AKPER, STIKES dan FIK/PSIK), yang mulai mengarahkan pendayagunaan dan penempatan lulusannya untuk bekerja diluar negeri. Namun kesemuanya sangat tergantung kepada kesiapan individu perawat yang bersangkutan.

Ada beberapa pengetahuan dan tips yang perlu diketahui dan mungkin saja tidak diperoleh saat perkuliahan meliputi :
1.Cara mencari peluang/lowongan kerja di luar negeri
2.Test tulis keperawatan (NCLEX-RN dan CGFNS test)
3.Test bahasa Inggris (TOEFL, IELTS dan TOEIC)
4.Pengurusan passport,visa dan persiapan keberangkatan
5.Standart gaji/salary, biaya hidup/living cost, properti, dan masalah pendidikan.
6.Kesiapan fisik, mental, adaptasi sosio-kultural dan waktu proses/ tunggu keberangkatan.

Kesemuanya dapat dipelajari sejak masa kuliah, sehingga menginspirasi teman-teman perawat Indonesia untuk mencoba membuka cakrawala baru dalam dunia keperawatan. Terutama bagi mereka yang telah menyelesaikan pendidikan keperawatan, dari AKPER ataupun S1 Keperawatan dan diharapkan telah memiliki pengalaman bekerja minimal 2 (dua) tahun di RS/klinik. Ini semua dapat menjadi alternatif solusi sulitnya mendapatkan kesempatan berkarir sebagai perawat di Indonesia, ada baiknya mencoba untuk dapat bekerja di pelayanan klinik di RS/klinik diluar negeri .

Ada beberapa kelebihan dan peluang bagi perawat Indonesia yang berminat bekerja diluar negeri. Saat ini sebenarnya sangat banyak sekali permintaan perawat untuk bekerja diluar (job order), hanya saja permintaan tersebut belum dapat dimaksimalkan oleh perawat Indonesia. Banyak pula sebetulnya kesempatan dan keunggulan yang diperoleh bagi perawat Indonesia jika dapat bekerja diluar negeri dengan kemungkinan dapat meningkatkan pengetahuan meliputi konseptual skill, tehnikal skill dan managerial skill dalam bidang keperawatan sesuai standar internasional, peningkatan kemampuan berbahasa inggris sebagai bahasa internasional, peluang belajar/melanjutkan pendidikan diluar negeri dan peningkatan kesejahteraan perawat itu sendiri.

Namun itu semua terpulang kembali kepada motivasi dan keinginan individu perawat itu sendiri, dimana trendnya memang banyak perawat Indonesia yang saat ini banyak bekerja diluar negeri adalah mereka yang berada di usia early middle age (25 – 30 tahun) dan middle age (30 – 40 tahun). Hal ini dengan asumsi pada usia early middle age adalah perawat yang baru saja lulus pendidikan AKPER/S1 yang tentu saja mereka adalah pencari kerja dan memutuskan bekerja diluar negeri dengan motivasi pengalaman dan gaji yang lebih besar daripada bekerja di Indonesia dan perawat yang berada di middle age adalah yang selama ini tidak puas dengan kondisi bekerjanya di Indonesia dengan motivasi yang hampir sama. Kedua kelompok perawat pada usia tersebut adalah usia produktif, yang tentu saja perlu dibekali dengan pengetahuan tambahan agar dapat memotivasi dan mempermudah mereka dapat bekerja diluar negeri.

Hanya saja memang mestinya ada target-target angka dari lembaga/pengelola penempatan perawat atau PPNI sebagai organisasi profesi, misalnya dapat menjadikan hal ini dalam program yang terintegrasi. Sehingga banyaknya lulusan D3/S1 yang belum bekerja saat ini dapat dijembatani dengan Program Penempatan Perawat Indonesia diluar negeri yang terintegrasi dalam model konsursium nasional . Saat ini ada sekitar 250.000 perawat Indonesia, seandainya kita mematok target di tahun 2010 katakan saja 10%-nya bekerja diluar negeri, maka ada 25.000 perawat (saat ini baru 5.000) perawat Indonesia yang bekerja diluar negeri. Angka tersebut masih kecil sekali, jika dibandingkan 40% total perawat India dan Philipina yang bekerja di luar negaranya, dimana mereka memang terinspirasi sejak di perkuliahan.

Berikut ini merupakan informasi tambahan untuk teman-teman perawat yang berminat dan ingin mencoba untuk dapat bekerja di luar negeri :

1.Cara mencari peluang/lowongan kerja di luar negeri

•Mencari peluang penempatan melalui agency atau PJTKI di Indonesia yang selama ini telah menempatkan perawat diluar negeri seperti : PT.Binawan Inti Utama, PT Amri, dsb
•Menghubungi kedubes atau lembaga asing : British Council, AUSAID
•Aktif aplikasi on-line melalui internet, www.gunamandiri.com, www.allnurses.com, www.perawat.blogspot.com, www.indonurse.blogspot.com,
•Mencari sponsor langsung bersifat individu, LSM atau kelembagaan
•Melalui pendidikan/sekolah di luar negeri

2.Test tulis keperawatan (NCLEX-RN Test dan CGFNS)

Untuk dapat mempersiapkan diri dalam test tulis keperawatan, maka secara Internasional semua negara mengadopsi model NCLEX-RN (The National Council Licensure Examination for Registered Nurses) dan CGFNS (The Commission on Graduates of Foreign Nursing Schools), yang tentu saja perlu dipelajari oleh perawat Indonesia.

Test NCLEX-RN dan CGFNS ini terdiri dari rangkaian pertanyaan simultan dalam konsep keperawatan yang terdiri dari 5 tahapan proses keperawatan (Pengkajian-Analisa-Perencanaan-Inplementasi-Evaluasi) dan 4 konsep katagori kebutuhan manusia (Safe effective care environtment – Health promotion and maintenance – Psychosocial integrity – Physiological Integrity).

NCLEX-RN test adalah test dasar entry-level untuk praktek keperawatan di 50 negara bagian USA, yang saat ini banyak diadopsi negara lain. Banyak buku-buku tentang NCLEX seperti karangan Kaplan, Saunders, Mosby, dsb. Atau kunjungi website www.nclex.com, www.nclex-rn.blogspot.com, www.kaptest.com, BELAJAR NCLEX dsb. Secara umum test ini menggunakan computer dengan model CAT (Computer Adaptive Test) dengan jumlah total pertanyaan 75 – 265 pertanyaan berupa multiple choice, dengan waktu test maksimal 5 jam. Apabila anda dapat memenuhi mimimal kompetensi dan passing grade maka dalam batas minimal 75 soal anda bisa dinyatakan lulus/tidak dan computer tersebut akan memberikan penilaian langsung, atau dengan maksimal 265 soal/maksimal 5 jam waktu test. Apabila anda berminat test NCLEX hanya dapat dilaksanakan di Hongkong(untuk kawasan Asia) atau langsung di USA. Jadual test ini bersifat individu sesuai dengan hasil aplikasi masing-masing (tidak terjadual).

Semua negara bagian di USA mensyaratkan test NCLEX-RN dan untuk lulusan S1 Keperawatan (BSN) dapat langsung untuk dapat menempuh test ini, sedangkan mereka yang lulusan AKPER/D3 Keperawatan mereka harus menempuh CGFNS test terlebih dahulu, untuk dapat bekerja di USA. Untuk negara-negara di Timur tengah mereka hanya mengadopsi soal-soal test keperawatan dari buku-buku NCLEX saja, dan tidak menggunakan test dengan model CAT/computer.

Test CGFNS dapat diaplikasi melalui www.cgfns.or , www.cgfns-info.blogspot.com untuk kawasan asia test ini dapat dilaksanakan di Jakarta (kode 192), Bangkok, Manila dan Hongkong. Test ini terjadual dan berlangsung 3 (tiga) kali setahun untuk 2 tahun terakhir (Desember 2005, Mei dan Agustus 2006, Januari, Mei dan September 2007). Secara umum untuk negara lain diluar USA tidak mensyaratkan test ini, dan setiap lulusan D3/AKPER perlu lulus test CGFNS sebelum menempuh NCLEX-RN test (tidak semua negara bagian).
.
3.Test bahasa Inggris (TOEFL, IELTS dan TOEIC)

