Sunday, August 20, 2006

Mengenang Perawat Muslim Pertama : Rufaidah binti Sa'ad (570-632 SM)








MENELUSURI JEJAK SEJARAH ISLAM;
DALAM DUNIA KEPERAWATAN
Mengenal lebih dekat : Rufaidah binti Sa'ad



Kegiatan pelayanan keperawatan berkualiatas telah dimulai sejak seorang perawat muslim pertama yaitu Siti Rufaidah pada jaman Nabi Muhammad S.A.W, yang selalu berusaha memberikan pelayanan terbaiknya bagi yang membutuhkan tanpa membedakan apakah kliennya kaya atau miskin. 1).(Elly Nurahmah, 2001). Ada pula yang mengenal sebagai Rufaidah binti Sa'ad/Rufaidah Al-Asalmiya dimana dalam beberapa catatan publikasi menyebutkan Rufaidah Al-Asalmiya, yang memulai praktek keperawatan dimasa Nabi Muhammad SAW adalah perawat pertama muslim (Kasule, 2003; Mansour & Fikry, 1987). Sementara sejarah perawat di Eropa dan Amerika mengenal Florence Nightingale sebagai pelopor keperawatan modern, Negara di timur tengah memberikan status ini kepada Rufaidah, seorang perawat muslim (Jan, 1996). Talenta perjuangan dan kepahlawanan Rufaidah secara verbal diteruskan turun temurun dari generasi ke generasi di perawat Islam khususnya di Arab Saudi dan diteruskan ke generasi modern perawat di Saudi dan Timur Tengah 2) (Miller Rosser, 2006)

Selama ini pula perawat Indonesia khususnya lebih mengenal Florence Nightingale sebagai tokoh keperawatan, yang mungkin saja lebih dikarenakan konsep keperawatan modern yang mengadopsi litelature barat. Florence Nightingale (Firenze, Italia, 12 Mei 1820 - 13 Agustus 1910) adalah pelopor perawat modern. Ia dikenali dengan nama The Lady With The Lamp dalam bahasa Inggris yang berarti "Sang Wanita dengan Lampu". Nama depannya, Florence merujuk kepada kota kelahirannya, Firenze dalam bahasa Italia atau Florence dalam bahasa Inggris. 3) (Wikipedia)

Florence dilahirkan dalam keluarga berada dan tumbuh sebagai wanita yang menawan dan periang yang mempunyai masa depan yang cerah. Bagaimanapun penderitaan yang dilihatnya semasa peperangan di semenanjung Krim di Rusia tahun 1858, menyebabkan hati Florence Nightingale tersentuh melihat penderitaan tentara yang luka dan dibiarkan saja dalam rumah sakit yang kotor. 3) (Wikipedia). Florence Nightingale dikenal sebagai perawat dan teoris pertama yang memiliki body of knowledge keperawatan. Nigtingale menekankan fokus intervensi keperawatan adalah membuat lingkungan yang kondusif bagi manusia untuk hidup sehat. Sebagian besar dari pemikiran Nightingale masih relevan dengan pendidikan keperawatan di Indonesia pada masa sekarang maupun yang akan datang. 4) (A.Yani, 2004)

Tulisan ini bermaksud mengeksplorasi lebih jauh studi litelatur sejarah islam dalam bidang keperawatan dan mengenalkan kita tentang tokoh perawat islam. Tentu saja perkembangan keperawatan di masa Rufaidah binti Sa'ad (thn 570 – 632 SM ), dengan perkembangan keperawatan era Florence Nightingale, dan perkembangan keperawatan era tahun 2000 akan tetap berbeda seiring dengan tuntutan pelayanan kesehatan. Kedua tokoh keperawatan tersebut muncul di masa-masa peperangan, sedangkan saat ini keperawatan bergerak maju dalam suasana damai, namun dengan kompleksitas tuntutan asuhan keperawatan dan beragam penyakit infeksi dan penyakit degeneratif (double burden disease).

  • Mengenal Rufaidah binti Sa'ad (Ruafaidah Al-Asalmiya)

Prof. Dr. Omar Hasan Kasule, Sr, 1998 dalam studi Paper Presented at the 3rd International Nursing Conference "Empowerment and Health: An Agenda for Nurses in the 21st Century" yang diselenggarakan di Brunei Darussalam 1-4 Nopember 1998, menggambarkan Rufaidah adalah perawat profesional pertama dimasa sejarah islam. Beliau hidup di masa Nabi Muhammad SAW di abad pertama Hijriah/abad ke-8 Sesudah Masehi, dan diilustrasikan sebagai perawat teladan, baik dan bersifat empati. Rufaidah adalah seorang pemimpin, organisatoris, mampu memobilisasi dan memotivasi orang lain. Dan digambarkan pula memiliki pengalaman klinik yang dapat ditularkan kepada perawat lain, yang dilatih dan bekerja dengannya. Dia tidak hanya melaksanakan peran perawat dalam aspek klinikal semata, namun juga melaksanakan peran komunitas dan memecahkan masalah sosial yang dapat mengakibatkan timbulnya berbagai macam penyakit. Rufaidah adalah public health nurse dan social worker, yang menjadi inspirasi bagi profesi perawat di dunia Islam. 5)

Rufaidah binti Sa'ad memiliki nama lengkap Rufaidah binti Sa'ad Al Bani Aslam Al Khazraj, yang tinggal di Madinah, dia lahir di Yathrib dan termasuk kaum Ansar (golongan yang pertama kali menganut Islam di Madinah). Ayahnya seorang dokter, dan dia mempelajari ilmu keperawatan saat bekerja membantu ayahnya. Dan saat kota Madinah berkembang, Rufaidah mengabdikan diri merawat kaum muslim yang sakit, dan membangun tenda di luar Masjid Nabawi saat damai. Dan saat perang Badr, Uhud, Khandaq dan Perang Khaibar dia menjadi sukarelawan dan merawat korban yang terluka akibat perang. Dan mendirikan Rumah sakit lapangan sehingga terkenal saat perang dan Nabi Muhammad SAW sendiri memerintahkan korban yang terluka dirawat olehnya. Pernah digambarkan saat perang Ghazwat al Khandaq, Sa'ad bin Ma'adh yang terluka dan tertancap panah di tangannya, dirawat oleh Rufaidah hingga stabil/homeostatis. 5)(Omar Hassan, 1998)

Rufaidah melatih pula beberapa kelompok wanita untuk menjadi perawat, dan dalam perang Khaibar mereka meminta ijin Nabi Muhammad SAW, untuk ikut di garis belakang pertempuran untuk merawat mereka yang terluka, dan Nabi mengijinkannya. Tugas ini digambarkan mulia untuk Rufaidah, dan merupakan pengakuan awal untuk pekerjaaannya di bidang keperawatan dan medis.

Konstribusi Rufaidah tidak hanya merawat mereka yang terluka akibat perang. Namun juga terlibat dalam aktifitas sosial di komuniti. Dia memberikan perhatian kepada setiap muslim, miskin, anak yatim, atau penderita cacat mental. Dia merawat anak yatim dan memberikan bekal pendidikan. Rufaidah digambarkan memiliki kepribadian yang luhur dan empati sehingga memberikan pelayanan keperawatan yang diberikan kepada pasiennya dengan baik pula. Sentuhan sisi kemanusiaan adalah hal yang penting bagi perawat, sehingga perkembangan sisi tehnologi dan sisi kemanusiaan (human touch) mesti seimbang. 5). Rufaidah juga digambarkan sebagai pemimpin dan pencetus Sekolah Keperawatan pertama di dunia Isalam, meskipun lokasinya tidak dapat dilaporkan (Jan, 1996), dia juga merupakan penyokong advokasi pencegahan penyakit (preventif care) dan menyebarkan pentingnya penyuluhan kesehatan (health education) 2)

Sejarah islam juga mencatat beberapa nama yang bekerja bersama Rufaidah seperti : Ummu Ammara, Aminah, Ummu Ayman, Safiyat, Ummu Sulaiman, dan Hindun. Beberapa wanita muslim yang terkenal sebagai perawat adalah : Ku'ayibat, Aminah binti Abi Qays Al Ghifari, Ummu Atiyah Al Ansariyat dan Nusaibat binti Ka'ab Al Maziniyat 6). Litelatur lain menyebutkan beberapa nama yang terkenal menjadi perawat saat masa Nabi Muhammad SAW saat perang dan damai adalah : Rufaidah binti Sa'ad Al Aslamiyyat, Aminah binti Qays al Ghifariyat, Ummu Atiyah Al Anasaiyat, Nusaibat binti Ka'ab Al Amziniyat, Zainab dari kaum Bani Awad yang ahli dalam penyakit dan bedah mata. 8)

Ummu Ammara juga dikenal juga sebagai Nusaibat binti Ka'ab bin Maziniyat, dia adalah ibu dari Abdullah dan Habi, anak dari Bani Zayd bin Asim. Nusaibat dibantu suami dan anaknya dalam bidang keperawatan. Dia berpartisipasi dalam Perjanjian Aqabat dan perjanjian Ridhwan, dan andil dalam perang Uhud dan perang melawan musailamah di Yamamah bersama anak dan suaminya. Dia terluka 12 kali, tangannya terputus dan dia meninggal denan luka2nya. Dia terlibat dalam perang Uhud, merawat korban yang luka dan mensuplai air dan juga digambarkan berperang menggunakan pedang membela Nabi.

  • Masa Sejarah Perkembangan Islam dalam Keperawatan

Masa sejarah perkembangan islam dalam keperawatan, tidak dapat dipisahkan dalam konteks perkembangan keperawatan di Arab Saudi khususnya, dan negara-negara di timur tengah umumnya. Berikut ini akan lebih dijelaskan tentang sejarah perkembangan keperawatan di masa Islam dan di Arab Saudi khususnya.

1. Masa penyebaran Islam/ The Islamic Period (570 – 632 M)
Dokumen tentang keperawatan sebelum-islam (pre-islamic period) sebelum 570 M sangat sedikit ditemukan. Perkembangan keperawatan di masa ini, sejalan dengan perang kaum muslimin/jihad (holy wars), memberikan gambaran tentang keperawatan dimasa ini. Sistem kedokteran masa lalu yang lebih menjelaskan pengobatan dilakukan oleh dokter ke rumah pasien dengan memberikan resep, lebih dominan. Hanya sedikit sekali lilature tentang perawat, namun dalam periode ini dikenal seorang perawat yang bersama Nabi Muhammad SAW telah melakukan peran keperawatan yaitu Rufaidah binti Sa'ad/Rufaidah Al-Asamiya (Tumulty 2001, Al Osimy, 1994) 2)

2. Masa Setelah Nabi/Post –Prophetic Era (632 – 1000 M).
Sejarah tentang keperawatan setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW jarang sekali (Al Simy, 1994). Dokumen yang ada lebih didominasi oleh kedokteran dimasa itu. Dr Al-Razi yang digambarkan sebagai seorang pendidik, dan menjadi pedoman yang juga menyediakan pelayanan keperawatan. Dia menulis dua karangan tentang "The Reason Why Some Persons and the Common People Leave a Physician Even if He Is Clever" dan "A Clever Physician Does Not Have the Power to Heal All Diseases, for That is Not Within the Realm of Possibility." Di masa ini ada perawat diberi nama "Al Asiyah" dari kata Aasa yang berarti mengobati luka, dengan tugas utama memberikan makanan, memberikan obat, dan rehidrasi.

3. Masa Late to Middle Ages (1000 – 1500 M)
Dimasa ini negara-negara Arab membangun RS dengan baik, dan mengenalkan perawatan orang sakit. Ada gambaran unik di RS yang tersebar dalam peradaban Islam dan banyak dianut RS modern saat ini hingga sekarang, yaitu pemisahan anatar ruang pasien laki-laki dan wanita, serta perawat wanita merawat pasien wanita dan perawat laki-laki, hanya merawat pasien laki-laki (Donahue, 1985, Al Osimy, 2004) 2).

4. Masa Modern (1500 – sekarang) Early Leaders in Nursing’s Development
Masa ini ditandai dengan banyaknya ekspatriat asing (perawat asing dari Eropa, Amerika dan Australia, India, Philipina) yang masuk dan bekerja di RS di negara-negara Timur Tengah. Bahkan dokumen tentang keperawatan di Arab, sampai tahun 1950 jarang sekali, namun di tahun 1890 seorang misionaris Amerika, dokter dan perawat dari Amerika telah masuk Bahrain dan Riyadh untuk merawat Raja Saudi King Saud. (Amreding, 2003) 2).

Dimasa ini ada seorang perawat Timur Tengah bernama Lutfiyyah Al-Khateeb, seorang perawat bidan Saudi pertama yang mendapatkan Diploma Keperawatan di Kairo dan kembali ke negaranya, dan di tahun 1960 dia membangun Institusi Keperawatan di Arab Saudi.

Meskipun keperawatan masih baru sebagai profesi di Timur tengah, sebenarnya telah dibangun di masa Nabi Muhammad SAW. Dimana mempengaruhi philosofi praktek, dan profesi keperawatan. Dan sejak tahun 1950 dengan dikenalkannya organized health care dan pembangunan RS di Arab Saudi, keperawatan menjadi lebih maju dan bukan hanya sekedar pekerjaan (job training) 7)

  • Keperawatan, Islam, Masa Kini dan Mendatang

Dr. H Afif Muhammad dalam seminar perawat rohani Islam di Akper Aisyiyah, Bandung 31/8/2004 mengatakan, masalah sehat dan sakit adalah alami sebagai ujian dari Allah SWT, hingga manusia tidak akan bisa terbebas dari sakit. "Sehat kerap membuat orang lupa dan lalai baik dalam melaksanakan perintah-perintah Allah maupun mensyukuri nikmat sehatnya. Kita sering menyebut kondisi yang tidak menyenangkan seperti sakit sebagai musibah yang terkesan negatif, padahal musibah berkonotasi positif," jelasnya. 9)

Tugas seorang perawat, menurut H. Afif, menekankan pasien agar tidak berputus asa apalagi menyatakan kepada pasiennya tidak memiliki harapan hidup lagi. "Pernyataan tidak memiliki harapan hidup untuk seorang muslim tidak dapat dibenarkan. Meski secara medis tidak lagi bisa menanganinya, tapi kalau Allah bisa saja menyembuhkannya dengan mengabaikan hukum sebab akibat," katanya. Perawat juga memandu pasiennya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT hingga kondisinya semakin saleh yang bisa mendatangkan "manjurnya" doa. 9)

Dr. Ahmad Khan (lulusan suma cumlaude dari Duke University) yang menemukan Ayat-ayat Al Quran dalam DNA (Deoxy Nucletida Acid) berpesan semoga penerbitan buku saya "Alquran dan Genetik", semakin menyadarkan umat Islam, bahwa Islam adalah jalan hidup yang lengkap. Kita tidak bisa lagi memisahkan agama dari ilmu politik, pendidikan atau seni. Semoga muslim menyadari bahwa tidak ada gunanya mempertentangkan ilmu dengan agama. Demikian juga dengan ilmu-ilmu keperawatan penulis berharap akan datang suatu generasi yang mendalami prinsip-prinsip ilmu keperawatan yang digali dari agama Islam. Hal ini dapat dimulai dari niat baik para pemegang kebijakan (decission maker) yang beragama Islam baik di institusi pendidikan atau pada level pemerintah. 10)

Di negara-negara timur tengah, konteks keperawatan sendiri banyak dipengaruhi oleh sejarah keperawatan dalam Islam, budaya dan kepercayaan di Arab, keyakinan akan kesehatan dari sudut pandang islam (Islamic health belief), dan nilai-nilai profesional yang diperoleh dari pendidikan keperawatan. Tidak seperti pandangan keperawatan di negara barat, keyakinan akan spiritual islam tercermin dalam budaya mereka.

Di Indonesia mungkin hal serupa juga terjadi, tinggal bagaimana keperawatan dan islam dapat berkembang sejalan dalam harmoni percepatan tuntutan asuhan keperawatan, kompleksitas penyakit, perkembangan tehnologi kesehatan dan informatika kesehatan. Agar tetap mengenang dan menteladani sejarah perkembangan keperawatan yang di mulai oleh Rufaida binti Sa'ad.

Nur Martono
Penulis, staf keperawatan, RS Amiri – Kuwait
Ditulis menjelang :
• Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW dan Ramadhan 1427 H
• Kegiatan Umroh INNAK (Indonesian National Nurses Association – Kuwait) 6 – 10 September 2006, semoga ibadahnya diterima Allah SWT





DAFTAR PUSTAKA
1)http://pusdiknakes.or.id/?show=detailnews&kode=786&tbl=artikel artikel Asuhan Keperawatan Bermutu di Rumah Sakit, Prof. Dra. Elly Nurachmah, DN SC
2). http://www.nursingworld.org/ojin/topic12/tpc12_13.htm Miller-Rosser, K., Chapman, Y., Francis, K. (July 19, 2006): "Historical, Cultural, and Contemporary Influences on the Status of Women in Nursing in Saudi Arabia" OJIN: The Online Journal of Issues in Nursing. Vol. 11, No. Available http://nursingworld.org/ojin/topic12/tpc12_13.htm (Bibiography)
3 ) http://id.wikipedia.org/wiki/Florence_Nightingale
4) http://www.fikui.or.id/?show=detailnews&kode=44&tbl=literature
5) http://www.irfi.org/articles/articles_401_450/rufaidah_bint_sa.htm Rufaidah bint Sa'ad- Historical Roots of the Nursing Profession in Islam,By Prof. Dr. Omar Hasan Kasule, Sr.
6) http://omarkasule.tripod.com/id398.html 0406-HISTORY OF MEDICINE, tarikh al tibb
7). http://www.kfshrc.edu.sa/saudization/
8).http://www.moh.gov.om/nursing/The%20contect%20of%20caring%20in%20the%20Middle%20Eastern%20nursing.htm The Context of Caring in Middle Eastern Nursing, Sandy Lovering RN BScN MBS CTN, Chief of Nursing Affairs, King Faisal Specialist Hospital &Research Center, Jeddah, KSA
9) http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0904/03/1102.htm Artikel Perawat Harus Mempunyai Rasa Cinta Kasih, 2 September 2004
10).http://www.dudung.net/index.php?naon=depan&action=detail&id=226&cat=2 Artikel Islami 06 Maret 2002 - 12:55 Ayat Suci dalam Kromosom Manusia







Thursday, August 17, 2006

61years- Indonesia Independence day





Proklamasi

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara saksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, 17 - 8 - '05
Wakil2 bangsa Indonesia.


Indonesia Merdeka,,,, in 61 years and still struggle to get more independence to more modern country ---- I Love Indonesia
(3 years in Kuwait)

Video tentang HIV/AIDS

The Top Ten Myths About HIV/AIDS


HIV 101

Kalau mau tahu tentang HIV-AIDS klikk play yahhh - semoga berguna

Thursday, August 10, 2006

Nursing Joke's - Bosen Ahhh Serius Melulu


Doctors & 3 Nurses

Three doctors and three nurses are traveling by train to a conference. At the station, the three doctors each buy tickets and watch as the three nurses buy only a single ticket. "How are three people going to travel on only one ticket?" asks a doctor.

"Watch and you'll see," answered a nurse. They all board the train. The doctors take their respective seats but all three nurses cram into a restroom and close the door behind them. Shortly after the train has departed, the conductor comes around collecting tickets. He knocks on the restroom door and says, "Ticket, please."

The door opens just a crack and a single arm emerges with a ticket in hand. The conductor takes it and moves on. The doctors saw this and agreed it was quite a clever idea. So after the conference, the doctors decide to copy the nurses on the return trip and save some money (being clever with money, and all that). When they get to the station, they buy a single ticket for the return trip. To their astonishment, the nurses don't buy a ticket at all. "How are you going to travel without a ticket?" says one perplexed doctor.

"Watch and you'll see," answered a nurse. When they board the train the three doctors cram into a restroom and the three nurses cram into another one nearby. The train departs. Shortly afterward, one of the nurses leaves his restroom and walks over to the restroom where the doctors are hiding. He knocks on the door and says, Ticket, please."

Nurse Hell!


A Doctor dies and goes to hell. The devil greets him and tells him that since he was doctor, and did some good that he could choose his eternity. The devil opens the first door, there are doctors hanging from their ankles being whipped by demons. "Oh my God, I don't want that", the doctor replies. The devil opens a second door to reveal doctors on fire being chased by huge beasts. "That one is even worse!" says the doctor, getting more nervous. The devil opens a third door to reveal doctors in lounge chairs being served tropical drinks by gorgeous, scantily clad nurses. "Sign me up for that eternity!" the doctor states. The devil then slams that door and says, "You can't go there, you weren't supposed to see that." The doctor states why can't I go there? The devil replies, "Well.... that's nurse hell."

Author Un known

Friday, August 04, 2006

INFO BEKERJA DI LUAR NEGERI DARI DEPKES RI



URGENTLY REQUIREMENT FOR INDONESIA'N NURSES



KESEMPATAN BAGI TENAGA KERJA KESEHATAN INDONESIA (TKKI)
UNTUK MENGIKUTI KURSUS DAN BEKERJA DI LUAR NEGERI.
UNTUK PERAWAT

  1. Kursus Intensif Penyiapan Perawat Internasional (KIPPI) bagi lulusan D-3 Keperawatan (di Puspronakes Jakarta, Yogyakarta, Surabaya dan Medan).
  2. Kursus Intensif Penyiapan Perawat Internasional (KIPPI) untuk ke Amerika Serikat bagi lulusan S-1 Keperawatan (di Puspronakes Jakarta dan Semarang. Rekrutmen dan seleksi KIPPI : Juni-Juli 2006, dibiayai negara dan diasramakan 5bulan.
  3. On the Job Training bagi lulusan D-3 dan S-1 Keperawatan, studi untuk status Registered Nurse (RN) dan bekerja di Amerika Serikat. Diselenggarakan di Puspronakes Departemen Kesehatan RI Jakarta, seleksi Agustus 2006 (Angkatan III).
  4. Work Study bagi lulusan D-3 Keperawatan, studi untuk gelar Bachelor of Nursing (BN) di Flinders University, Adelaide, Australia dan bekerja di RS Australia. Rekrutmen dan seleksi Angkatan I akan diselenggarakan di Puspronakes Depkes RI Jakarta dalam bulan Juli-Agustus 2006.

Persyaratan umum bagi perawat :
  • Pria, wanita, usia maks. 40 tahun, PNS/ Non PNS dengan pengalaman kerja di bidang pelayanan medis Rumah Sakit minimal 2 tahun.
  • Berkas yang diperlukan : fotocopy ijazah & daftar nilai yang telah dilegalisir, Curriculum Vitae/ riwayat hidup lengkap dengan no.telp yang bisa dihubungi, bukti pengalaman kerja, pasfoto 4x6 berwarna,
  • Surat Ijin Praktek (SIP) bagi perawat.
  • Khusus untuk OJT Amerika Serikat lampirkan bukti TOEFL minimal 470, untuk Work Study di Australia lampirkan bukti IELTS minimal 5,5.
  • Pengiriman berkas dan informasi lebih lanjut dapat menghubungi:
  • Puspronakes Depkes RI, Jln. Wijaya Kusuma Raya no 48 , Cilandak, Jakarta Selatan 12430, Telp : 75914747 Fax : 75914740.
Sumber berita : Pusgunakes Depkes

Tuesday, August 01, 2006

Privatisasi Perawat di MOH (Ministry of Health) Kuwait ?????


MoH to set new conditions for partial privatization of ‘Nursing’; Sheikh Ahmed issues 2 decisions

http://www.arabtimesonline.com/arabtimes/kuwait/view.asp?msgID=8478
Harian Arab Times, 20 Juli 2006




KUWAIT CITY: The Ministry of Health decided to implement new conditions for the partial privatization of the Nursing Sector in the Ministry. Amending these procedures became necessary after the Ministry experienced negative consequences during the privatization of the Nursing Sectors in the Al-Ahmadi and Al-Farwaniya Health Areas a few years ago, reports Al-Watan. Aside from the nursing tenders for Al-Ahmadi and Al-Farwaniya, the Undersecretaries Council of the Ministry has also approved a third tender for the private sector to provide the Ministry with 600 additional nurses.

The Technical Committee laid down the technical conditions for the private companies that will participate in the bidding for providing nurses to the Ministry. The committee asked the Ministry to prepare 12 tenders in order to cover the manpower needs of the Nursing Sector particularly the Al-Sabah Health Area which requires 50 per cent of the total number of nurses requested since it provides health services to about 60 per cent of Kuwait’s total population.
Meanwhile, Minister of Health Sheikh Ahmed Abdullah Al-Ahmed Al-Sabah issued two decisions including the reformation of the National Committee for Fighting Tuberculosis and the creation of a committee for studying the working conditions of the doctors in addition to the procedures followed for their promotion, reports Al-Anba.

Public Health Affairs Assistant Undersecretary in the Ministry Dr Ali Al-Saif was appointed as Chairman of the National Committee for Fighting Tuberculosis which will set up a working plan for the implementation of programs designed for combating tuberculosis in the country. The committee will also update the national strategy for controlling the disease in accordance to the programs of the World Health Organization (WHO) which will be implemented upon the Ministry’s approval.

In the meantime, Dr Essa Al-Khalifa has been named Chairman of the committee for studying the working conditions and the regulations followed for the promotion of the doctors. The committee will evaluate the existing regulations followed in hiring doctors and in processing their promotion according to the decisions issued by the Civil Service Commission (CSC) and the Cabinet.

Comment :
Dari berita di atas memungkinkan adanya tender untuk perawat baru untuk Sabah Area, tetapi dengan model private nursing melalui company (sebuah kemunduran baru.......)
Wallahuallam

Sunday, July 30, 2006

PERAN PERAWAT INDONESIA DALAM PENCEGAHAN PENINGKATAN KASUS HIV/AIDS ; DIPERSIMPANGAN JALAN


PERAN PERAWAT INDONESIA DALAM PENCEGAHAN
PENINGKATAN KASUS HIV/AIDS ;
DI PERSIMPANGAN JALAN


Menurut prediksi Departemen Kesehatan (Depkes), pada 2010 HIV/AIDS di Indonesia akan menjadi epidemi dengan jumlah kasus infeksi HIV bisa mencapai satu juta hingga lima juta orang, sementara akumulatif kasus AIDS pada 2010 (sejak 1987) akan mencapai 80-130 ribu orang, dan diprediksi akan terus menggelembung 1). Indonesia bahkan dewasa ini berada pada fase awal epidemi penyakit AIDS dengan epidemi HIV yang cukup serius. Menurut data Family Health International (FHI), presentase mereka yang memiliki risiko tinggi terjangkit HIV/AIDS di Indonesia antara lain, pengguna narkoba (34 persen), PSK (tujuh persen), pelanggan PSK (31 persen), waria (satu persen), gay (delapan persen), partner group berisiko tinggi (12 persen), dan lain-lain (tujuh persen). Penyakit ini menyebar cepat di kalangan pengguna narkoba dengan suntikan, pekerja seks dan pelanggannya serta melalui kontak heteroseksual seperti halnya di Papua, demikian menurut Direktur Eksekutif UNAIDS Dr Peter Piot 2)

Sebagai contoh di Jawa Barat saja penderita HIV/AIDS sebanyak 7.000-23.262 orang sampai Juli 2006. Namun, jumlah yang tercatat, penderita HIV/AIDS di Jabar hanya 1.735 kasus, menurut Sekretaris Tim Penanggulangan AIDS Perjan Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, dr Rasmia Riwawi SpKK. Jumlah itu terdiri dari 464 penderita AIDS dan 1.289 HIV. ''Estimasi penderita HIV/AIDS memang besar,'' katanya. Baru sedikitnya penderita HIV/AIDS yang tercatat, sambung dia, salah satunya disebabkan penderita belum siap diperiksa.3)

Definisi AIDS dan Sejarah Penyebarannya

AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome. Acquired artinya didapat, jadi bukan merupakan penyakit keturunan, immuno berarti sistem kekebalan tubuh, deficiency artinya kekurangan, sedangkan syndrome adalah kumpulan gejala. AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang merusak sistem kekebalan tubuh, sehingga tubuh mudah diserang penyakit-penyakit lain yang dapat berakibat fatal. Padahal, penyakit-penyakit tersebut misalnya berbagai virus, cacing, jamur protozoa, dan basil tidak menyebabkan gangguan yang berarti pada orang yang sistem kekebalannya normal. Selain penyakit infeksi, penderita AIDS juga mudah terkena kanker sehingga gejala AIDS amat bervariasi.

Virus yang menyebabkan penyakit ini adalah virus HIV (Human Immuno-deficiency Virus). Dewasa ini dikenal juga dua tipe HIV yaitu HIV-1 dan HIV-2. Sebagian besar infeksi disebabkan HIV-1, sedangkan infeksi oleh HIV-2 didapatkan di Afrika Barat. Infeksi HIV-1 memberi gambaran klinis yang hampir sama. Hanya infeksi HIV-1 lebih mudah ditularkan dan masa inkubasi sejak mulai infeksi (masuknya virus ke tubuh) sampai timbulnya penyakit lebih pendek 4)

HIV adalah bagian dari keluarga atau kelompok virus yang disebut lentivirus ditemukan dalam lingkup luas primata non-manusia. Diketahui secara kolektif sebagai virus monyet yang dikenal dengan SIV (Simian Immunodeficiency Virus). Sekarang secara umum diterima bahwa HIV merupakan keturunan dari SIV. Jenis SIV tertentu mirip dengan HIV-1 dan HIV-2, dua tipe HIV. Sebagai contoh, HIV-2 dapat disamakan dengan SIV yang ditemukan pada monyet /sooty mangabey (SIV_sm ), kadang-kadang dikenal sebagai monyet hijau yang berasal dari Afrika barat. 5)

Jenis HIV yang lebih mematikan, yaitu HIV-1, hingga akhir-akhir ini sangat sulit untuk digolongkan. Pada Februari 1999 diumumkan bahwa kelompok peneliti dari University of Alabama - AS, telah meneliti jaringan yang dibekukan dari seekor simpanse dan menemukan jenis virus (SIV_cpz ) yang nyaris sama dengan HIV-1. Simpanse ini berasal dari sub-kelompok simpanse yang disebut /Pan troglodyte troglodyte,/ yang dahulu umum di Afrika tengah-barat. Tim peneliti menegaskan bahwa ini menunjukkan simpanse adalah sumber HIV-1, dan virus ini pada suatu ketika menyeberang dari spesies simpanse ke manusia.

Telah lama diketahui bahwa virus tertentu dapat menyeberang dari hewan kepada manusia, dan proses ini dikenal dengan zoonosis. Peneliti dari University of Alabama mengesankan bahwa HIV dapat menyeberang dari simpanse karena manusia membunuh simpanse dan memakan dagingnya. Beberapa teori lain yang diperdebatkan berpendapat bahwa HIV berpindah secara iatrogenik (diakibatkan kealpaan pihak medis), misalnya melalui percobaan medis. Satu teori yang disebarluaskan secara baik adalah bahwa vaksin polio yang memainkan peranan dalam perpindahan ini, karena vaksin tersebut dibuat dengan menggunakan ginjal monyet. 5)


Pengobatan dan Pencegahan , Pilihan yang dilematis bagi Indonesia


Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan UNAIDS meluncurkan rencana untuk menyediakan obat-obat antiretroviral bagi tiga juta orang di negara-negara berkembang dan mereka yang dalam transisi sebelum tahun 2005. WHO memperkirakan bahwa enam juta orang di negara-negara miskin memerlukan pengobatan antiretroviral (ARV) yang telah dinikmati banyak pengidap AIDS di negara maju, namun kurang dari 300.000 orang yang menerimanya.

Tiga juta orang tewas pada tahun 2003 karena AIDS. Di Asia-Pasifik, menurut WHO, kini satu orang tewas setiap menitnya karena AIDS. Lima juta kasus baru HIV/AIDS tercatat di seluruh dunia tahun ini saja, sebagian besar di Afrika sub-Sahara, walau AIDS dengan cepat menjadi masalah besar di Cina, India, dan Rusia. Di India, di mana diperkirakan empat juta orang telah terinfeksi HIV, pemerintah mengatakan merencanakan untuk menyediakan obat-obat antiretroviral gratis bagi pasien-pasien AIDS-dengan membeli versi generik obat-obat itu dari perusahaan-perusahaan India dengan harga murah. Pada tahun pertama, pemerintah akan membelanjakan 2 miliar rupee (44 juta dollar AS) untuk pengobatan bagi 100.000 pasien di enam negara bagian India yang paling terkena AIDS. 7)

Menurut Ketua Harian Kelompok Studi AIDS Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RSCM Prof dr Zubairi Djoerban SpPD KHOM di sela-sela simposium ”Peningkatan Risiko Penularan HIV/AIDS pada Perempuan”, sejak 2004 pemerintah telah menyediakan obat gratis bagi pasien HIV/AIDS berupa Duviral (kombinasi 3 TC dan AZT) dan Neviral(Nevirapine). Akan tetapi, sekitar 30 persen pasien tidak cocok menggunakan obat tersebut. Ada yang mengalami alergi gatal-gatal terhadap Nevirapine atau menalami anemia karena mengonsumsi Duviral. Untuk pasien seperti ini diperlukan obat antiretroviral linik kedua atau ketiga yang harganya cukup mahal, sekitar Rp 850.000 (Efavirenz) sampai Rp 2,5 juta (Nelvinavir) per bulan, walau sudah generik.

Di Indonesia sendiri obat AIDS sekarang sudah menjadi daftar obat sosial, diproduksi sendiri oleh PT Kimia Farma sejak 8 Desember 2003 dan mendapat perhatian dari pemerintah. Sehingga obat generik AIDS dari India yang semula harganya Rp 850 ribu, sekarang dapat diperoleh dengan harga Rp 385 ribu, bahkan saat ini menjadi Rp 200 ribu harganya setelah mendapat subsidi pemerintah. Demikian menurut Prof Dr dr Samsuridjal Djauzi, SpPD yang menjabat Direktur Utama RS Kanker Dharmais, dia juga ketua Gerakan Nasional meningkatkan Akses Terapi HIV/AIDS (GN-MATHA), yang telah memperjuangkan penanggulangan dan dan penanganan penderita HIV/AIDS, untuk menghasilkan obat murah antiretroviral (ARV) generik bagi pengidap HIV/AIDS di Indonesia.7)

Di kawasan Asia Tengggara, Thailand telah berhasil menahan laju pertumbuhan infeksi baru dan mampu menyediakan terapi AIDS untuk 80 persen penduduk yang memerlukan. Sedangkan Kamboja berhasil meningkatkan cakupan terapi 50 persen dalam 2 tahun. Indonesia juga berhasil meningkatkan cakupan terapi secara nyata dan merupakan salah satu dari tiga negara di kawasan Asia Tenggara yang telah berhasil memproduksi sendiri obat AIDS (antiretroviral).

