Saturday, October 14, 2006

EID MUBARAK 1427 H


Mudik Lebaran Naik Kereta "Keperawatan"

Hari Raya Idul Fitri adalah hari kemenangan bagi umat Islam, sebuah kegembiraan dan lekat dengan begitu banyak tradisi. Terlebih di Indonesia, dengan hampir 85% penduduknya mayoritas muslim. Demikian pula halnya di Negara-negara lain yang sebagian besar berpenduduk muslim seperti di Timur Tengah.

Ada nuansa yang hampir sama, tentunya seperti tradisi "mudik" untuk bersilaturahmi dengan sanak famili, tetangga, teman dan rekan profesi. Dan tak terkecuali dengan teman-teman perawat yang mungkin bekerja di kota-kota besar di Indonesia, yang sudah pasti setiap Hari Raya Idul Fitri tiba, maka selalu disibukkan dengan sebuah rutinitas yang sangat-sangat dinantikan setiap tahunnya.

Tak terkecuali dengan sebagian kecil perawat Indonesia yang sedang bermukim (sekolah dan bekerja, atau tinggal di luar negeri) – maka makna Idul Fitri dan berlebaran akan terasa lebih syahdu. Kalau saja kebetulan kita saat ini tinggal di negara-negara Timur Tengah, Malaysia, Brunei, Bangladesh, India dsb – maka nuansa berlebaran masih sedikit kental akan budaya Islam. Namun bagi teman-teman perawat yang mungkin saja sedang tinggal di Eropa, Amerika, Australia, atau Skandinavia, dsb akan terasa sekali perbedaannya.

Katakanlah saja dengan kami-kami perawat Indonesia yang di Kuwait-pun masih merasakan bahwa Lebaran di Indonesia adalah sebuah kenikmatan yang tidak "terhingga". Sehingga umumnya perawat Indonesia disini, akan meminta/request cuti tahunannya/annual leave semua di saat lebaran. Tapi kan tidak akan mungkin (MISSION IMPOSSIBLE). Karena kalau itu terjadi bisa di bayangkan 700 perawat Indonesia di Kuwait – dan belum dengan perawat lokal/Kuwait, Mesir, Tunisia yang mereka juga muslim dan umumnya akan meminta jatah cuti tahunannya di saat Idul Fitri cuti semua. Maka akan terjadi kelimpungan/lumpuh luar biasa di semua RS dan pelayanan kesehatan di negara ini.

Hal yang sama kami temui saat berbincang-bincang dengan rekan profesi perawat di Arab Saudi misalnya, mereka bahkan tidak diperkenankan mengambil cuti tahunan saat Ramadhan dan musim Haji, lebih karena tenaga perawat diperlukan "stand by" disana saat musim puncak kegiatan ibadah Haji dan Ramadhan disana.

Alhasil hanya terbayang saat Lebaran di Indonesia, makan ketupat, opor ayam, jalan-jalan saat Malam Takbiran dan menikmati libur Lebaran adalah sebuah keindahan. Jika teman-teman kebetulan berlebaran di luar Indonesia, atau mungkin masih di Indonesia, namun karena satu dan lain hal/bertugas di pelosok/pulau terpencil misalnya, akan terasa sekali jauh perbedaannya. Kuwait yang seluas Jakarta dengan penduduk 3,5 juta jiwa dan hanya 800.000 penduduk asli (sebagian besar ekspatriat), mereka kurang memiliki tradisi lebaran. Malam takbiran disini seperti malam-malam liburan (Kamis dan Jumat), tiada keramaian yang berarti, dan saat setelah Shalat Ied pun seperti "biasa saja". Paling-paling hanya kita berkunjung ke rumah teman perawat yang memiliki keluarga disini, atau ke embassy-KBRI Kuwait yang setiap tahunnya selalu mengadakan "Open House" (mungkin juga sama dengan negara lain).

Tidak akan ada acara "bersibuk-sibuk ria" mudik – mungkin hanya teman-teman perawat yang kebetulan mendapatkan cuti tahunannya saja. Dan biasanya kita-kita yang tidak dapat cuti hanya ikut "termenung" mengantarkan ke airport/bandara, sambil senyum-senyum berkhayal mudah-mudahan tahun depan bisa cuti di saat Lebaran.

Tradisi Mudik di Indonesia Dengan Kereta

Mudik akan terkait dengan persiapan H - ....., kemacetan, kesulitan mencari pembantu, booking tiket, oleh-oleh, dsb. Hal yang tidak akan dijumpai disini, tidak akan ada nuansa seperti itu. Kalau ditanyakan saya pribadi menyenangi kereta api saat mudik lebaran. Entah karena sejak dahulu dan saat kuliah terbiasa naik KRL setiap harinya , maka kereta adalah favorit pilihan mudik, meski selalu berjubel-jubel.

Setelah di Kuwait ternyata tidak pernah dijumpai Kereta Api/KRL, dimana sistem transportasi disini lebih banyak menggunakan mobil/bus. Maka terpikirlah bahwa Kereta adalah sebuah alat kendaraan berbasis massa yang memiliki makna philosofi.

Kereta terdiri dari 1-2 buah lokomotif (dengan mesin penggerak, tenaga dissel/listrik), 1 – 2 orang masinis, banyak rangkaian gerbong, restorasi dan SDM yang bekerja di dalamnya. Berbeda dengan mobil yang saat mengalami kemacetan bisa mencari "jalur alternatif/jalan tikus", maka kereta kalau anjlok/mogok satu rangkaian, maka rangkaian kereta berikutnya akan mengalami keterlambatan atau gangguan. Namun apabila semua berjalan cepat dan tepat, pasti akan sampai ditujuan.