Setiap negara memiliki ketentuan dan requirement yang berbeda-beda tentang passing grade kemampuan bahasa Inggris perawat yang dibutuhkannya. Untuk negara-negara di Timur Tengah dan Asia, mereka tidak memerlukan passing grade hanya saja diharapkan kandidat perawat memiliki kemapuan TOEFL minimal diatas 400. Untuk negara-negara di Eropa, Amerika dan Australia diharapkan dapat minimal score TOEFL 540, TOEIC 725 dan IELTS 6.5.

4.Pengurusan passport,visa dan keberangkatan

Ada baiknya setelah lulus proses seleksi lebih baik menggunakan agency/PJTKI yang memang telah berpengalaman untuk negara tujuan. Yang terpenting adalah mesti mensiapkan dokumen dan biaya, dan memiliki informasi karena setiap agency/PJTKI memiliki link/pengalalaman yang berbeda-beda, karena Agency “A” bisa masuk ke negara USA, tetapi mungkin tidak punya link ke timur tengah, atau sebaliknya. Sehingga jangan sampai kita salah memilih agency/PJTKI yang mestinya akan membantu kita.


5.Standart gaji/salary dan biaya hidup/living cost.

Perlu dipertimbangkan jangan hanya melihat besaran salary (rata2 U$ 1.000 – U$ 5.000/month), pertimbangkan juga apakah negara tempat bekerja memberlakukan tax (berapa prosentasenya), biaya hidup minimal/living cost meliputi flat/apartemen (biaya terbesar), makan dan trasportasi dan kebutuhan komunikasi dan telekomunikasi.

Pertimbangkan juga kondisi negara tujuan menjebak kita menjadi lebih berpikir bekerja diluar negeri sebagai “asset” atau malahan menjadi “liabilitas” semata.

Usahakan mendapat informasi tentang berapa salary/hour, sistem pajak/tax, biaya flat dan living costnya. Seperti kelebihan bekerja di negara-negara Timur tengah adalah free tax dan umumnya disediakan akomodasi (flat, makan dan antar jemput, serta tiket bahkan pendidikan untuk keluarga). Untuk negara-negara di Amerika, Eropa dan Australia living cost, flat dan transportasi sebaiknya diperhitungkan dengan matang. Pertimbangkan juga kesempatan untuk dapat meningkatkan jenjang pendidikan keperawatan sehingga proses pendidikan berkelanjutan (long life education) tetap berlanjut, dan mungkin saja kita bisa mendapatkan uang, pengalaman dan gelar sampai Master of Nursing di luar negeri.

6.Kesiapan fisik, mental, adaptasi sosio-kultural dan waktu tunggu/waktu keberangkatan.

Setelah perawat dinyatakan lulus seleksi, maka ada faktor penting yang perlu dipertimbangkan melalui kesiapan fisik (lulus medical test) minimal Chest - XR (bebas TB), HCV/Hepatitis C negatif dan HIV/AIDS negatif. Kesiapan mental meliputi informasi awal tentang masing-masing keadaan sosio-kultural negara tujuan adalah penting, namun secara umum kondisi bekerja diluar negeri sangat berbeda dengan saat kita bekerja di Indonesia. Rata-rata jam kerja hampir sama 40 – 48 jam kerja/minggu, namun tuntutan pelayanan kesehatan yang professional, cepat dan akurat menuntut kita lebih disiplin dan “kerja keras”.

Perlu juga disiapkan contact person sebagai teman untuk membantu kita, terutama di negara yang bersangkutan yang lebih dulu bekerja dan memahami keadaan lingkungan sekitar tersebut. Dan culture shock, kendala bahasa, konflik di tempat kerja, isolasi antar negara, dan perasaan jauh dari keluarga dan teman adalah hal yang pasti akan dialami, tinggal bagaimana kita mensiasatinya kearah konstruktif.

Waktu tunggu saat mengikuti pelatihan hingga keberangkatan rata-rata 2 -5 tahun, sehingga saat memutuskan untuk bekerja diluar negeri tidak lantas berpikir cepat untuk berangkat. Ada baiknya selama proses pelatihan – pemberangkatan, diharapkan sambil tetap bekerja di Indonesia dengan asumsi tetap mendapatkan pengalaman dan ada penghasilan selama mengikuti proses ini.

Dengan tetap berpikir positif, yakin dan percaya bahwa pilihan bekerja diluar negeri sebagai “exit plan” adalah sebuah solusi semakin tingginya jumlah perawat kita yang tidak bekerja. Diluar perlu adanya antisipasi pasca kontrak kerja berakhir, dan adanya kemungkinan “brain drain”, dimana semakin banyak tenaga professional perawat berpindah dari Indonesia ke luar negeri. Tetapi 2 sisi peningkatan kesejahteraan dan peningkatan jenjang pendidikan perawat adalah kunci dari semua permasalahan yang ada pada perawat Indonesia.

Keep Spirit On

Monday, June 26, 2006

"Liver Abcess Disease"


Basic Theory Liver Abcess

Two category : Amebic and pyogenic. Amebic liver abcess (commonly because Entamoeba histolytica), common cause on tropic or developing country.

Pathopysiology
Whenever an infection develops anywhere along the biliary of GI tract, infecting organism may reach the liver through the biliary system, portal venous system, or hepatic arterial or lymphatic system. The bacterial toxins destroy the neighboring liver cells, and resulting necrotic tissue serves as a protective wall for the organism.

Meanwhile, leucocytes migrate into infected area. Make abcess cavity full of a liquid, dead leucocytes and liver cell and bacteria. Pyogenic abcess of this type may be single, multiple and small. Examples of causes of pyogenic liver abcess include cholangitis and abdominal trauma.

Clinical manifestation
Fever with chills and diaphoresis, malaise, anorexia, nausea, vomiting, and weight loss may occur. Complaint dull abdominal pain and tenderness in the right upper quadrant abdomen. Hepatomegaly, jaundice, anemia, pleural effusion may develop. Sepsis and shock may be severe and life threatening.

Assessment and diagnostic finding
Blood culture are obtained but may not identify the organism. Aspiration of liver abcess guided US or CT scan, may be performed to assist in diagnosis and to obtain cultures of the organism. Percutaneous drainage of pyogenic abcess is carried out to evacuate abcess material and promote healing, with a catheter may be left in place for continues drainage.

Medical Management
Antibiotic iv therapy, the specific antibiotic use in treatment depends on the organism identified. Open surgical drainage may be required if antibiotic therapy and percutaneous drainage are ineffective.

NURSING CARE PLAN

Nursing Diagnoses :
1. Abdominal pain; discomfort R/T inserted liver drainage, process of diseases
2. Increased body temperature : hyperthermia, fever R/T infectious, presented abcess
3. Altered nutrition : less than body requirements R/T nausea, vomit, inadequate intake
4. Risk impaired skin integrity R/T inserted liver drainage tube
5. Potential Infectious large; septic R/T Inaddequate therapy, weakness
6. Anxiety R/T knowledge deficit about diseases and management therapy

Nursing objective :
1. Reduce pain : able torest, no complaint of pain and discomfort
2. Reduce fever : T normal
3 Provide adequate nutrition : adequate body weight, no vomit, Albumin normal
4. No inflammation on drainage area, sign of redness, adequate fixations
5. Healing of infectious, no signs septic, reduce : abcess drainage
6. No anxiety, ptn able to understands medication, management therapy and follow up treatment

Nursing Intervention
1. Abdominal pain; discomfort R/T inserted liver drainage, process of diseases
A. Asses and checked signs and complaint of pain
B. Suggested deeph breathing exercise and distraction technique
C. Apply compress on pain area
D. Suggest patients to take little food but frequent
E. Administered soft diet, low residu, and hepatic diet
C. Administered pain killer, analgesic as order
F. Administered antacid, zantac as order

2. Increased body temperature : hyperthermia, fever R/T infectious, presented abcess
A. Observed vital signs, monitor Temperature
B. Apply cold compress on axilla if fever
C. Administered antipiretic : panadol as order
D. Suggested increase oral intake
E. Administered IVF as order
F. Apply thick cloth or thick blanket
G. Sent all c/s screening as order

3.Altered nutrition : less than body requirements R/T nausea, vomit, inadequate intake, loss appetite
A. Asses frequent, appetite, type of diet or eating patient
B Assist ptn and encourage him to take food
C. Suggested ptn take diet frequently, little amount
D. Observed signs of vomit, nausea
F. Administered IVF as order
G. Measure body weight
H. Monitor lab : albumin, cholesterol
I. Administered anti emetic as order

4. Risk impaired skin integrity R/T inserted liver drainage tube
A. Observed patent of liver drainage
B. Observed signs redness, warm, or drainage condition on area of liver drainage
C. Do dressing with sterile technique daily with betadine and NS
D. Suggested ptn carefully during handling the liver tube, dont put bag more higher than abdomen area, do clamp as necessary
E. Daily changed clothe and linen
F. Suggested ptn not to removed or touch drain area

5. Potential Infectious large; septic R/T Inaddequate therapy, weakness
A. Observed and monitor output and condition of liver abcess drainage
B. Sent all diagnostic blood : CBC, ESR, blood c/s, liver abcess c/s, gram strain, differential etc
C. Administered antibiotic as order
D. Suggested ptn to follow up therapy
E. Informed diagnostic procedure ; U/S, blood report and drainage condition
F. Encourage high calorie high protein diet

6. Anxiety R/T knowledge deficit about diseases and management therapy
A. Assess patient knowledge about cause, prognosis, medication and treatment of diseases
B. Checked and assess signs of anxiety, un able to sleep
C. Explain about patient condition, cause, prognosis, management and supportive therapy
D. Suggested ptn to avoid alcohol drugs induced hepatotoksid
E. Explain that drainage will be d/c after less puss or drain and only temporary
F. To take all antibiotic as order
G. To prevent eat, drink from good source

Sunday, June 25, 2006

"Distance Learning"


Distance Learning Program Bachelor Science in Nursing For Diploma of Nurses graduation from Indonesia which worked in overseas

by : Nur Martono, SKp
Staf Nurse Ward 7 Al Amiri Hospital Kuwait
Ministry of Health Kuwait


Pendidikan keperawatan program Sarjana Keperawatan dimulai di Indonesia pertama kalinya dengan berdirinya Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK) di tahun 1985, yang waktu itu masih tergabung dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Seiring dengan perkembangan berbagai Fakultas di UI, di tahun 1995 maka secara resmi Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK) di UI terbentuk.

Saat ini menurut data terakhir Direktorat Pendidikan Tinggi (DIKTI) Depdiknas RI telah ada 12 Universitas Negeri yang menyelenggarakan program pendidikan Sarjana keperawatan dan ners, baik yang telah menjadi fakultas dan atau masih program studi di Universitas negeri dan 14 program studi di Sekolah Tinggi Kesehatan (STIKES) swasta di Indonesia yang menyelenggarakan program yang sama.

Sejalan dengan itu, di era tahun 2000 semakin banyak perawat Indonesia yang bekerja di luar negeri dengan semakin banyaknya peluang penempatan (job order) untuk perawat Indonesia untuk semua jenjang pendidikan. Namun jumlah tersebut masih sebagian besar diisi oleh lulusan perawat setingkat D3 yang ada di Indonesia. Dibandingkan dengan negara-negara lainnya sebagai kompetitor penyedia tenaga perawat seperti India dan Philipina yang hampir 40% tenaga keperawatannya bekerja di luar negaranya adalah lulusan S1 (BSN).

Upaya untuk meningkatkan jenjang pendidikan perawat Indonesia adalah mutlak menjadi hak setiap individu perawat tersebut, kapanpun dan dimanapun saat ini si individu tersebut berada. Tentu saja hal ini juga menjadi hak bagi perawat Indonesia yang saat ini berada dan sedang bekerja di luarnegeri yang hampir 5000 perawat Indonesia saat ini bekerja di luarnegeri di berbagai pelayanan kesehatan baik di RS maupun di klinik.