Dengan melaksanakan program pencegahan dan terapi yang baik, Ditahun 2005 Thailand berhasil menurunkan jumlah infeksi baru HIV yang diperkirakan 140.000 sampai 150.000 setahun, hanya menjadi 17.000. Sejak 1984 sekitar 551.000 orang telah meninggal di Thailand karena AIDS. Namun, program penanggulangan yang efektif di negara ini kemudian juga dapat mencegah 540.000 kematian 8)

Keberhasilan Thailand, Uganda serta beberapa negara lain dalam menekan angka penularan dapat kita tiru. Intinya adalah informasi, hubungan seks yang aman serta mengurangi kemudharatan penggunaan jarum suntik di kalangan penggunaan narkoba. Kita sudah tak punya waktu lagi untuk terus berdebat. Umpama rumah kita sedang terbakar maka kita tak dapat menghabiskan waktu untuk membahas bagaimana memadamkan api, namun semua harus berusaha. Orang tua, kalangan agama, guru, tokoh masyarakat amat berperan dalam meningkatkan daya tahan keluarga terutama remaja dalam mencegah penularan HIV/AIDS. Dua jalur penting penularan yang sekarang ini terjadi adalah penggunaan narkoba dan hubungan seks yang tak aman. Kalangan kesehatan perlu diberi kesempatan untuk melakukan upaya dengan sungguh-sungguh untuk melakukan upaya pencegahan yang telah terbukti bermanfaat. 6)

Pemerintah daerah juga diharapkan dapat meningkatkan kontribusinya pada upaya penanggulangan AIDS. Selain itu, upaya untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna program penanggulangan AIDS harus terus diusahakan. Di beberapa daerah Indonesia prevalensi HIV/AIDS masih rendah. Namun itu tidak berarti bahwa upaya penanggulangan belum perlu dilakukan. Justru pada tingkat prevalensi rendah ini upaya pencegahan akan lebih berhasil.

Biaya yang akan timbul karena tidak melakukan upaya pencegahan (cost of inaction) sesuai dengan pengalaman masa lalu amatlah besar. Karena itulah informasi mengenai cara penularan dan upaya pencegahan sudah harus dilakukan di daerah yang prevalensi HIV/AIDS masih rendah. 8)


Ditetapkan pula strategi pembangunan kesehatan beserta program-program pokoknya. Dalam Program Pembangunan Nasional (PROPENAS) disebutkan bahwa salah satu program pokok pembangunan kesehatan adalah peningkatan perilaku sehat dan pemberdayaan masyarakat, yang karenanya menempatkan promosi kesehatan sebagai salah satu program unggulan. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2004-2009 dan Rencana Strategis (Renstra) Depkes 2005-2009 juga disebutkan bahwa Promosi Kesehatan merupakan program tersendiri dan diposisikan pada urutan pertama. Ini menegaskan bahwa Paradigma Sehat dengan Visi Indonesia Sehat-nya tersebut sangat sesuai dengan Deklarasi Jakarta,

Selanjutnya masing-masing program termasuk Promosi Kesehatan menyusun visi, misi dan program kegiatannya, serta sasaran atau target yang harus dapat terukur. Dalam kaitan itu ditetapkan Visi Promosi kesehatan yaitu : Berkembangnya masyarakat Indonesia baru yang berbudaya sehat. Misinya adalah: (1) Melakukan advokasi kebijakan publik yang berdampak positif pada kesehatan; (2) Mensosialisasikan pesan-pesan kesehatan; (3) Mendorong gerakan-gerakan sehat di masyarakat; 9)

Peran Perawat Dalam Penanggulangan AIDS ; di persimpangan jalan

Sudah puluhan dokter, artis, tokoh masyarakat yang peduli dan mendirikan LSM atau Lembaga pemerintah yang bergerak dalam memerangi pengobatan, penanggulangan dan perawatan pasien AIDS/HIV di Indonesia saat ini; kemana perawat Indonesia ???
Banyak pastinya perawat yang bekerja di semua RS di Indonesia yang saat ini telah berpengalaman dalam menangani pasien AIDS/HIV, namun sudahkah advokasi publik atau masyarakat mengenal mereka ???

Lantas akan semakin berderet pertanyaan guna merefleksikan peran profesi dalam masalah ini, apakah memang tidak ada tokoh perawat yang siap dan berpengalaman dan sanggup dikenal publik dan masyarakat dalam penanggulangan AIDS/HIV, ataukah perawat memang profesi yang masih malu-malu mengakui keprofesiannya ???? Sebuah Autorefleksi

Masyarakat telah mengenal beberapa nama :
  1. Prof dr Zubairi Djoerban SpPD KHOM dengan POKDISUS AIDS-nya http://www.pokdisus-aids.org/
  2. Prof Dr dr Samsuridjal Djauzi, SpPD dengan (GN-MATHA)
  3. Artis : Nurul Arifin http://www.nurularifin.com/ind/
  4. Baby Jim Aditya S yang juga artis http://www.babyjimaditya.com/
Dan banyak ratusan yayasan lainnya yang bergerak di advokasi dan perawatan penderita ODHA, tetapi entahlah mungkin saja ada yang dikelola oleh perawat.


Bergabungnya para dokter, perawat, apoteker serta relawan merupakan wahana untuk saling memahami, menghargai serta meningkatkan kerjasama dalam penanggulangan dan pengobatan AIDS. Kerjasama yang baik ini akan merupakan, modal kuat untuk melayani masyarakat. 10)

Kedekatan perawat dengan para pasien HIV memang menjadi kunci dalam proses kesembuhan pasien. Peran perawat memang dianggap wajar sebagai bagian dari tugas atau pekerjaan yang memang harus dilaksanakan. Nyatanya, menjadi perawat pasien HIV/AIDS tak sekadar menjalankan kewajiban. Frekuensi pertemuan yang rutin diban¬ding para dokter yang membuat perawat berubah menjadi 'perawat plus.' 9)

Jika selama ini peran pendamping atau sukarelawan yang banyak disorot, peran perawat HIV/AIDS pun sudah sepatutnya mendapat perhatian. Rugaiyah atau biasa disapa Ria, 38, adalah salah satu 16 perawat pasien HIV/AIDS Unit Perawatan Intermediate Penyakit Infeksi (UPIPI) RSU Dr Soetomo Surabaya yang menerima piagam penghargaan dari Gubernur Jawa Timur, Imam Oetomo, pekan lalu, ini mungkin tak seban¬ding jika dibandingkan dengan risiko yang harus mereka terima. Risiko tertular membuat banyak perawat segan tatkala ditugaskan di UPIPI. Alih alih ada juga yang rela memilih keluar pekerjaan. "Kalau perawatnya saja takut, bagaimana dengan keluarganya? Tugas kami di awal awal UPIPI berdiri memang berat," kenang Ria. 9)

