Friday, November 24, 2006

If One Day was 24 Hour For Job and Productivity As Indonesian Nurses in Overseas


If One Day was 24 Hour For Job and Productivity as Foreign Nurses - For Indonesian Nurses in Overseas

As a nurse sometimes I wonder how hard this job to make accomplish for our customer satisfaction for patient and the doctor. Even those its more hard become foreign nurses, among some part of Indonesian nurses in overseas, which off course they do it because the money reason.

Now a day almost 5000 Indonesian nurses working in out of Indonesian after Indonesian economic crisis in 1998, and undervalue of Indonesia rupiah currency between U$ dollar. Many of them is still young and productive, still eager to get more accomplish in nursing career and continue their nursing education.

Sometimes its hard to believe you can work in overseas as nurses, because our nursing education still reluctant to prepare many nursing student in Indonesia to make ready working in overseas.

Meanwhile if you already worked in overseas such as Kuwait, you will miss some opportunity instead money. Let me explain to you, As we know as nurses we work at shift time : morning (7am – 2 pm), evening (2 pm – 10 pm) and night duty (10 pm – 7 am). But still not all of us will face job hour like that, especially if we working in daily at clinic (no night duty). "Time seen going long", but its trap you between money and opportunity, its hard to believe to choose it.

I try to count it even just only wonder how its came ?

Let says we worked at 8 hour per days, and at 6 days per week , so its mean 8 x 6 = 48 hour/weeks. Base on my title "If one day was 24 hour job" its mean actually we have job hour only for 2 days per week (of course not include time effective work). Its mean 2 days x 4 week = 8 days a month, and 8 x 12 = 96 days/years, WOW ,,,,,,,

For most of us as expatriate nurses here, we have 40 until 60 days per years for annual leave. So its mean total days effective was 96 days for worked and 40 days annual leave, so total 136 days/year. Its mean 356 days per years deducted 136 days equal 220 days lost time.

And you can imagine guys, almost 61.79% our time is hang out. And If you working as foreign nurses here such as 10 years, its mean you just working in 4 years effectively and plus annual leave, and remaining 6 years ? Allahu Kareem

That’s way as a Moslem in Quran Al Asr (Time) explain :
Surah 103 Al-'Asr (Time) Bismillaah ar-Rahman ar-Raheem Wal 'Asr Innal insaana lafee khusr Illal ladhenna aamannu Wa 'amilus saalihaati wa tawaasau bilhaqq Wa tawaasau bis sabr

In the name of Allah, the Beneficent, the Merciful Time is witness that, surely, mankind suffers loss, except for those of faith, Who do good, and become a model of truthful living, and together practice patience and constancy.

http://www.sufism.org/society/salaat/ayats/asr.html

Indeed many of us try to active in nursing organize, learning about Moslem, living in Indonesian society, doing some business, etc, but still "Time is witness that, surely mankind suffer loss, except ……….."

That’s why we must have target, use our strength to brain exercise, keep manage your money and productivity between trap of them. Don’t ever things that you enjoy in here, and you must do something in spare time. Surely mankind suffer loss……

This is only for encourage you to joint our distance learning program with Nursing Faculty of University of Indonesia, to continue your education even now you're in overseas.
nice link :
http://www.findarticles.com/
http://www.icn.ch/

Sunday, November 19, 2006

APLIKASI TELEMETRY DALAM ASUHAN KEPERAWATAN PENYAKIT JANTUNG KORONER





APLIKASI TELEMETRY DALAM ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN PENYAKIT JANTUNG KORONER (PJK)
DI INDONESIA

Indonesia saat ini menghadapi masalah kesehatan yang kompleks dan beragam. Tentu saja mulai dari infeksi klasik dan modern, penyakit degeneratif serta penyakit psikososial yang menjadikan Indonesia saat ini yang menghadapi " threeple burden diseases".

Namun tetap saja penyebab angka kematian terbesar adalah akibat penyakit jantung koroner – "the silence killer". Tingginya angka kematian di Indonesia akibat penyakit jantung koroner (PJK) mencapai 26%. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga Nasional (SKRTN), dalam 10 tahun terakhir angka tersebut cenderung mengalami peningkatan. Pada tahun 1991, angka kematian akibat PJK adalah 16 %. kemudian di tahun 2001 angka tersebut melonjak menjadi 26,4 %. Angka kematian akibat PJK diperkirakan mencapai 53,5 per 100.000 penduduk di negara kita. Tingginya angka tersebut, mengakibatkan PJK sebagai penyebab kematian nomor satu. 1)

Sebagian besar PJK terjadi akibat penurunan suplai oksigen (iskemia) pada otot jantung lantaran penyempitan pembuluh koroner oleh pengerasan di dinding dalam pembuluh koroner yang disebut plak aterosklerosis. 2) Penderita penyakit jantung koroner yang mengalami serangan jantung cukup banyak. Di RS Dr Sardjito misalnya, setiap bulannya terdapat sekitar 30-40 pasien yang mengalami serangan jantung dan masuk ke ICCU. ''Sekarang tendensi penderitanya semakin muda. Ada pasien berusia 30 tahun sudah mengalami serangan jantung.'' Kasus serangan jantung pada orang berusia muda lebih kerap disebabkan oleh faktor gaya hidup yang kurang sehat, misalnya terbiasa mengonsumsi makanan berlemak, merokok, dan kurang olah raga. ''Penyakit jantung koroner di usia muda ini lebih banyak diderita oleh pria, sementara wanita biasanya di atas 55 tahun.'' 3).

Angka ini hampir sama di belahan negara dunia lainnya, penyakit jantung merupakan penyebab kematian nomor satu pada orang Amerika dewasa. Setiap tahunnya, di Amerika Serikat:
• 478000 orang meninggal karena penyakit jantung koroner.
• 1,5 juta orang mengalami serangan jantung.
• 407000 orang mengalami operasi peralihan.
• 300000 orang menjalani angioplasti.
Penyakit jantung, stroke, dan aterosklerosis merupakan penyakit yang mematikan. Di seluruh dunia, jumlah penderita penyakit ini terus bertambah. Ketiga kategori penyakit ini tidak lepas dari gaya hidup yang kurang sehat, yang banyak dilakukan seiring dengan berubahnya pola hidup.4)

Dari hasil pengalaman klinis di Kuwait masalah yang sama dihadapi. Menurut seorang teman yang bekerja di ruang gawat darurat medikal, rata-rata 30 pasien dengan keluhan chest pain (nyeri dada) dan MI (myocard infark) setiap harinya dirawat, dan ini baru dari satu RS di Kuwait saja. Namun ada yang menarik saat dalam perawatan pasien dengan PJK di ruangan medikal/surgikal, yakni ada alat yang dikenal dengan nama TELEMETRY. Alat tersebut akan dibahas dalam tulisan ini, guna membantu mengenalkannya untuk rumah sakit, dokter dan perawat di Indonesia. Sayangnya belum ada informasi atau akses, apakah telemetry telah dipergunakan di RS di Indonesia atau minimal di RS Jantung - Harapan Kita.

Telemetry Dalam Perawatan Pasien dgn PJK/ACS (Acute Coronary Syndrome)

Ada kalanya pasien dengan PJK/ACS saat dirawat di rumah sakit cukup memerlukan perawatan di ruang stabil, seperti di ruang rawat medikal/surgikal tanpa harus dirawat secara intensif di CCU. Disini ada satu alat yang digunakan untuk memonitor irama jantung/sinus rytme dan gambaran rekaman EKG jantung pasien yang dikenal dengan nama telemetry.

Alat ini berukuran sebesar ponsel umumnya diletakkan di dada pasien, dan dapat dimasukkan saku dengan tali pengikat yang dikaitkan dengan elektroda (5 – 6 kabel). Telemetry dilekatkan melalui kabel , dengan tempat sama seperti saat meletakkan patch alat monitor jantung. Sehingga meskipun pasien selalu dianjurkan untuk bedrest/tirah baring bagi penderita PJK/ACS, namun dengan telemetry pasien tidak selalu memerlukan cardiac monitor yang statis.

Sehingga jika pasien tersebut ingin ke toilet ataupun melakukan latihan/exercise, pasien dapat selalu termonitor kondisi jantungnya dengan monitor dari ruang telemetry/CCU. Telemetry bersifat portable dan tidak menyakitkan pasien. Namun apabila pasien ingin mandi atau melakukan prosedur khusus (CT, X-ray, Echocardiogram, dsb), maka telemetry perlu dilepas, karena terdapat rangkaian elektrik dan hantaran gelombang suara yang dapat mengganggu pasien.

Telemetry merupakan alat komunikasi wireless (gelombang suara) yang merubah gelombang suara kedalam bentuk data. Prinsip dasar telemetry adalah menangkap parameter dalam frekuensi gelombang, yang kemudian dirubah kedalam data. Setelah itu data ini dapat ditransfer ke media lain, seperti telepon, jaringan komputer atau melalui serat optic.

Alat ini dalam bidang kesehatan dikenal dengan istilah Bio telemetry atau The Wireless Medical Telemetry Service (WMTS), yang umum dimonitor dari ruang CCU (Coronary Care Unit). Telemtery digunakan pada pasien di ruang medikal/penyakit dalam atau surgikal/bedah , untuk merekam abnormalitas irama/denyut jantung. Pasien dipasang telemetry (dengan 5 – 6 kabel patch), yang dapat langsung merekam dan mengintreprestasikan data irama jantung pasien. Alat ini sangat berguna untuk diagnosis awal kondisi patologi jantung oleh dokter dan membantu perawat melihat kondisi penyakit pasien jantung koroner akut atau kritis. 5)

Berikut adalah beberapa definisi telemetry dari
http://dictionary.reference.com/browse/telemetry antara lain adalah :

1. any of certain devices or attachments for determining distances by measuring the angle subtending a known distance. 2. Electricity. the complete measuring, transmitting, and receiving apparatus for indicating, recording, or integrating at a distance, by electrical translating means, the value of a quantity. 3. to transmit (radio signals, data, etc.) automatically and at a distance, as between a ground station and an artificial satellite, space probe, or the like, esp. in order to record information, operate guidance apparatus, etc.

Secara mudahnya telemetry adalah "satu alat penangkap data yang portable, yang menggunakan sistem transmisi gelombang suara dan tanpa kabel". Atau ada juga yang menyebutnya "ilmu dan tehnologi yang menggunakan instrument pengukuran data menggunakan gelombang suara, dengan tanpa kabel, radio, remote, dari pesawat antariksa, kendaraan bergerak, manusia dan kondisi fisik hewan dsb".

Tentu saja aplikasi telemetry sangat ditunjang dengan kemampuan dokter/perawat dalam membaca ECG (elektocardiogram), namun saat ini telemetry yang ada telah didesain sedemikian rupa terkoneksi dengan program komputer yang langsung menganalisa patologi kelainan jantung pasien. Seperti sinus bradikardia/takikardia, VT (Ventrikel Tacycardia) , AF (Atrial Fibrilasi), MI (myocard infark) yang fatal dapat segera terdeteksi. Sehingga perawat telemetry akan segera menginformasikan ke perawat ruang medikal/surgikal, akan adanya kelainan irama jantung pasien dan perawat di ruangan medikal/surgikal akan melakukan ECG dan menginformasikan ke dokter untuk dapat segera mem-follow up lebih lanjut.

Bagaimana penggunaan telemerty

Pada mulanya alat ini banyak dipergunakan untuk kepentingan militer seperti untuk aero telemetry dalam unmanned air vehicle (UAV)/pesawat tanpa awak untuk pemetaan intelejen, pertahanan sistem angkasa luar, menangkap sinyal rudal dan sistem pertahanan udara. Telemetry bahkan juga di gunakan untuk kepentingan industri minyak dan pabrik kimia untuk menangkap getaran alat-alat di pabrik, untuk kegiatan balap mobil guna mengkaji kecepatan mobil, getaran kendaraan dan fungsi kendaraan; serta untuk kepentingan kegiatan alam bebas, seperti memonitor lokasi hewan di hutan atau laut dengan melalui GPS (Global Positioning System).

Telemetry yang menggunakan transmisi wireless/gelombang suara, dapat memonitor kondisi suatu lingkungan atau parameter lainnya. Alat ini semula banyak digunakan untuk kepentingan satelit angkasa luar, robot bergerak, dan umum dipakai di stasiun angkasa luar seperti the Space Shuttle and the International Space Station (ISS). Alat ini banyak digunakan untuk memonitor kondisi fisik astronot, dan memastikan lingkungan kerja yang adekuat di stasiun angkasa luar. Telemetry juga digunakan oleh Hubble Space Telescope (HST) teleskop angkasa luar terbesar di Amerika Serikat.

Seperti Satelit Lapan-TUBSAT merupakan pengembangan dari satelit eksperimental yang pernah dibangun di TUB (Technical University of Berlin) dan Lapan di Indonesia. Satelit ini membawa sistem komunikasi untuk keperluan telemetry and telecommands (TTC) yang beroperasi pada frekuensi 436,075 Megahertz dengan laju transfer data 1200 bps untuk kepentingan Indonesia. Data video dari sistem kamera dikirimkan ke stasiun bumi melalui sistem komunikasi data pada frekuensi 2220 Megahertz. 7)

Transmiter telemetry terdiri dari beberapa perangkat yaitu sebuah encoder merupakan instrument yang membaca sinyal digital atau analog, modulator dan transmitter wireless dengan antena. Telemetry terdiri dari antena penerima, dan set amplifier radio rekuensi, sebuah demodulator dan alat perekam gelombang suara denyut jantung. Alat ini akan dapat memproses data rekaman denyut jantung dan menganalisanya melalui penghubung komputer. 8)

Telemetry Menangkap Suara dan Irama Denyut Jantung

Gelombang radio yang dipakai untuk telemetry berbeda-beda tergantung tujuan penggunaan alat ini. Untuk kepentingan aero space/kegiatan angkasa luar gelombang yang digunakan di Amerika Serikat adalah 2.300 – 2.390 MHz, sedangkan di Kanada menggunakan gelombang 2.300 – 2.483,5 MHz.

Sedangkan gelombang untuk medical telemetry di AS sendiri menggunakan frekuensi 460 – 470 MHz, namun masih diduga dapat terjadi interference gelombang radio. Wireless Medical Telemetry Service (WMTS) gelombang disana memiliki beberapa frekuensi meliputi 608-614 MHz, 1395-1400 MHz, and 1427-1432 MHz.

Frekuensi gelombang ini masih terus dikaji karena adanya interferensi/pengaruh dari gelombang radio yang digunakan oleh polisi, pemadam kebakaran, taksi dan perusahaan truk, yang dapat mempengaruhi keselamatan pasien.9)

Wireless medical telemetry service (WMTS) adalah sebuah alat telemetry yang digunakan untuk memonitor parameter fisiologi pasien/tanda-tanda vital , umumnya irama jantung yang menggunakan komunikasi jarak jauh dengan gelombang radio / radio-frequency (RF). Komunikasi ini terjadi antara transmitter yang diletakkan di tubuh pasien dan tempat pusat monitor yang tersentral yang umumnya diawasi beberapa orang perawat, melalui komputer. Tentu saja telemetry dapat membantu pasien agar tetap dapat melakukan aktifitas dan tidak terganggu dengan cardiac monitor yang menggunakan koneksi hard-wire dan layar yang berada dekat tempat tidur pasien. 10)

Wireless Medical Telemetry Service (WMTS) di Amerika Serikat sekarang diset dalam frekuensi 608 – 614 MHz, 1395 – 1400 MHz, 1429 – 1432 MHz untuk menghindari interference dari gelombang lainnya. AHA (American Hospital Association) merekomendasikan kelompok kerja (pokja) WMTS, dan mendefinisikan WMT (wireless medical telemetry ) sebagai "the measurement and recording of physiological parameters and other patient-related information via radiated bi- or unidirectional electromagnetic signals"
Bahkan disana telah dibuat aturan lebih lanjut, tentang pelayanan kesehatan yang berhak menggunakan WMTS, termasuk dokter, perawat, dan tehnisi telemetry dan juga pelatihan penggunaannya. Disana telah dibuat aturan tentang peralatan telemetry, batasan power, emisi gelombang suara, sistem proteksi, agar tidak mengganggu gelombang yang digunakan untuk kepentingan proyek angkasa luar AS. Semisal harus berjarak 80 km dari pusat proyek NASA dan berkoordinasi tentang penggunaan gelombang yang digunakan dengan pihak militer.11)

Telemetry merupakan bagian telemedicine. Penyediaan pelayanan kesehatan (termasuk klinis, pendidikan dan pelayanan administrasi) jarak jauh, melalui transfer informasi (audio, video, grafik), dengan menggunakan perangkat-perangkat telekomunikasi (audio-video interaktif dua arah, komputer, dan telemetri) dengan melibatkan dokter, perawat, pasien dan pihak-pihak lain.12)

Penyuluhan Kesehatan Pada Pasien Yang Menggunakan Telemetry

Penyuluhan kesehatan pada pasien dengan penderita penyakit jantung koroner sangat penting. Sehingga peran perawat sebagai tenaga kesehatan sangatlah penting disini, termasuk kepada pasien dengan penggunaan telemetry. Perawat telemetry adalah perawat yang memiliki keahlian tinggi, karena diharapkan mampu menganalisa rekaman EKG dan melakukan asuhan keperawatan yang akurat, serta memberikan penyuluhan kesehatan kepada pasien.

Penderita PJK saat dirawat menggunakan telemetry sangat memerlukan penyuluhan kesehatan. Dalam artikel tentang Teaching patients about telemetry, Squires, Allison, Ciecior, Dana 2000, memberikan satu ilustrasi kasus :.
"Bob Baird, 47, is in your telemetry step-down unit following a myocardial infarction (MI). He's in bed, watching TV, when he goes into supraventricular tachycardia with a rate of 150 beats/ minute. The monitor alarm at the nurses' station sounds, and you hurry into his room. Mr. Baird seems fine, so you ask him about chest discomfort and a few other assessment questions, then call the physician. Mr. Baird doesn't have a display cardiac monitor in his room and, with the memory of his MI fresh in his mind, is getting worried, especially when you administer intravenous adenosine as ordered. Although his heart rate drops to 80 beats/ minute and his rhythm converts to normal sinus rhythm, he's worried. He wonders, Am I really okay? "

Sebagai perawat, apa yang semestinya kita jelaskan dan beri penyuluhan kesehatan terhadap pasien yang menggunakan telemetry ? Ternyata di Amerika Serikat sendiri diperoleh data, bahwa banyak perawat telemetry yang tidak atau sedikit sekali memberikan penyuluhan kesehatan dan informasi tentang telemetry serta asuhan keperawatannya.

Rata-rata litelatur lebih menjelaskan tentang tehnologi telemetry. Namun sedikit sekali yang menjelaskan tentang apa reaksi pasien terhadap telemetry, dan apa yang seharusnya perawat ajarkan tentang telemetry dan alat cardiac monitor yang lain kepada pasien.

Dari hasil penelitian terhadap 43 pasien CCU yang menjalani bedah jantung , didapatkan 63% pasien tidak mendapatkan penjelasan tentang telemetry. Sebagian besar mereka senang jika semua informasi tentang tindakan dijelaskan terlebih dulu. Alasan mengapa perawat tidak menjelaskannya, adalah karena keterbatasan waktu. Dan sebagian besar perawat menganggap tehnologi ini sudah biasa, namun tentu saja berbeda dengan asumsi pasien yang tentu belum memahami tentang alat ini.13)

Ada satu studi yang pernah dilakukan oleh Theresa Reilly, Humbreck, J Rejck di Abington Memorial Hospital, 2002 tentang penggunaan Nurse-managed model dalam perawatan pasien dengan telemetry di ruang medical-surgikal unit. Studi ini menggunakan model retrospektif/cohort dimana perawat telemetry yang telah bersertifikasi menggunakan kriteria penilaian dokter - untuk mengakaji kondisi 1000 pasien yang menggunakan telemetry selama 5,5 bulan. Hasil yang didapatkan ternyata jumlah jam pemasangan telemetry lebih singkat 39.8 jam dibandingkan dengan 62 jam dengan model manajemen telemetry biasa. 76 pasien, dari total 1000 pasien membutuhkan perawatan lebih lanjut (CCU) guna mendapatkan perawatan lebih intensif. 14)

Perawat telemetry

Di Amerika Serikat khususnya perawat telemetry adalah perawat yang paling dicari dan digaji lebih mahal dari perawat lainnya. Coba saja anda klik lewat search engine google kata "telemetry nurses" maka akan banyak sekali lowongan kerja untuk itu disana.

Perawat telemetry melakukan asuhan keperawatan yang menghubungkan pasien dengan mesin pengukur denyut jantung, frekuensi pernapasan, saturasi oksigen dalam darah, dan informasi EKG. Alat kecil ini dihubungkan dengan layar komputer dimana perawat telemetry dapat memonitor, sehingga selanjutnya dapat menentukan diagnosa keperawatan secara tepat dan cepat.

Salah satu komponen utama perawat telemetry adalah pendidikan. Perawat telemetry harus memiliki kemampuan dasar tentang tehnologi kedokteran dan pengobatan untuk penyakit kardiovaskular, sering menghadiri seminar, dan pendidikan kursus tambahan seperti ACLS (AcuteAdvanced Cardio Live Support) dan Kursus EKG. Mereka juga harus mampu memberikan penyuluhan kesehatan kepada pasien dan keluarga tentang diet, exercise, pengobatan, pembatasan aktifitas pasien, dsb.

Perawat telemetry umumnya berhubungan dengan pasien yang memiliki riwayat bedah jantung yang mendapatkan pengobatan khusus gangguan jantung. Sehingga pengetahuan tentang EKG, patofisiologi gangguan jantung khususnya aritmia jantung, asuhan keperawatan dan pengalaman klinis khususnya di CCU sangat diperlukan.15)

Nur Martono
base on my daily saw

Daftar Pustaka :
1. http://www.suaramerdeka.com/harian/0602/20/kot06.htm
2. http://www.sinarharapan.co.id/
3. http://www.waspada.co.id/serba_serbi/kesehatan/
4. http://id.inaheart.or.id/?p=49
5. http://en.wikipedia.org/wiki/Telemetry
6. http://dictionary.reference.com/browse/telemetry
7. http://kompas.com/kompas-cetak/0512/02/muda/2256755.htm
8. http://whatis.techtarget.com/
9. http://www.fda.gov/cdrh/safety/111605-wmts.html
10. http://www.fcc.gov/Bureaus/Engineering_Technology/
11. http://www.fda.gov/cdrh/emc/wmt-about.html
12. http://www.idionline.org/iptek-isi.php?news_id=1003
13. http://www.findarticles.com/
14. http://www.aacn.org/AACN/
15. http://www.nursingdegreeguide.org/articles/


Saturday, November 11, 2006

Undangan Training and Workshoop Blog - HKN 2006 untuk Perawat Indonesia di Kuwait



PERSATUAN PERAWAT NASIONAL INDONESIA BRANCH KUWAIT

INDONESIAN NATIONAL NURSES ASSOCIATION IN KUWAIT (INNA-K)

جمعيه التمريض الاندونيسي في الكويت

Secretary : Al-Nuroh Building 4th Floor, Flat No. 19, Reggae, Kuwait telp:+9656796899; +9656713860

http://www.inak.tk. ; http://www.inna-ppni.or.id PO BOX .26109, safat 13121, Kuwait City


Dalam Rangka Hari Kesehatan Nasional (HKN 2006) Mengundang Teman-Teman Perawat Indonesia di Kuwait untuk mengikuti kegiatan "TRAINING AND WORKSHOOP NURSING BLOG/WEBLOG "(Aplikasi Tehnologi Informatika melalui Internet untuk Perawat ).

Materi Pelatihan :
1. Dasar-dasar Pengenalan Blog
2. Penulisan Artikel, sitasi dan link
3. Template dan Desain Blog
4. Posted, upload gambar dan Media suport Blog
5. Dasar-dasar HTML (HyperText markup language)
6. Blog, Google Adsense dan pendukung DL (distance learning/e-learning) program S1 Keperawatan FIK UI

WAKTU dan TEMPAT Kegiatan :
Waktu : Kamis, 30 Nopember 2006 (8 am - 4 pm)
Tempat : KBRI Kuwait, Kaifan, Kuwait City

Persyaratan peserta :
1. Tertarik di bidang aplikasi internet
2. Telah memahami minimal penggunaan dasar-dasar komputer : ms word /notepad
3. Membayar biaya Training 1 KD (termasuk konsumsi, starter kid dan sertifikat)

Pendaftaran peserta :
Hubungi
Nur Martono di http://www.nurmartono.blogspot.com/
Hendar http://sunandar-on-network.blogspot.com/
Sandi http://www.abuhukma.blogspot.com/
Khomsah http://www.dunia-maharani.blogspot.com/
Maruf Hadi http://www.hadi-creativity.blogspot.com/
Rara http://www.diabetesnursing.blogspot.com/

bisa tinggalkan pesan di kotak pesannya
Atau melalui Koordinator Region masing-masing

  • Peserta dibatasi 50 orang
  • Untuk yang memiliki laptop dimohon langsung membawa nya sehingga data dapat langsung di save
BONUS :
Informasi terbaru terbaru tentang program distance learning Sarjana Keperawatan +Ners FIK UI tahun Ajaran 2007/2008, yang akan mengadakan visitasi dan seleksi di awal tahun 2007 sehingga diharapkan calon mahasiswa program ini telah memiliki blog yang dapat link dengan e-learning DL S.KEP FIK UI

Target : Tahun Baru mendatang tercipta 100 blog keperawatan Indonesia dari Kuwait
Indonesian nurses in Kuwait is the leader of nursing blog of Indonesia

Amien................... Bidang Pendidikan dan Pengembangan profesi INNA-K




Thursday, November 02, 2006

INDONESIAN HEALTH DAY IN KUWAIT


INDONESIAN HEALTH DAY
IN KUWAIT
30 NOVEMBER – 1 DECEMBER 2006
By : Indonesian National Nurses in Kuwait (INNA-K)
http://www.inak.tk/


1. Background

Every year Indonesian community in Indonesia and in every country around the world celebrate Indonesian Health Day on 12th November. This year has been the 42nd anniversary, and this year the main topic is "To Achieve Indonesian Health for All Society".

Its clear that health is human right to the people, indeed health is important to the future and for the next generation. We commit to make health behavior is important to be a life style to improve awareness in society about preventive and promoted health, more important than curative and rehabilitative part. Upon the Indonesian Health 2010 vision which always emphasizes the important of health environment, health habit and life style, accessibility to good health care and equality in health service to all society.

Especially Indonesian communities in Kuwait are always reminding importance of The New Paradigm in health. That's why among 50.000 Indonesian who live in Kuwait, especially around 700 Indonesian nurses plan to do health activity to celebrate this anniversary.

In the mean time this is the 3rd times in Kuwait - Indonesian National Nurses Association in Kuwait (INNAK), joint with Indonesian Embassy and Indonesian Society included Blood Bank Kuwait planning to do some activity.


2. Goal

To increase health awareness in prevention and promotion of health life style :
  1. Increase care and attention Indonesian people who live in Kuwait to donor their blood to other people in Kuwait, by Kuwait Blood Bank
  2. By giving information and awareness about AIDS Information and Prevention Program by AIDS Seminar
  3. Improve Indonesian cooperation in Health in Kuwait Government and Kuwait Organisasition
  4. By training and workshop in informative health : "blog" part of health campaign through internet

3. Main activity

  1. Blood Donor from Indonesian Society in Kuwait
  2. AIDS Seminar : Prevention and information about the disease for a women
  3. Training and workshop Health's Blog/Weblog
  4. Sport Activity in Indonesian Embassy
  5. Health environment activity in Indonesian Embassy

4. Target number of participant

  1. Blood donor 150 people among Indonesian Society in Kuwait
  2. AIDS Seminar 150 people especially women
  3. Training and workshop Blog/Weblog : 100 people
  4. Sport activity : 50 people
  5. Health Environment : 100 people

5. Schedule and time

All activity will conduct at 29th November – 1st December 2006, in Indonesian Embassy in Kuwait, Kaifan, Kuwait

6. Organization of Plan

Chairman of Responsibility : Indonesian Ambassador in Kuwait
Chief of Activity : Siswanto M. Muhammad
Head of Project Officer : Aldy Purmalindra
Secretary : Tulus Gatot Widodo and Dudy Nurdiman
Finance : Nurlaley
Public Relation : Dwi Sugianto, Muhammad Aidil Fitri, Ridwan Jamaluddin, Wahidno, Tendy Rustandi
Blood Donor Activity : Kuwait Blood Bank, Batrial Ihsan, Syamsu Hidayat, Widyastuti,Budi Supriyanto, Maftuh
AIDS Seminar : Sifing Lestari, Rani, Afi Lutfianti, Elly Muhlihatin, Anggun Trisoko, Dudi Hidayat, Alfiera, Catri
Training and Workshop
Health Blog/Weblog : Nur Martono, Maruf Hadi, Hendar, Robiun, Sandy
Sport Activity : Raharjo, Bergi Fransiscus, Indra Juniarto, Endi Suradi, Iyang, Autri, Idham
Health Environment : Mustar, Hanafi Afrianto, Rini, Tanti, Mohd. Yusuf, Ali, Agus Suryadi

We looking for Kuwait Company to become our counterpart


SPONSORSHIP REWARD
1. Major sponsor (Type A)
Reward for company of sponsor :
• Big logogram and company name in the back side of t-shirt , the banner , the prize, stand counter in ceremony activity, Logogram in Indonesian Nurses Website and Indonesian Nurses booklet for 1 year

2. Medium Sponsor (Type B)
Reward for company of sponsor :
• Big logogram and company name in front side of t-shirt (medium size), the banner (medium size), prize , Logogram in Indonesian Nurses Website , Indonesian Nurses booklet for 6 month

3. Participant Minor Sponsor (Type C)


REMARKS : For Indonesian Citizen in Kuwait can able attend and participate all this activity, and please give this information to your friends

Thank you

Tuesday, October 24, 2006

PDA (Personal Digital Assistant) dan Keperawatan




Perawat Dan
PDA (Personal Digital Assistants) Keperawatan

" Nurses and PDA Nursing"




by : Nur Martono, BSn

PDA (Personal Digital Assistants) adalah satu alat berupa portable, yang merupakan komputer genggam dan sering ditemui di rumah sakit, terutama digunakan oleh para dokter atau mahasiswa kedokteran. Saya pertama kali melihatnya saat dokter-dokter di Kuwait melakukan round ke pasiennya, dan umumnya dokter trainee/koas di Kuwait selalu membawa PDA saat ke pasien. Namun yang lebih menarik adalah saat beberapa teman perawat Indonesia disini, ternyata telah memilikinya dan telah mencoba mengaplikasi pemanfaatan PDA dalam keperawatan. Alhasil mengasikkan juga karena dapat dengan mudah mengakses ilmu keperawatan seperti info tentang obat, tehnik tindakan keperawatan, dan asuhan keperawatan - dengan alat kecil seukuran dompet saja, yang dapat dibawa kemana-mana.

PDA ternyata semakin populer, yang pada awalnya hanya sebagai piranti genggam bersifat organizer. Namun saat ini semakin berkembang menjadi komputer saku yang dapat mengakses informasi internet, terintegrasi dengan ponsel, bahkan dapat menjadi GPS (Global Positioning System) - yang mampu memberikan informasi tentang posisi suatu obyek di bumi, dengan bantuan satelit 1)

Fuad Anis dalam blognya http://fuadanis.blogspot.com/ menjelaskan bahwa PDA (Personal Digital Assistants) berperan sebagai komputer genggam tetapi sarat dengan fungsi komunikasi (baik Wi-Fi, bluetooth maupun GSM).

Komputer genggam (Personal Digital Assistants/PDA) menjadi hal yang semakin lumrah di kalangan medis. Di Kanada, limapuluh persen dokter yang berusia di bawah 35 tahun menggunakan PDA. PDA dapat digunakan untuk menyimpan berbagai data klinis pasien, informasi obat, maupun panduan terapi/penanganan klinis tertentu.

Beberapa situs di Internet memberikan contoh aplikasi klinis yang dapat digunakan di PDA seperti epocrates. Pemanfaatan PDA yang sudah disertai dengan jaringan telepon memungkinkan dokter tetap dapat memiliki akses terhadap database pasien di rumah sakit melalui jaringan Internet. Salah satu contoh penerapan teknologi telemedicine adalah pengiriman data radiologis pasien yang dapat dikirimkan secara langsung melalui jaringan GSM. Selanjutnya dokter dapat memberikan interpretasinya secara langsung melalui PDA, dan memberikan feedback kepada rumah sakit. 2)


PDA meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dan meminimalkan negligence/kelalaian

Di masa yang akan datang, pelayanan kesehatan akan dipermudah dengan pemanfaatan personal digital assistance (PDA). Dokter, mahasiswa kedokteran, perawat, bahkan pasien akan lebih mudah mengakses data pasien serta informasi perawatan terakhir. "Aplikasi klinis yang banyak digunakan selama ini adalah referensi tentang obat/drug reference. Tetapi kini sudah lebih dari sekedar melihat informasi soal obat-obatan dan dosisnya," ujar Dr Daniel Baumgart, salah seorang dosen Charite Medical School Humboldt University, Berlin, Jerman, seperti dilansir Reuters yang dikutip detiknet.

Bahkan sebuah PDA dengan pemindai bar code/gelang data, saat ini sudah tersedia. PDA semacam ini memungkinkan tenaga kesehatan untuk memindai gelang bar code/gelang data pasien guna mengakses rekam medis mereka, seperti obat yang tengah dikonsumsi, riwayat medis, dan lain-lain. Selain itu, informasi medis tersebut dapat pula diakses secara virtual di mana pun kapan pun, dengan bandwidth ponsel yang diperluas atau jaringan institusional internet nirkabel kecepatan tinggi yang ada di rumah sakit.

Di samping itu data pasien atau gambar kondisi/penyakit pasien dapat didokumentasikan, untuk tujuan pengajaran atau riset, demi meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Meski demikian, PDA tidak akan dapat menggantikan komputer/dekstop/laptop. Tetapi setidaknya, alat ini akan memberikan kemudahan tenaga kesehatan untuk mengakses informasi di mana saja. "Masa depan dari pertukaran informasi adalah digital dan nirkabel," ujar Baumgart lagi mengakhiri
3)

Sementara dari hasil laporan survei American Psychiatric Association menunjukkan, penderita gangguan jiwa, yang tergantung pada komputer genggam/PDA dapat mempengaruhi aktivitas keseharian/activity daily living/ADL mereka. Survei ini melibatkan lebih dari 100 penderita gangguan jiwa yang dilakukan Skyscape, penyedia perangkat lunak (software) untuk bidang medis dan keperawatan.

Responden menyatakan, penggunaan PDA memberikan keuntungan karena memungkinkan petugas medis memiliki waktu lebih banyak bersama pasien. Terutama ketika masih dalam perawatan di RS, dan memperbaiki kualitas keseluruhan perawatan terhadap pasien melalui internet atau hubungan virtual.

Lebih dari 64 persen responden menggunakan PDA lebih dari empat kali dalam sehari, bahkan12 persen menggunakannya lebih dari 25 kali sehari. Beberapa program PDA berguna untuk pasien gangguan kejiwaan, seperti DSM-IV-TR. Dan sekitar 16 persen responden menyatakan, penggunaan PDA membuat mampu mengurangi kesalahan medis hingga 10 persen.
4)

PDA dan Perawat

Colleen B. Davenport, RN, MSN, 2005 menjelaskan bahwa PDA sangat berguna untuk perawat, seperti mampu meningkatkan akses informasi dan data kesehatan, serta menghemat waktu kerja. Meskipun data dari Forrester's Consumers Technographics 2003 North American Bench Mark Study mengungkapkan telah banyak perawat di Amerika Serikat yang telah menggunakan PDA (59.800 perawat di tahun 2003), namun ternyata masih banyak pula perawat yang kesulitan penggunaannya. Menurut Hebert, 1997 budaya perawat/nursing culture, computer literacy/gaptek di kalangan perawat, dan minimnya penggunaan IT (Tehnologi Informasi) dalam mengelola informasi kesehatan - menyebabkan penggunaan PDA di kalangan perawat Amerika masih rendah. 5)

Bahkan menurut Rosenthal Kelly, 2003 umumnya perawat masih enggan mengaplikasikan perlengkapan elektronik dalam praktek klinik keperawatan. Sudah selayaknya institusi pendidikan keperawatan sebaiknya memberikan penekanan penting dalam kurikulumnya, untuk mulai mengaplikasikan "touch" over "tech" (sentuhan tehnologi dalam bidang keperawatan). Sehingga saat si perawat tersebut telah lulus, mereka dapat mengintegrasikan tehnologi dalam asuhan keperawatan.

Masih menurutnya, di tahun 2001 hanya terdapat 25.000 (1%) dari RN (Registered nurses) di Amerika Serikat yang telah menggunakan PDA. Jika dibandingkan dengan jumlah dokter yang menggunakan PDA saja, disana jumlahnya mencapai 18% di tahun 2002 dan diproyeksikan mencapai 33% di tahun 2007. 6 )

Namun perawat diakui memiliki ketrampilan dalam memanage informasi, mengumpulkan dan mengorganisasikan data pasien (Hebert, 2003). PDA dapat membantu perawat memanage informasi yang ada , dengan tentu saja membutuhkan beberapa adaptasi tehnologi. Untuk itu perawat diharapkan mengetahui adanya PDA, melihat penggunaan PDA secara langsung, dan memahami cara kerjanya. Karena sifat PDA ringan dan portable, maka perawat dapat menggunakannya langsung di tangan saat bekerja, tanpa harus selalu berada di konter keperawatan (nurses station).

Pengalaman di Kuwait dan mungkin di Indonesia pun telah ada rumah sakit yang menggunakan SIK (Sistem Informasi Kesehatan), yang terintegrasi dengan data kesehatan pasien. Di beberapa rumah sakit besar di Kuwait sistem SIK ini telah digunakan sejak 2 tahun silam, dengan mengaplikasi program dbase dengan menggunakan KgE32 sistem. Sistem ini dapat diakses dengan PDA, sehingga semua data base pasien : biodata, tanda vital/vital signs, lab, obat, diet dsb - dapat dengan mudah diakses oleh tenaga kesehatan.

Semula memang terasa menyulitkan dan membutuhkan waktu lebih lama saat menerapkan program tersebut. Namun setelah terbiasa terasa sangat membantu perawat sehingga mengurangi administrasi kertas kerja dalam asuhan keperawatan. Seperti contohnya, perawat tidak perlu lagi mengisi format tanda vital/vital signs pasien (dengan pulpen warna biru, merah, hitam, hijau dsb), cukup dengan langsung entry ke komputer. Sehingga yang semula ada sekitar 6 lembar kertas kerja yang perlu diisikan, sekarang cukup 1 saja yaitu nurses notes (catatan keperawatan).

Dengan adanya komputer dan PDA di tempat kerja perawat, dapat meningkatkan produktivitas, mengurangi kesalahan serta kelalaian/negligence, meningkatkan mutu perawatan kepada pasien, dan meningkatkan juga kepuasan kerja perawat.

Apa Itu PDA (Personal Digital Assistants)

1. Dari Wikipedia : Sebuah alat komputer genggam portable, dan dapat dipegang tangan yang didesain sebagai organizer individu, namun terus berkembang sepanjang masa. PDA memiliki fungsi antara lain sebagai kalkulator, jam, kalender, games, internet akses, mengirim dan menerima email, radio, merekam gambar/video, membuat catatan, sebagai address book, dan juga spreadsheet. PDA terbaru bahkan memiliki tampilan layar berwarna dan kemampuan audio, dapat berfungsi sebagai telepon bergerak, HP/ponsel, browser internet dan media players. Saat ini banyak PDA dapat langsung mengakses internet, intranet dan ekstranet melalui Wi-Fi, atau WWAN (Wireless Wide-Area Networks). Dan terutama PDA memiliki kelebihan hanya menggunakan sentuhan layar dengan pulpen/ touch screen.7)

2. Dari Webopedia.com : PDA ada yang menyebutnya palmtops, hand-held computers/komputer genggam, atau pocket computer/komputer saku. Merupakan alat yang mampu dipegang tangan yang mengkombinasikan fungsi komputer, telepon, fax, internet dan networking system. Umumnya PDA memiliki fungsi sebagai ponsel, pengirim fax, web browser, dan personal organizer. Tidak seperti laptop, sebagian besar PDA menggunakan sentuhan pulpen/touch screen. Ini berarti bahwa PDA memiliki kemampuan mengenal tulisan tangan, dan beberapa PDA bahkan memiliki kemampuan mengidentiikasi input suara. PDA saat ini telah pula memiliki kemampuan stylus atau keyboard. 8)

3. PDA (Personal data assistants) adalah komputer genggam yang mampu mensinkronisasikan informasi antara alat ini dengan PC/desktop komputer. Sebagian besar berbasis sentuhan pulpen dengan identifikasi tulisan tangan sebagai data entry-nya. Seperti sebagian besar alat bertehnologi mutahir, maka PDA semakin berkembang pesat - namun tetap saja berbasis aplikasi catatan harian, buku alamat, daftar kerja, memo dan kalkulator. 9)

Macam dan Jenis PDA

Perusahaan Apple Computer-lah yang pertama kali mengenalkan PDA model Newton MessagePad di tahun1993. Setelah itu kemudian muncul beragam perusahaan yang menawarkan produk serupa seperti yang terpopuler adalah PalmOne (Palm) yang mengeluarkan seri Palm Pilots from Palm, Inc dan Microsoft Pocket PC (Microsoft). Palm menggunakan Palm Operating System (OS) dan melibatkan beberapa perusahaan seperti Handspring, Sony, and TRG dalam produksinya . Microsoft Pocket PC lebih banyak menggunakan MS produk, yang banyak diproduksi oleh Compaq/Hewlett-Packard and Casio. 9) Bahkan saat ini juga telah muncul Linux PDA, dan smart phone. Coba klik : http://www.mobiletechreview.com/


Apa Saja Fungsi Bantuan PDA untuk kita sebagai Perawat

  1. Perawat dapat mengakses secara cepat informasi tentang obat, penyakit, dan perhitungan kalkulasi obat atau perhitungan cairan IV fluid/infus.
  2. Perawat dapat menyimpan data pasien, membuat grafik/table, mengefisiensikan data dan menyebarluaskannya.
  3. Perawat dapat mengorganisasikan data, mendokumentasikan intervensi keperawatan dan membuat rencana asuhan keperawatan
  4. PDA dapat menyimpan daftar nama, email, alamat website, dan diary/agenda harian. Ditambah dengan kemampuan dokumentasi naskah menggunakan MS word dan power point. Alat ini juga dilengkapi dengan games, penyimpanan e-book, musik dan photo/gambar, serta video yang terkait dengan bidang kesehatan dan keperawatan
  5. PDA sangat berguna untuk program pembelajaran keperawatan. Seperti telah dilakukan di Duke University School of Nursing and Arizona Health Sciences dan Robert Morris University School of Nursing (2004) di Amerika Serikat, Penggunaan PDA diwajibkan kepada dosen dan mahasiswa keperawatan dalam rangka pembelajaran mata kuliah keperawatan.
  6. Meningkatkan keterlibatan dan hubungan pasien-perawat. Apabila pasien dan perawat memiliki PDA, aplikasi komunikasi keperawatan tingkat mutahir dapat diterapkan, yang tidak lagi menonjolkan peran tatap muka hubungan interaksi perawat-pasien (telenursing).
  7. PDA dapat menunjang pengumpulan data base pasien dan RS, yang berguna untuk kepentingan riset dalam bidang keperawatan
Beberapa Link Bermanfaat Untuk Perawat Dalam Aplikasi PDA :
1. Nursing Informatics Competencies Self Assessment - Nursing Informatics.com:
2. Webopedia: Online Dictionary for Computer and Internet Terms:

Download program yang gratis untuk PDA
ePocrates Drug Database (Untuk Obat).
Blood Pressure Manager (Memahami Tekanan Darah Pasien)
Medical Calculator (Untuk Perhitungan Dosis Obat)
Shots 2004 (Panduan Imunisasi Anak dan Bayi)

Download program PDA yang mesti membayar
HHM Nursing Care Plans 1.0 (Aplikasi NCP-Asuhan Keperawatan Untuk PDA)
DrugGuide (Davis's DrugGuide for Nurses) powered by Skyscape (Panduan Untuk Obat)
AACN Cardiac Medications Pocket Reference 2.0 (PDA program Untuk Obat Jantung)
Download Program PDA "Fun"
BugMe! (Untuk Catatan dan agenda harian)
Diet and Exercise Assistant (PDA untuk Diet, kalori dan gizi)
CollectiveMed.com Adalah website yang sering digunakan untuk menjadi panduan para tenaga kesehatan di Amerika
PDA cortex: The Journal of Mobile Informatics Website untuk PDA Keperawatan
PDA Buyer's Guide Reviews Website untuk Panduan membeli PDA
Brighthand Website untuk membandingkan harga-harga PDA

Dasar-Dasar Penggunaan PDA

Langkah awal menggunakan PDA sama seperti saat kita pertama mempelajari komputer/internet. Disini dibutuhkan sifat keingintahuan, kemauan dan belajar dari kesalahan adalah kuncinya. Tentu saja akan lebih baik jika kita juga bisa memilikinya.

Sebagian besar perawat secara umum masih "gaptek" tehnologi, termasuk PDA. Kita bisa memulai bergabung dengan grup penggermar PDA dan masuk dalam kelompok/komunitas, atau dapat pula belajar dari para dokter, membuka website tutorial/panduan PDA, mempelajari dari buku dan dari perawat lain yang telah terbiasa menggunakan PDA. Mulailah mencoba dari hal yang sederhana seperti agenda harian, organizer, mengambil/upload gambar, games, musik, dsb.

Thomson of Jim’s Palm Pages (2003) memberikan arahan dasar aplikasi PDA :
  1. Bukalan item box PDA dan lihat isian komponennya, kemudian kita membaca manual/petunjuk (dalam CD). Setelah itu hubungkan PDA dengan PC/laptop, kemudian hubungkan kabel data dengan port USB di komputer, dan masukkan dalam soketnya. Kemudian biarkan sementara waktu men-charger PDA anda
  2. Ikuti petunjuk untuk menginstal software ke PC/dekstop/laptop dan lakukan hotsync (pertukaran data di PC dengan PDA , dan ini dilakukan dengan menekan tombol cradle saat PC menyala)
  3. Gunakan PDA dengan : menyalakan tombol (on/off), sesuaikan kontras tampilan layar. Lakukan sentuhan setiap icon, sambil melatih cara menulis dan simpan dalam buku harian.
  4. Bawa selalu dan gunakan PDA anda, dan mulai dari yang bersifat fun/menyenangkan dan simple/sederhana
  5. Setelah terbiasa melakukan hotsync, dan coba browse assesoris seperti tampilan tambahan, akses internet, email dsb.
Beberapa link support untuk PDA
Jim's Palm Pages
palmOne – Support
http://www.komputeraktif.com/
http://www.trendigital.com/
http://www.ilmukomputer.com/

Perawat dan Tehnologi

Pada akhirnya perawat diharapkan tetap mampu menggunakan dan menseleksi program aplikasi yang berguna dalam ruang maya. Menurut Lantz (2004) ada beberapa kriteria pemilihan program yang sebaiknya digunakan meliputi : tujuan, kemampuan audiensi program, authority (pertanggung jawaban), akurasi, objektifitas, ketepatan dan kemudahan aplikasi. Sementara menurut The Health Summit Group (1999) ada beberapa kriteria yang perlu dipertimbangkan yaitu : kredibilitas, isi, disclosure, link, desain, interaktif dan panduan. Sedangkan menurut Cader, Campbell dan Watson (2003) ada beberapa informasi yang perlu disaring atau diseleksi perawat melalui internet adalah : sumber pustaka, latar belakang penulis, bukti hasil riset, hubungan dengan praktek klinisi, sumber informasi dan link

Pemanfaatan PDA dan tehnologi pada akhirnya berpulang kepada perawat itu sendiri. Namun sudah semestinya diharapkan keterlibatan institusi rumah sakit atau pendidikan keperawatan, agar mampu merangsang pemanfaatan tehnologi informasi/nursing computer secara luas di negara kita. Di Indonesia seyogyanya akan lebih baik jika dosen/CI (clinical instructor) dari institusi pendidikan AKPER/STIKES/FIK mulai mengenal pemanfaatan PDA, dalam interaksi belajar mengajar. Misalnya saja saat pre/post conference pembahasan kasus praktek mahasiswa di RS apabila terdapat obat/tindakan keperawatan yang rumit, maka dosen dan mahasiswa dapat langsung akses browser internet.

Demikian pula halnya di level manajer keperawatan setingkat Kepala bidang Keperawatan/supervisor keperawatan di RS pun demikian. PDA sebagai organizer, dan smart phone dapat membantu bidang pekerjaan perawat dalam peran sebagai manajer. Setiap kegiatan rapat, pengambilan keputusan, penggunaan analisa data dan teori keperawatan dapat diakses segera melalui PDA.

Setiap data yang ada di RS dapat pula bermanfaat untuk bahan analisa riset keperawatan, masukkan untuk perumusan kebijakan/policy dan penunjang sistem TI (tehnologi informasi) di RS. Sehingga bukan tidak mungkin akan tercipta nursing network (jaringan keperawatan online) yang dapat memberikan pertukaran informasi data dan program kesehatan secara online tanpa mengenal batas geografis.

Akan ada saatnya dimana keperawatan, perawat, klien, asuhan keperawatan akan bersinggungan dan berjalan seiringan dengan perkembangan percepatan tehnologi. Sentuhan asuhan keperawatan dimasa mendatang bukan tidak mungkin, akan semakin banyak berkembang pesat. Aplikasi telemetry (alat monitor jantung pasien) di ruang rawat semisal medikal pada pasien jantung koroner/MI, yang dimonitor melalui CCU untuk melihat irama dan patologi, sistem data base pasien, dan bahkan di Singapura telah dikembangkan alat pengukuran suhu pasien dengan dimonitor melalui komputer - menjadi terobosan baru yang perawat perlu ketahui. Hingga ada saatnya pula tehnologi informatika dapat membantu mengurangi beban kerja perawat, dan meningkatkan akurasi hasil asuhan keperawatan yang diberikan di Indonesia.

Daftar Pustaka

1).http://www.komputeraktif.com/%5Cnetaktif.asp?judul=NET%20AKTIF&tahun=2003&edisi=49
2)http://fuadanis.blogspot.com/2005/09/peran-teknologi-informasi-untuk.html
3).http://www.palcomtech.com/news.asp?id=320
4)http://download.mobiletren.com/index.php?mod=article_read&id=307
5)http://www.eaa-knowledge.com/ojni/ni/8_3/davenport.htm
6)http://www.findarticles.com/p/articles/mi_qa3619/is_200307/ai_n9264590
7)http://en.wikipedia.org/wiki/Personal_digital_assistant
8)http://www.webopedia.com/TERM/P/PDA.html
9)http://www.nursing.ubc.ca/Current_Students/Learning_Resources/PDAs/index.htm
10)http://www.findarticles.com/p/articles/mi_qa3619/is_200307/ai_n9264590

Sunday, October 15, 2006

Belajar Dari Perawat Philipina (Learning From Philipino Nurses)















100.000 Perawat Philipina sejak tahun 1994 bekerja di luar negaranya Contohnya (Klik Here). Bahkan 3.500 dokter Philipina melakukan aplikasi bekerja di Amerika Serikat sebagai perawat.

Berita terbaru ada 9 negara bagian US telah mencari Perawat Philipina untuk bekerja disana.

Meanwhile Philipino nurses have job order in Bahrain and Japan in 2007, and Philipines president make direct cordination and handle over all nurses problem in there.

Bahkan president Philipina langsung membuat Mahkamah Keperawatan dibawah setingkat lembaga, untuk penempatan perawat, mengingat hampir 8 juta/10% penduduk Philipina adalah sebagai migrant worker (bekerja di luar negaranya). Dan perawat adalah pekerja formal potensial yang menghasilkan income negara itu terbesar.

Perawat Indonesia di Amerika Serikat dalam jumlah sayang sekali datanya belum up date, namun rasanya mereka mendapatkan kesejahteraan yang memadai. Dengan income per jam U$ 20 - 40, katakanlah per bulan mencapai U$ 4000 - U$ 5000. Walhasil mereka tetap bekerja di 2 - 3 RS (mungkin memang model KAPITALISME) - atau Liabilitas. TAPI mereka hidup lebih dari cukup. Baca artikel Detik Perawat Indo mampu menyewa apartemen mewah
Selamat atas 15 pioneer perawat Indonesia (on the Job Training in US).


Alhamdulillah,
Bagaimana dengan PERAWAT INDONESIA lainnya ????
Apa masih saja pasrah dengan menjadi Tenaga sukarela Perawat di Puskesmas, yang dibayar gaji dibawah UMR dan Gaji dirapel - sehingga mungkin terpaksa mencari jalur alternatif, yang haram atau halal mungkin tipis batasnya.

Wallahualam

Saturday, October 14, 2006

EID MUBARAK 1427 H


Mudik Lebaran Naik Kereta "Keperawatan"

Hari Raya Idul Fitri adalah hari kemenangan bagi umat Islam, sebuah kegembiraan dan lekat dengan begitu banyak tradisi. Terlebih di Indonesia, dengan hampir 85% penduduknya mayoritas muslim. Demikian pula halnya di Negara-negara lain yang sebagian besar berpenduduk muslim seperti di Timur Tengah.

Ada nuansa yang hampir sama, tentunya seperti tradisi "mudik" untuk bersilaturahmi dengan sanak famili, tetangga, teman dan rekan profesi. Dan tak terkecuali dengan teman-teman perawat yang mungkin bekerja di kota-kota besar di Indonesia, yang sudah pasti setiap Hari Raya Idul Fitri tiba, maka selalu disibukkan dengan sebuah rutinitas yang sangat-sangat dinantikan setiap tahunnya.