Kereta juga terbagi menjadi : jenis kereta eksekutif, bisnis, ekonomi atau kereta barang. Kalau kita naik saja didalamnya, semua akan sampai juga ke kota tujuan. Hanya saja kalau kita naik kereta eksekutif adem, nyaman, dan cepat sampai; kalau kereta bisnis ditengah-tengahnya, kalau ekonomi wah.. payah; dan kalau kereta barang "lebih-lebih",,,,,,.Akan berbeda sekali dengan mobil, minimal meski mobil anda mewah kalau macet tentu akan sampai lebih lama. Atau terpaksa mencari-cari jalan alternatif melalui pedesaan atau persawahan.

Sama seperti kata "keperawatan" yang berkorelasi langsung dengan "perawat". Mungkin saja kalau kita assosiasikan dalam konteks philosofi sebuah kereta, maka perawat juga ada yang memiliki tingkatan/katagori, semisal dari katagori : perawat klinisi, vokasional, profesional, akademisi, riset, birokrat, politikus, entrepreneur perawat, dsb. Atau juga jenjang pendidikan SPK, D3, S1, S2, S3 bahkan Profesor Keperawatan, atau katagori-katagori lainnya. Sebenarnya secara kasat mata kita semua pun tahu mana yang masuk katagori mudik dengan kereta eksekutif, bisnis atau ekonomi. Tentu saja semua melalui sebuah perjuangan panjang dan tidak mudah, hingga seseorang mendapatkan tiket naik kereta eksekutif. Namun itu juga yang dicita-citakan setiap komponen profesi keperawatan Indonesia.Yakni agar secara masif sebanyak mungkin tercipta perawat dengan katagori eksekutif, sehingga profesi ini memiliki semangat dan harapan baru.

Rubah Haluan Kereta

Merubah haluan kereta tidak berarti selalu merubah kota yang akan dituju, tapi lebih banyak kearah set up/menset ulang pola pemikiran perawat. Rasanya bukan jamannya lagi menciptakan "complaining society" (masyarakat pengeluh), tapi mungkin akan sangat berguna apabila kita sebagai perawat menciptakan "solving society"/ "optimistm society", - yang lebih menggerakkan energi positif yang kita miliki.

Saat melihat sekelompok mahasiswa keperawatan mengadakan seminar tentang Entrepreneur Keperawatan, saat melihat individu yang berlatar belakang tehnik namun mendirikan STIKES swasta yang bervisi menempatkan lulusan dengan model "dual degree/twinning" seperti STIKES Binawan, yang saat ini banyak direplikasi oleh FIK dan PSIK Universitas Negeri di Indonesia (UI dengan Australia, Unair dengan Selandia Baru, Undip dengan Belanda, UGM dengan Jepang) - maka harapan merubah haluan itu bangkit. Sama halnya saat kemunculan program pendidikan S2 Keperawatan di FIK UI, dan semakin banyaknya mahasiswa Keperawatan Angkatan 2000 ke atas – yang dengan gamblangnya ingin bekerja sebagai perawat di luar negeri, maka keyakinan merubah haluan itu ada.

Banyak cerita teman-teman, termasuk saya setelah lebih dari satu Pelita bekerja dan berkarir menjadi perawat (baik di Institusi Pendidikan, atau pelayanan) merasakan tidak enak juga yahhh naik kereta ekonomi terus. Bahkan ada teman yang setelah sekian puluh tahun bekerja di Puskesmas, baru setelah 1-2 tahun bekerja disini bisa memiliki rumah, mulai berpikir untuk sekolah kembali, mau melakukan bisnis, bisa ibadah haji/umroh, meningkat kemampuan bahasa inggris, memahami berbagai budaya dan karakter individu/bangsa, online internet, dan terpenting memiliki tekat-keyakinan dan kepercayaan diri sebagai perawat Indonesia.

Rasanya harapan baru justru tumbuh pada LOKOMOTIF dan MASINIS Keperawatan Indonesia yang memiliki Institusi, Pemikiran, Visi dan Misi, serta para PENUMPANG yang juga memiliki pemikiran merubah kelas kereta – "jumping". Yang bisa saja dimulai sejak dari mahasiswa telah berpikir untuk bekerja, sekolah dan berkarir menjadi perawat di luar negeri sebagai jembatan/batu loncatan antar kereta. Maka Insya Allah Hari Raya Idul Fitri tahun ini, lebih baik dari tahun kemarin dan tahun depan akan lebih baik lagi : dalam tingkat keimanan, silahturahmi, pemikiran, kesejahteraan, kesehatan dan visi sebagai perawat.

Kalau mungkin 3 tahun yang lalu saat ditanyakan di salah satu AKPER di Jawa Tengah, Berapa mahasiswa yang ingin mejadi PNS (90% menjawab kompak ya), dan hanya 5% malu-malu ingin bekerja di LN, atau masih 1 – 2 STIKES/AKPER yang memproklamirkan visinya untuk menempatkan lulusannya bekerja di LN. Ada rasa senang dan gembira apabila saat ini katakanlah 50% mahasiswa perawat ingin bekerja di LN atau 50% STIKES/AKPER/PSIK/FIK di Indonesia menyatakan siap menempatkan lulusannya bekerja di luar negeri – sehingga "tour of duty" perawat Indonesia berjalan berkesinambungan.

Tentu saja hal ini akan lebih signifikan saat PPNI dan Depkes mendukung pula 100% - menjadikan satu Model Penempatan Perawat di LN adalah program masif mengatasi "pengangguran terdidik" perawat kita. Dan jangan biarkan Seleksi Alam STIKES/AKPER dan kelimpungan profesi perawat terjadi di Indonesia.

Taqqaba'llahu minna wa' minkum

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1427 H

Mohon Maaf Lahir dan Batin


Nur Martono

Staf Nurses Al Amiri Hospital Kuwait

No comments: