Sunday, November 19, 2006

APLIKASI TELEMETRY DALAM ASUHAN KEPERAWATAN PENYAKIT JANTUNG KORONER





APLIKASI TELEMETRY DALAM ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN PENYAKIT JANTUNG KORONER (PJK)
DI INDONESIA

Indonesia saat ini menghadapi masalah kesehatan yang kompleks dan beragam. Tentu saja mulai dari infeksi klasik dan modern, penyakit degeneratif serta penyakit psikososial yang menjadikan Indonesia saat ini yang menghadapi " threeple burden diseases".

Namun tetap saja penyebab angka kematian terbesar adalah akibat penyakit jantung koroner – "the silence killer". Tingginya angka kematian di Indonesia akibat penyakit jantung koroner (PJK) mencapai 26%. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga Nasional (SKRTN), dalam 10 tahun terakhir angka tersebut cenderung mengalami peningkatan. Pada tahun 1991, angka kematian akibat PJK adalah 16 %. kemudian di tahun 2001 angka tersebut melonjak menjadi 26,4 %. Angka kematian akibat PJK diperkirakan mencapai 53,5 per 100.000 penduduk di negara kita. Tingginya angka tersebut, mengakibatkan PJK sebagai penyebab kematian nomor satu. 1)

Sebagian besar PJK terjadi akibat penurunan suplai oksigen (iskemia) pada otot jantung lantaran penyempitan pembuluh koroner oleh pengerasan di dinding dalam pembuluh koroner yang disebut plak aterosklerosis. 2) Penderita penyakit jantung koroner yang mengalami serangan jantung cukup banyak. Di RS Dr Sardjito misalnya, setiap bulannya terdapat sekitar 30-40 pasien yang mengalami serangan jantung dan masuk ke ICCU. ''Sekarang tendensi penderitanya semakin muda. Ada pasien berusia 30 tahun sudah mengalami serangan jantung.'' Kasus serangan jantung pada orang berusia muda lebih kerap disebabkan oleh faktor gaya hidup yang kurang sehat, misalnya terbiasa mengonsumsi makanan berlemak, merokok, dan kurang olah raga. ''Penyakit jantung koroner di usia muda ini lebih banyak diderita oleh pria, sementara wanita biasanya di atas 55 tahun.'' 3).

Angka ini hampir sama di belahan negara dunia lainnya, penyakit jantung merupakan penyebab kematian nomor satu pada orang Amerika dewasa. Setiap tahunnya, di Amerika Serikat:
• 478000 orang meninggal karena penyakit jantung koroner.
• 1,5 juta orang mengalami serangan jantung.
• 407000 orang mengalami operasi peralihan.
• 300000 orang menjalani angioplasti.
Penyakit jantung, stroke, dan aterosklerosis merupakan penyakit yang mematikan. Di seluruh dunia, jumlah penderita penyakit ini terus bertambah. Ketiga kategori penyakit ini tidak lepas dari gaya hidup yang kurang sehat, yang banyak dilakukan seiring dengan berubahnya pola hidup.4)

Dari hasil pengalaman klinis di Kuwait masalah yang sama dihadapi. Menurut seorang teman yang bekerja di ruang gawat darurat medikal, rata-rata 30 pasien dengan keluhan chest pain (nyeri dada) dan MI (myocard infark) setiap harinya dirawat, dan ini baru dari satu RS di Kuwait saja. Namun ada yang menarik saat dalam perawatan pasien dengan PJK di ruangan medikal/surgikal, yakni ada alat yang dikenal dengan nama TELEMETRY. Alat tersebut akan dibahas dalam tulisan ini, guna membantu mengenalkannya untuk rumah sakit, dokter dan perawat di Indonesia. Sayangnya belum ada informasi atau akses, apakah telemetry telah dipergunakan di RS di Indonesia atau minimal di RS Jantung - Harapan Kita.

Telemetry Dalam Perawatan Pasien dgn PJK/ACS (Acute Coronary Syndrome)

Ada kalanya pasien dengan PJK/ACS saat dirawat di rumah sakit cukup memerlukan perawatan di ruang stabil, seperti di ruang rawat medikal/surgikal tanpa harus dirawat secara intensif di CCU. Disini ada satu alat yang digunakan untuk memonitor irama jantung/sinus rytme dan gambaran rekaman EKG jantung pasien yang dikenal dengan nama telemetry.

Alat ini berukuran sebesar ponsel umumnya diletakkan di dada pasien, dan dapat dimasukkan saku dengan tali pengikat yang dikaitkan dengan elektroda (5 – 6 kabel). Telemetry dilekatkan melalui kabel , dengan tempat sama seperti saat meletakkan patch alat monitor jantung. Sehingga meskipun pasien selalu dianjurkan untuk bedrest/tirah baring bagi penderita PJK/ACS, namun dengan telemetry pasien tidak selalu memerlukan cardiac monitor yang statis.

Sehingga jika pasien tersebut ingin ke toilet ataupun melakukan latihan/exercise, pasien dapat selalu termonitor kondisi jantungnya dengan monitor dari ruang telemetry/CCU. Telemetry bersifat portable dan tidak menyakitkan pasien. Namun apabila pasien ingin mandi atau melakukan prosedur khusus (CT, X-ray, Echocardiogram, dsb), maka telemetry perlu dilepas, karena terdapat rangkaian elektrik dan hantaran gelombang suara yang dapat mengganggu pasien.

Telemetry merupakan alat komunikasi wireless (gelombang suara) yang merubah gelombang suara kedalam bentuk data. Prinsip dasar telemetry adalah menangkap parameter dalam frekuensi gelombang, yang kemudian dirubah kedalam data. Setelah itu data ini dapat ditransfer ke media lain, seperti telepon, jaringan komputer atau melalui serat optic.

Alat ini dalam bidang kesehatan dikenal dengan istilah Bio telemetry atau The Wireless Medical Telemetry Service (WMTS), yang umum dimonitor dari ruang CCU (Coronary Care Unit). Telemtery digunakan pada pasien di ruang medikal/penyakit dalam atau surgikal/bedah , untuk merekam abnormalitas irama/denyut jantung. Pasien dipasang telemetry (dengan 5 – 6 kabel patch), yang dapat langsung merekam dan mengintreprestasikan data irama jantung pasien. Alat ini sangat berguna untuk diagnosis awal kondisi patologi jantung oleh dokter dan membantu perawat melihat kondisi penyakit pasien jantung koroner akut atau kritis. 5)

Berikut adalah beberapa definisi telemetry dari
http://dictionary.reference.com/browse/telemetry antara lain adalah :

1. any of certain devices or attachments for determining distances by measuring the angle subtending a known distance. 2. Electricity. the complete measuring, transmitting, and receiving apparatus for indicating, recording, or integrating at a distance, by electrical translating means, the value of a quantity. 3. to transmit (radio signals, data, etc.) automatically and at a distance, as between a ground station and an artificial satellite, space probe, or the like, esp. in order to record information, operate guidance apparatus, etc.

Secara mudahnya telemetry adalah "satu alat penangkap data yang portable, yang menggunakan sistem transmisi gelombang suara dan tanpa kabel". Atau ada juga yang menyebutnya "ilmu dan tehnologi yang menggunakan instrument pengukuran data menggunakan gelombang suara, dengan tanpa kabel, radio, remote, dari pesawat antariksa, kendaraan bergerak, manusia dan kondisi fisik hewan dsb".

Tentu saja aplikasi telemetry sangat ditunjang dengan kemampuan dokter/perawat dalam membaca ECG (elektocardiogram), namun saat ini telemetry yang ada telah didesain sedemikian rupa terkoneksi dengan program komputer yang langsung menganalisa patologi kelainan jantung pasien. Seperti sinus bradikardia/takikardia, VT (Ventrikel Tacycardia) , AF (Atrial Fibrilasi), MI (myocard infark) yang fatal dapat segera terdeteksi. Sehingga perawat telemetry akan segera menginformasikan ke perawat ruang medikal/surgikal, akan adanya kelainan irama jantung pasien dan perawat di ruangan medikal/surgikal akan melakukan ECG dan menginformasikan ke dokter untuk dapat segera mem-follow up lebih lanjut.

Bagaimana penggunaan telemerty

Pada mulanya alat ini banyak dipergunakan untuk kepentingan militer seperti untuk aero telemetry dalam unmanned air vehicle (UAV)/pesawat tanpa awak untuk pemetaan intelejen, pertahanan sistem angkasa luar, menangkap sinyal rudal dan sistem pertahanan udara. Telemetry bahkan juga di gunakan untuk kepentingan industri minyak dan pabrik kimia untuk menangkap getaran alat-alat di pabrik, untuk kegiatan balap mobil guna mengkaji kecepatan mobil, getaran kendaraan dan fungsi kendaraan; serta untuk kepentingan kegiatan alam bebas, seperti memonitor lokasi hewan di hutan atau laut dengan melalui GPS (Global Positioning System).