Untuk itu diperlukan kegiatan yang berkaitan dengan HIV/AIDS difokuskan pada tersusunnya Pedoman Asuhan Keperawatan pasien dengan HIV/AIDS, meningkatnya kemampuan perawatan dalam melayani pasien dengan HIV/AIDS serta makin banyaknya perawat yang terlibat dalam upaya upaya penanganan HIV/AIDS di Indonesia. 12)

Penanganan HIV/AIDS dengan ARV saat ini terdapat beberapa kendala terutama kelemahan pada sistem kesehatan, termasuk kurangnya jumlah tenaga professional kesehatan. Hal ini sering menjadikan alasan rasional untuk mengadakan pelatihan kepada tenaga pekerja kesehatan di masyarakat (Community Health Workers) dalam rangka membantu dalam pemberian ARV dan memonitor kepatuhan (adherence). Disaat yang sama terjadi pertumbuhan jumlah perawat disejumlah negara yang belum diberdayakan untuk meningkatkan access dalam upaya preventive, perawatan (care) dan pengobatan (treatment) AIDS. Kondisi tersebut juga terjadi di Indonesia, dilihat dari pertumbuhan lulusan sekolah perawat cukup tinggi.

Tahun 1997 CDC melaporkan 52 kasus petugas kesehatan lain HIV akibat kecelakaan ditempat kerja, sedangkan 114 orang petugas kesehatan lain diduga terinfeksi ditempat kerja. ICN 2005 melaporkan bahwa estimasi sekitar 19-35 % semua kematian pegawai kesehatan pemerintah di Afrika disebabkan oleh HIV/AIDS. Sedangkan di Indonesia data ini tidak tersedia dengan baik. Namun dari kejadian itu resiko pada perawat paling besar tertular terutama akibat dari terpapar cairan dan tertusuk jarum, sehigga berkembang upaya untuk mencegah terinfeksi pasca paparan HIV termasuk di Indonesia. 13)

Dampak dari HIV/AIDS juga memicu faktor migrasi pekerja kesehatan di sub sahara Afrika, dengan akibat tidak langsung menyebabkan peningkatan beban kerja makin perawat. Di Indonesia belum terjadi migrasi perawat sebagai dampak HIV/AIDS, tetapi yang lebih mengemuka adalah tidak terpenuhinya standar-standar yang harus dilakukan dalam memberikan asuhan keperawatan pasien HIV/AIDS dan masih banyak pula stigma serta diskriminasi pelayanan yang dilakukan oleh perawat terhadap pasien HIV/AIDS di Indonesia. 8)

Pada akhirnya PPNI sangat concerned dengan pertumbuhan jumlah orang yang menderita HIV/AIDS, saat ini estimasui dunia menjadi 16 juta orang serta pada tahun 2020 menjadi 20 juta orang. Terutama sekali PPNI conserned pada bagaimana access terhadap upaya preventive, perawatan dan pengobatan pada pasien HIV/AIDS sesuai dengan standar baik di RS maupun di masyarakat.13)

Untuk itu peran perawat dalam advokasi AIDS lebih akan berdampak ganda (mengurangi resiko infeksi nosokomial AIDS dan meningkatkan peran dalam preventif, promoti dan rehabilitatif) dalam penanggualangan AIDS/HIV, misalnya dengan jalan :
  1. Membuat LSM atau lembaga penelitian AIDS/HIV
  2. Advokasi KIE (komunikasi-informasi dan edukasi) lewat website/internet
  3. Mengadakan pelatihan/seminar publik
  4. Menjaring tokoh perawat Indonesia dalam penanggulangan AIDS/HIV agar masyarakat lebih mengenal keperawatan lebih maju dan modern
  5. Mengoptimalkan pemanfaatan dana hibah/grant lewat bidang keperawatan AIDS/HIV
  6. Membuat SOP Askep AIDS/HIV
Hingga pada akhirnya peran perawat Indonesia dalam penanggulangan, perawatan, pencegahan dan pengobatan AIDS/HIV menuju jalan maju, tidak ragu ke kanan dan ke kiri, terlebih lagi mundur kebelakang.



Nur Martono

http://www.nurmartono.blogspot.com/

http://www.belajarnclexbersama.blogspot.com/

ADVERTISE

DICARI TOKOH PERAWAT
DICARI PERAWAT
DICARI KOMUNITAS NURSING BLOGGER

Untuk bergabung bersama dalam tim manajement mengembangkan website :

www.carehiv-aidsindonesia.com







DAFTAR PUSTAKA
1) http://www.gatra.com/artikel.php?id=95752
2) http://www.cybermq.com/cybermq/detail_topikutama.php?id=114&noid=2
3) http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=256706&kat_id=90
4) http://www.mer-c.org/mc/ina/ikes/ikes_0604_aids.htm Apa yang perlu kita ketahui tentang AIDS, Dr. Edi Patmini SS
5) http://spiritia.or.id/Asalusul.php
6) http://situs.kesrepro.info/pmshivaids/agu/2004/pms02.htm
7) http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=167629&kat_id=85&kat_id1=&kat_id2=
8) http://situs.kesrepro.info/pmshivaids/apr/2006/pms02.htm Penanggulangan AIDS Memasuki Babak Baru, Samsuridjal Djauzi,
9) http://hqweb01.bkkbn.go.id/hqweb/ceria/mbrtpage109.html Cerita Remaja Indonesia - Situs Informasi Kesehatan Seksual dan Masalah Sosial Remaja
10) http://www.pokdisus-aids.org/pel_penata_HIV.htm
11) http://www.bnn.go.id/konten.php?nama=Berita&op=detail_berita&id=233&mn=6&smn=a Alokasi Dana untuk Obat Antiviral
12) http://www.inna-ppni.or.id/index.php?name=News&file=article&sid=66 KEGIATAN WORKSHOP ASOSIASI/PERSATUAN PERAWAT
NEGARA NEGARA YANG MEMPUNYAI PROJEK KERJA SAMA DENGAN CANADIAN NURSES ASSOCIATION (CNA)
13) http://www.inna-ppni.or.id/index.php?name=Forums&file=viewtopic&t=28 HIV dan AIDS, Forum Index, Harif Fadilah