Di setiap negara tentu saja kesempatan untuk perawat Indonesia untuk melanjutkan pendidikan sangat beragam tergantung dari sistem pemerintahan dan kesempatan pendidikan di negara yang bersangkutan. Untuk beberapa negara di belahan benua Amerika, Amerika dan Australia khususnya kesempatan untuk itu lebih besar, meskipun dengan biaya yang mahal. Pendidikan untuk BSN baik program full time/part time atau distance learning model membutuhkan biaya rata-rata tuition fee persemester adalah U$ 5.000. Hal tersebut tidak dirasakan untuk sebagian besar perawat Indonesia yang bekerja di Timur Tengah, seperti di Kuwait, Arab Saudi, UEA, Qatar dan Bahrain yang hampir berjumlah 3000 orang. Hal ini lebih dikarenakan sistem pemerintahan dan sistem pendidikan yang berbeda, sehingga kesempatan pendidikan tersebut terbatas. Namun saat ini sebagian dari mereka telah ada pula yang mengikuti pendidikan distance learning untuk BSN dengan beberapa Universitas di Australia.

Untuk itu sudah selayaknya pula pengelola pendidikan keperawatan di Indonesia khususnya untuk Sarjana Keperawatan dapat memikirkan dan mengembangkan program kuliah jarak jauh dengan tetap mengikuti sistem pendidikan di Indonesia. Terlebih lagi Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK – UI) yang memang saat ini UI sendiri telah merencanakan Go Internasional.

Sudah selayaknya penyelenggara pendidikan keperawatan dapat mengeksport model pendidikannya minimal untuk warga negara Indonesia di luar negeri, tanpa harus ikut-ikutan trend dan latah mengimport twinning program yang notabene mengimport model pendidikan terkecuali untuk pengembangan keilmuan dan penempatan lulusan di luar negeri.


Konsep Dasar Pendidikan Jarak Jauh

Secara konseptual perbedaan sistem pendidikan konvensional (yang mengandalkan bentuk tatap muka) dan pendidikan jarak jauh terletak pada bentuk interaksi antara peserta didik/mahasiswa dengan dosen. Namun pendidikan jarak jauh itu sendiri dianggap mempunyai potensi dan prospek yang baik karena pada dasarnya karakteristik pendidikan jarak jauh itu sendiri, dalam hal tertentu, mempunyai keunggulan jika dibandingkan dengan pendidikan konvensional. Dimana saat ini pendidikan jarak jauh lebih mengoptimalkan kemandirian mahasiswa, menggunakan sistem modul dan pembelajaran e-learning dan meminimalkan tatap muka sehingga lebih efisien dalam faktor biaya.

Menurut Giltrow (1989) istilah pendidikan jarak jauh (distance education) itu sendiri muncul dalam artikel sebuah majalah pada tahun 1903. Yang diawali di Inggris di tahun 1840 saat Isaac Pitman memulai korespondensi dengan seorang muridnya untuk pembelajaran teologi. Setengah abad kemudian, di awal 1960-an istilah tersebut muncul kembali dan tampaknya menjadi populer di tahun 1980-an. Dan saat ini distance education/distance learning dianggap sebagai nama generik dari pendidikan jarak jauh termasuk pendidikan melalui udara (radio) dan konferensi jarak jauh (tele conference) dan melalui internet (e-learning).

Di Indonesia sendiri sistem pendidikan jarak jauh dipelopori oleh Universitas Terbuka (UT) yang dimulai di tahun 1984 dengan dasar Keppres RI No 41 tahun 1984 dimana saat ini telah memiliki 60.000 mahasiswa yang hampir 80% nya adalah telah bekerja. Saat ini pemerintah telah membuka kesempatan pendidikan jarak jauh tidak lagi dimonopoli UT, namun juga diberikan kesempatan kepada PTN/PTS dengan dasar Kepmen Diknas No. 107/tahun 2001 tentang penyelenggaraan program pendidikan tinggi jarak jauh.

Perry dan Rumble, 1987 menegaskan bahwa dalam konteks pendidikan jarak jauh (distance education), pengertian "jarak jauh" (distance) adalah tidak terjadinya kontak dalam bentuk tatap muka langsung antara pendidik dan peserta didik ketika proses belajar mengajar terjadi. Dengan demikian, pendidikan jarak jauh adalah komunikasi dua arah yang dijembatani oleh media seperti surat, telepon, teleks, radio, komputer, internet akses, CD dan sebagainya. Dari segi teori, Sewart, Keagan, & Holmberg (1990) secara garis besar membedakan tiga teori utama tentang pendidikan jarak jauh yang masing-masing adalah teori otonomi dan belajar mandiri, industrialisasi pendidikan, dan komunikasi interaktif.

Teori yang pertama adalah otonomi dan belajar mandiri, pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh pandangan sosial demokrat dan filsafat pendidikan liberal yang menyatakan bahwa setiap individu berhak mendapat kesempatan yang sama dalam pendidikan dan setiap upaya instruksional hendaknya diupayakan sedemikian rupa sehingga dapat memberikan kebebasan dan kemandirian pada peserta didik dalam proses belajarnya. Peserta didik mempunyai kebebasan untuk mempertimbangkan dan memutuskan sendiri apa yang akan dipelajari dan bagaimana mempelajarinya. Artinya, jika dalam pendidikan konvensional siswa lebih banyak berkomunikasi interpersonal atau berkonsultasi dengan manusia, maka dalam pendidikan jarak jauh ia lebih banyak melakukan komunikasi intrapersonal dengan masukan berupa informasi atau bahan ajar dalam bentuk cetak maupun non cetak.

Teori yang kedua adalah industrialisasi pendidikan yang dikemukakan oleh Peters (1980) yang mengatakan bahwa sistem pendidikan jarak jauh adalah semacam bentuk industrialisasi aktivitas belajar mengajar yang dalam penyelenggaraannya bercirikan pembagian kerja dan produksi (bahan ajar) secara massal. Pendidikan jarak jauh merupakan metode untuk mengajarkan pengetahuan, ketrampilan, dan sikap dengan cara menerapkan berbagai prinsip industrialisasi dan pemanfaatan teknologi yang tujuannya adalah untuk memproduksi bahan ajar yang berkualitas secara massal sehingga dapat digunakan secara bersamaan oleh sejumlah besar peserta didik yang tempat tinggalnya tersebar di seluruh pelosok negara.

Teori yang ketiga adalah teori interaksi dan komunikasi. Teori ini muncul karena banyak ahli pendidikan yang sepakat bahwa pengertian belajar mandiri tidak berarti belajar sendiri. Kontak antara peserta didik dengan komponen institusi penyelengara pendidikan jarak jauh masih diperlukan, baik untuk kepentingan hal-hal yang bersifat administratif maupun akademis; bahkan kadang-kadang psikologis. Mengenai hal-hal yang bersifat akademis, karena menyangkut esensi pendidikan itu sendiri, lembaga pendidikan jarak jauh selalu menyediakan tutor. Dengan demikian, interaksi antara peserta didik dengan pengajar tetap terjadi walaupun frekuensi dan intensitas komunikasi tersebut terbatas. Cara berinteraksi itu sendiri bisa melalui tatap muka langsung atau menggunakan media komunikasi seperti surat, telepon, komputer, dan sebagainya.


Penyelenggaraan Pendidikan Jarak Jauh


Dewasa ini baik negara maju maupun berkembang banyak yang sudah menyelenggarakan sistem pendidikan jarak jauh untuk bidang keperawatan antara lain adalah Inggris, Jerman, Kanada, Amerika, Australia, India, Jepang, Korea, Israel, Kenya, RRC, Thailand dan Pakistan. Dengan dipraktekannya sistem pendidikan belajar jarak jauh untuk bidang keperawatan oleh berbagai negara, maka sebagai konsekuensinya adalah untuk Indonesia khususnya penyelenggara pendidikan keperawatan dituntut untuk dapat mengikuti perkembangan kearah yang sama, dengan meninggalkan konsep pendidikan keperawatan yang masih mengandalkan model tatap muka.

Mengenai model manajemen dan organisasi institusi pendidikan jarakjauh, Perry dan Rumble (1990) menyebutkan ada tiga jenis. Pertama adalah model otonom, yaitu lembaga yang khusus menyelenggarakan pendidikan jarak jauh. Kedua adalah model terpadu, yaitu institusi yang menawarkan pendidikan konvensional dan pendidikan jarak jauh sekaligus. Ketiga adalah bentuk konsorsium, yaitu semacam kerjasama antar beberapa institusi penyelenggara pendidikan jarak jauh

Media pembelajaran yang digunakan, tampaknya tiap negara menyesuaikan dengan kondisi setempat masing-masing. Walaupun pada umumya bahan ajar cetak dan non cetak ini bervariasi dari berbagai negara ke negara. Bahan ajar cetak dapat berupa teks book dan modul, sedangkan non cetak dapat berupa video, kaset,CD software (rekaman tutorial) ,email, website, radio, dan jaringan televisi. Dengan demikian, komposisi paket matakuliah tersebut tersaji dalam bentuk video, bahan cetak (buku), dan program komputer adalah 4:5:1.

Di sisi lain, penggunaan komputer di lembaga pendidikan jarak jauh tergolong cukup intensif. Penggunaan komputer, secara tipikal dikategorikan ke dalam dua kelompok, yakni untuk keperluan administratif dan akademis. Penggunaan untuk keperluan administratif antara lain meliputi administrasi data mahasiwa; keuangan; produksi, penyimpanan, dan pengiriman bahan ajar; pengolahan hasil ujian; dan sebagainya. Sedangkan untuk keperluan akademis, komputer digunakan untuk mengembangkan Computer Assisted Learning (CAL), yakni program komputer yang memungkinkan siswa mempelajari topik tertentu dan mengevaluasi hasil belajarnya sendiri dengan cara berinteraksi dengan komputer.

Prospek dan harapan pendidikan jarak jauh Sarjana Keperawatan Indonesia untuk Perawat Indonesia di Luar negeri

Saat ini ada sekitar 250.000 jumlah perawat di Indonesia, dimana dari lulusan D3 keperawatan setiap tahunnya diluluskan 23.000 orang pertahun. Secara angka hal tersebut masih absurd jika dibandingkan jumlah lulusan Sarjana Keperawatan yang baru mencapai 6.000 orang.

Sebagai komparasinya di Kuwait saat ini ada 700 orang perawat Indonesia yang saat ini bekerja, dan hanya 7 orang diantaranya yang lulusan Sarjana Keperawatan (BSN). Padahal sejak tahun 1998 semua negara lainnya seperti India, Philipina dan Mesir menempatkan lulusan S1 Keperawatan/BSN untuk bekerja di Kuwait.

Tentu saja prospek untuk melakukan program tersebut sangat besar baik untuk perawat Indonesia yang bekerja diluar dan didalam negeri, hanya saja tinggal bagaimana kesiapan dan kebijakan pendidikan keperawatan khususnya untuk lebih bijak mensikapi tantangan tersebut.

Memang ada dualisme dimana disatu pihak penyelenggara pendidikan keperawatan dituntut untuk tetap menjaga kualitas lulusan, namun pada saat yang sama juga kuantitas Sarjana Keperawatan sudah selayaknya ditingkatkan dan diakselesari dalam jumlah.

Namun sekali lagi perawat Indonesia yang saat ini bekerja di luar negeri adalah gambaran perawat profesional, mereka skillfull, berbahasa inggris aktif, aktif online internet, memiliki wawasan global dan mewakili citra perawat Indonesia di luar negeri. Dan tentu saja ini dapat menjadi satu model untuk tenaga kerja Indonesia lainnya khususnya di sektor formal, dengan menyiapkan mereka siap dalam meningkatkan kesejahteran dan level pendidikannya di luar negeri saat dan pasca kontrak kerja.

Saat ini INNA-K (Indonesian National Nurses Association in Kuwait) sedang berupaya menjajaki program kuliah jarak jauh/Distance Learning BSN dengan FIK UI dan kami telah menyebarkan kuesioner untuk 300 orang perawat Indonesia disini lulusan D3, dan hampir 90% mendukung dan bersedia mengikuti perkuliahan jika program ini dapat terlaksana segera.