Telemetry yang menggunakan transmisi wireless/gelombang suara, dapat memonitor kondisi suatu lingkungan atau parameter lainnya. Alat ini semula banyak digunakan untuk kepentingan satelit angkasa luar, robot bergerak, dan umum dipakai di stasiun angkasa luar seperti the Space Shuttle and the International Space Station (ISS). Alat ini banyak digunakan untuk memonitor kondisi fisik astronot, dan memastikan lingkungan kerja yang adekuat di stasiun angkasa luar. Telemetry juga digunakan oleh Hubble Space Telescope (HST) teleskop angkasa luar terbesar di Amerika Serikat.

Seperti Satelit Lapan-TUBSAT merupakan pengembangan dari satelit eksperimental yang pernah dibangun di TUB (Technical University of Berlin) dan Lapan di Indonesia. Satelit ini membawa sistem komunikasi untuk keperluan telemetry and telecommands (TTC) yang beroperasi pada frekuensi 436,075 Megahertz dengan laju transfer data 1200 bps untuk kepentingan Indonesia. Data video dari sistem kamera dikirimkan ke stasiun bumi melalui sistem komunikasi data pada frekuensi 2220 Megahertz. 7)

Transmiter telemetry terdiri dari beberapa perangkat yaitu sebuah encoder merupakan instrument yang membaca sinyal digital atau analog, modulator dan transmitter wireless dengan antena. Telemetry terdiri dari antena penerima, dan set amplifier radio rekuensi, sebuah demodulator dan alat perekam gelombang suara denyut jantung. Alat ini akan dapat memproses data rekaman denyut jantung dan menganalisanya melalui penghubung komputer. 8)

Telemetry Menangkap Suara dan Irama Denyut Jantung

Gelombang radio yang dipakai untuk telemetry berbeda-beda tergantung tujuan penggunaan alat ini. Untuk kepentingan aero space/kegiatan angkasa luar gelombang yang digunakan di Amerika Serikat adalah 2.300 – 2.390 MHz, sedangkan di Kanada menggunakan gelombang 2.300 – 2.483,5 MHz.

Sedangkan gelombang untuk medical telemetry di AS sendiri menggunakan frekuensi 460 – 470 MHz, namun masih diduga dapat terjadi interference gelombang radio. Wireless Medical Telemetry Service (WMTS) gelombang disana memiliki beberapa frekuensi meliputi 608-614 MHz, 1395-1400 MHz, and 1427-1432 MHz.

Frekuensi gelombang ini masih terus dikaji karena adanya interferensi/pengaruh dari gelombang radio yang digunakan oleh polisi, pemadam kebakaran, taksi dan perusahaan truk, yang dapat mempengaruhi keselamatan pasien.9)

Wireless medical telemetry service (WMTS) adalah sebuah alat telemetry yang digunakan untuk memonitor parameter fisiologi pasien/tanda-tanda vital , umumnya irama jantung yang menggunakan komunikasi jarak jauh dengan gelombang radio / radio-frequency (RF). Komunikasi ini terjadi antara transmitter yang diletakkan di tubuh pasien dan tempat pusat monitor yang tersentral yang umumnya diawasi beberapa orang perawat, melalui komputer. Tentu saja telemetry dapat membantu pasien agar tetap dapat melakukan aktifitas dan tidak terganggu dengan cardiac monitor yang menggunakan koneksi hard-wire dan layar yang berada dekat tempat tidur pasien. 10)

Wireless Medical Telemetry Service (WMTS) di Amerika Serikat sekarang diset dalam frekuensi 608 – 614 MHz, 1395 – 1400 MHz, 1429 – 1432 MHz untuk menghindari interference dari gelombang lainnya. AHA (American Hospital Association) merekomendasikan kelompok kerja (pokja) WMTS, dan mendefinisikan WMT (wireless medical telemetry ) sebagai "the measurement and recording of physiological parameters and other patient-related information via radiated bi- or unidirectional electromagnetic signals"
Bahkan disana telah dibuat aturan lebih lanjut, tentang pelayanan kesehatan yang berhak menggunakan WMTS, termasuk dokter, perawat, dan tehnisi telemetry dan juga pelatihan penggunaannya. Disana telah dibuat aturan tentang peralatan telemetry, batasan power, emisi gelombang suara, sistem proteksi, agar tidak mengganggu gelombang yang digunakan untuk kepentingan proyek angkasa luar AS. Semisal harus berjarak 80 km dari pusat proyek NASA dan berkoordinasi tentang penggunaan gelombang yang digunakan dengan pihak militer.11)

Telemetry merupakan bagian telemedicine. Penyediaan pelayanan kesehatan (termasuk klinis, pendidikan dan pelayanan administrasi) jarak jauh, melalui transfer informasi (audio, video, grafik), dengan menggunakan perangkat-perangkat telekomunikasi (audio-video interaktif dua arah, komputer, dan telemetri) dengan melibatkan dokter, perawat, pasien dan pihak-pihak lain.12)

Penyuluhan Kesehatan Pada Pasien Yang Menggunakan Telemetry

Penyuluhan kesehatan pada pasien dengan penderita penyakit jantung koroner sangat penting. Sehingga peran perawat sebagai tenaga kesehatan sangatlah penting disini, termasuk kepada pasien dengan penggunaan telemetry. Perawat telemetry adalah perawat yang memiliki keahlian tinggi, karena diharapkan mampu menganalisa rekaman EKG dan melakukan asuhan keperawatan yang akurat, serta memberikan penyuluhan kesehatan kepada pasien.

Penderita PJK saat dirawat menggunakan telemetry sangat memerlukan penyuluhan kesehatan. Dalam artikel tentang Teaching patients about telemetry, Squires, Allison, Ciecior, Dana 2000, memberikan satu ilustrasi kasus :.
"Bob Baird, 47, is in your telemetry step-down unit following a myocardial infarction (MI). He's in bed, watching TV, when he goes into supraventricular tachycardia with a rate of 150 beats/ minute. The monitor alarm at the nurses' station sounds, and you hurry into his room. Mr. Baird seems fine, so you ask him about chest discomfort and a few other assessment questions, then call the physician. Mr. Baird doesn't have a display cardiac monitor in his room and, with the memory of his MI fresh in his mind, is getting worried, especially when you administer intravenous adenosine as ordered. Although his heart rate drops to 80 beats/ minute and his rhythm converts to normal sinus rhythm, he's worried. He wonders, Am I really okay? "

Sebagai perawat, apa yang semestinya kita jelaskan dan beri penyuluhan kesehatan terhadap pasien yang menggunakan telemetry ? Ternyata di Amerika Serikat sendiri diperoleh data, bahwa banyak perawat telemetry yang tidak atau sedikit sekali memberikan penyuluhan kesehatan dan informasi tentang telemetry serta asuhan keperawatannya.

Rata-rata litelatur lebih menjelaskan tentang tehnologi telemetry. Namun sedikit sekali yang menjelaskan tentang apa reaksi pasien terhadap telemetry, dan apa yang seharusnya perawat ajarkan tentang telemetry dan alat cardiac monitor yang lain kepada pasien.

Dari hasil penelitian terhadap 43 pasien CCU yang menjalani bedah jantung , didapatkan 63% pasien tidak mendapatkan penjelasan tentang telemetry. Sebagian besar mereka senang jika semua informasi tentang tindakan dijelaskan terlebih dulu. Alasan mengapa perawat tidak menjelaskannya, adalah karena keterbatasan waktu. Dan sebagian besar perawat menganggap tehnologi ini sudah biasa, namun tentu saja berbeda dengan asumsi pasien yang tentu belum memahami tentang alat ini.13)

Ada satu studi yang pernah dilakukan oleh Theresa Reilly, Humbreck, J Rejck di Abington Memorial Hospital, 2002 tentang penggunaan Nurse-managed model dalam perawatan pasien dengan telemetry di ruang medical-surgikal unit. Studi ini menggunakan model retrospektif/cohort dimana perawat telemetry yang telah bersertifikasi menggunakan kriteria penilaian dokter - untuk mengakaji kondisi 1000 pasien yang menggunakan telemetry selama 5,5 bulan. Hasil yang didapatkan ternyata jumlah jam pemasangan telemetry lebih singkat 39.8 jam dibandingkan dengan 62 jam dengan model manajemen telemetry biasa. 76 pasien, dari total 1000 pasien membutuhkan perawatan lebih lanjut (CCU) guna mendapatkan perawatan lebih intensif. 14)

Perawat telemetry

Di Amerika Serikat khususnya perawat telemetry adalah perawat yang paling dicari dan digaji lebih mahal dari perawat lainnya. Coba saja anda klik lewat search engine google kata "telemetry nurses" maka akan banyak sekali lowongan kerja untuk itu disana.

Perawat telemetry melakukan asuhan keperawatan yang menghubungkan pasien dengan mesin pengukur denyut jantung, frekuensi pernapasan, saturasi oksigen dalam darah, dan informasi EKG. Alat kecil ini dihubungkan dengan layar komputer dimana perawat telemetry dapat memonitor, sehingga selanjutnya dapat menentukan diagnosa keperawatan secara tepat dan cepat.

Salah satu komponen utama perawat telemetry adalah pendidikan. Perawat telemetry harus memiliki kemampuan dasar tentang tehnologi kedokteran dan pengobatan untuk penyakit kardiovaskular, sering menghadiri seminar, dan pendidikan kursus tambahan seperti ACLS (AcuteAdvanced Cardio Live Support) dan Kursus EKG. Mereka juga harus mampu memberikan penyuluhan kesehatan kepada pasien dan keluarga tentang diet, exercise, pengobatan, pembatasan aktifitas pasien, dsb.

Perawat telemetry umumnya berhubungan dengan pasien yang memiliki riwayat bedah jantung yang mendapatkan pengobatan khusus gangguan jantung. Sehingga pengetahuan tentang EKG, patofisiologi gangguan jantung khususnya aritmia jantung, asuhan keperawatan dan pengalaman klinis khususnya di CCU sangat diperlukan.15)

Nur Martono
base on my daily saw

Daftar Pustaka :
1. http://www.suaramerdeka.com/harian/0602/20/kot06.htm
2. http://www.sinarharapan.co.id/
3. http://www.waspada.co.id/serba_serbi/kesehatan/
4. http://id.inaheart.or.id/?p=49
5. http://en.wikipedia.org/wiki/Telemetry
6. http://dictionary.reference.com/browse/telemetry
7. http://kompas.com/kompas-cetak/0512/02/muda/2256755.htm
8. http://whatis.techtarget.com/
9. http://www.fda.gov/cdrh/safety/111605-wmts.html
10. http://www.fcc.gov/Bureaus/Engineering_Technology/
11. http://www.fda.gov/cdrh/emc/wmt-about.html
12. http://www.idionline.org/iptek-isi.php?news_id=1003
13. http://www.findarticles.com/
14. http://www.aacn.org/AACN/
15. http://www.nursingdegreeguide.org/articles/


6 comments:

koko.k said...

Bagus juga ulasannya untuk bisa meningkatkan askep kita pada pasien dengen PJK. by the way singkatan ACLS itu Acute Cardio Live Support atau Advance Cardio Live Support, agak bingung nih!!

Herlina,RN said...

Hello, Pak Nur, bagus juga yah isi kajian tentang telemetry.
Penggunaan telemetry boxes di rumah sakit di USA sudah menjadi hal yang biasa dan sangat berguna untuk memantau kondisi jantung pasien 24/7.

Blogspot-nya juga sangat bagus dan very informatif. Kunjungi juga blog saya yang nantinya akan saya khususkan untuk perawatan dan sekitarnya. ( Saya juga punya blog lain yang isinya seputar dunia wanita hihi..)

ACLS : Advanced Cardiovascular Life Support

Nur Martono said...

Terima kasih Koko dan Herlina atas koreksinya, Mana dong Blognya lina nanti bisa saya link kan

ACLS (Advanced Cardiovascular Life Support) ralat,,,,

Blog memang personal dan bisa menjadi pilihan bacaan selain koran, majalah atau jurnal ilmiah,, meski kadang subyektif, namun semua berdasarkan pengalaman atau opini yang ingin kita bentuk sebagai perawat Indonesia. Paling tidak berbagi cerita dan pengalaman lewat blog, mudah2an bermanfaat

Herlina,RN said...

Iya, my blog still under construction hihi...tetapi bisa visit yang ini nih : www.herlinarn.blogspot.com
Belum sempet nulis2 sekarang , syibuk teyuz..

Ok, keep the good works!

box e-book said...

bagus informasinya dan berikan terus tentang keperawatan. bagi yang mencari askep dapat juga di RUSARI.COM ONLINE ILMU KEPERAWATAN dengan literatur yang cukup lengkap, terdapat 200an askep siap di download

dokter Anis said...

Info tambahan:
Ada terapi kedokteran yang disebut dengan terapi khelasi EDTA yang dapat mengatasi ataupun mencegah penyakit jantung koroner, stroke dan berbagai penyakit degeneratif lainnya seperti diabetes melitus, hipertensi, kolesterol tinggi, asam urat. Hubungi klinik Sartika, Jakarta, telpon 021-8504931.
Semoga membantu.

Salam,
Anis

Blog:
Khelasi di Wordpress
Khelasi di Blogspot