Tak terkecuali dengan sebagian kecil perawat Indonesia yang sedang bermukim (sekolah dan bekerja, atau tinggal di luar negeri) – maka makna Idul Fitri dan berlebaran akan terasa lebih syahdu. Kalau saja kebetulan kita saat ini tinggal di negara-negara Timur Tengah, Malaysia, Brunei, Bangladesh, India dsb – maka nuansa berlebaran masih sedikit kental akan budaya Islam. Namun bagi teman-teman perawat yang mungkin saja sedang tinggal di Eropa, Amerika, Australia, atau Skandinavia, dsb akan terasa sekali perbedaannya.

Katakanlah saja dengan kami-kami perawat Indonesia yang di Kuwait-pun masih merasakan bahwa Lebaran di Indonesia adalah sebuah kenikmatan yang tidak "terhingga". Sehingga umumnya perawat Indonesia disini, akan meminta/request cuti tahunannya/annual leave semua di saat lebaran. Tapi kan tidak akan mungkin (MISSION IMPOSSIBLE). Karena kalau itu terjadi bisa di bayangkan 700 perawat Indonesia di Kuwait – dan belum dengan perawat lokal/Kuwait, Mesir, Tunisia yang mereka juga muslim dan umumnya akan meminta jatah cuti tahunannya di saat Idul Fitri cuti semua. Maka akan terjadi kelimpungan/lumpuh luar biasa di semua RS dan pelayanan kesehatan di negara ini.

Hal yang sama kami temui saat berbincang-bincang dengan rekan profesi perawat di Arab Saudi misalnya, mereka bahkan tidak diperkenankan mengambil cuti tahunan saat Ramadhan dan musim Haji, lebih karena tenaga perawat diperlukan "stand by" disana saat musim puncak kegiatan ibadah Haji dan Ramadhan disana.

Alhasil hanya terbayang saat Lebaran di Indonesia, makan ketupat, opor ayam, jalan-jalan saat Malam Takbiran dan menikmati libur Lebaran adalah sebuah keindahan. Jika teman-teman kebetulan berlebaran di luar Indonesia, atau mungkin masih di Indonesia, namun karena satu dan lain hal/bertugas di pelosok/pulau terpencil misalnya, akan terasa sekali jauh perbedaannya. Kuwait yang seluas Jakarta dengan penduduk 3,5 juta jiwa dan hanya 800.000 penduduk asli (sebagian besar ekspatriat), mereka kurang memiliki tradisi lebaran. Malam takbiran disini seperti malam-malam liburan (Kamis dan Jumat), tiada keramaian yang berarti, dan saat setelah Shalat Ied pun seperti "biasa saja". Paling-paling hanya kita berkunjung ke rumah teman perawat yang memiliki keluarga disini, atau ke embassy-KBRI Kuwait yang setiap tahunnya selalu mengadakan "Open House" (mungkin juga sama dengan negara lain).

Tidak akan ada acara "bersibuk-sibuk ria" mudik – mungkin hanya teman-teman perawat yang kebetulan mendapatkan cuti tahunannya saja. Dan biasanya kita-kita yang tidak dapat cuti hanya ikut "termenung" mengantarkan ke airport/bandara, sambil senyum-senyum berkhayal mudah-mudahan tahun depan bisa cuti di saat Lebaran.

Tradisi Mudik di Indonesia Dengan Kereta

Mudik akan terkait dengan persiapan H - ....., kemacetan, kesulitan mencari pembantu, booking tiket, oleh-oleh, dsb. Hal yang tidak akan dijumpai disini, tidak akan ada nuansa seperti itu. Kalau ditanyakan saya pribadi menyenangi kereta api saat mudik lebaran. Entah karena sejak dahulu dan saat kuliah terbiasa naik KRL setiap harinya , maka kereta adalah favorit pilihan mudik, meski selalu berjubel-jubel.

Setelah di Kuwait ternyata tidak pernah dijumpai Kereta Api/KRL, dimana sistem transportasi disini lebih banyak menggunakan mobil/bus. Maka terpikirlah bahwa Kereta adalah sebuah alat kendaraan berbasis massa yang memiliki makna philosofi.

Kereta terdiri dari 1-2 buah lokomotif (dengan mesin penggerak, tenaga dissel/listrik), 1 – 2 orang masinis, banyak rangkaian gerbong, restorasi dan SDM yang bekerja di dalamnya. Berbeda dengan mobil yang saat mengalami kemacetan bisa mencari "jalur alternatif/jalan tikus", maka kereta kalau anjlok/mogok satu rangkaian, maka rangkaian kereta berikutnya akan mengalami keterlambatan atau gangguan. Namun apabila semua berjalan cepat dan tepat, pasti akan sampai ditujuan.

Kereta juga terbagi menjadi : jenis kereta eksekutif, bisnis, ekonomi atau kereta barang. Kalau kita naik saja didalamnya, semua akan sampai juga ke kota tujuan. Hanya saja kalau kita naik kereta eksekutif adem, nyaman, dan cepat sampai; kalau kereta bisnis ditengah-tengahnya, kalau ekonomi wah.. payah; dan kalau kereta barang "lebih-lebih",,,,,,.Akan berbeda sekali dengan mobil, minimal meski mobil anda mewah kalau macet tentu akan sampai lebih lama. Atau terpaksa mencari-cari jalan alternatif melalui pedesaan atau persawahan.

Sama seperti kata "keperawatan" yang berkorelasi langsung dengan "perawat". Mungkin saja kalau kita assosiasikan dalam konteks philosofi sebuah kereta, maka perawat juga ada yang memiliki tingkatan/katagori, semisal dari katagori : perawat klinisi, vokasional, profesional, akademisi, riset, birokrat, politikus, entrepreneur perawat, dsb. Atau juga jenjang pendidikan SPK, D3, S1, S2, S3 bahkan Profesor Keperawatan, atau katagori-katagori lainnya. Sebenarnya secara kasat mata kita semua pun tahu mana yang masuk katagori mudik dengan kereta eksekutif, bisnis atau ekonomi. Tentu saja semua melalui sebuah perjuangan panjang dan tidak mudah, hingga seseorang mendapatkan tiket naik kereta eksekutif. Namun itu juga yang dicita-citakan setiap komponen profesi keperawatan Indonesia.Yakni agar secara masif sebanyak mungkin tercipta perawat dengan katagori eksekutif, sehingga profesi ini memiliki semangat dan harapan baru.

Rubah Haluan Kereta

Merubah haluan kereta tidak berarti selalu merubah kota yang akan dituju, tapi lebih banyak kearah set up/menset ulang pola pemikiran perawat. Rasanya bukan jamannya lagi menciptakan "complaining society" (masyarakat pengeluh), tapi mungkin akan sangat berguna apabila kita sebagai perawat menciptakan "solving society"/ "optimistm society", - yang lebih menggerakkan energi positif yang kita miliki.

Saat melihat sekelompok mahasiswa keperawatan mengadakan seminar tentang Entrepreneur Keperawatan, saat melihat individu yang berlatar belakang tehnik namun mendirikan STIKES swasta yang bervisi menempatkan lulusan dengan model "dual degree/twinning" seperti STIKES Binawan, yang saat ini banyak direplikasi oleh FIK dan PSIK Universitas Negeri di Indonesia (UI dengan Australia, Unair dengan Selandia Baru, Undip dengan Belanda, UGM dengan Jepang) - maka harapan merubah haluan itu bangkit. Sama halnya saat kemunculan program pendidikan S2 Keperawatan di FIK UI, dan semakin banyaknya mahasiswa Keperawatan Angkatan 2000 ke atas – yang dengan gamblangnya ingin bekerja sebagai perawat di luar negeri, maka keyakinan merubah haluan itu ada.

Banyak cerita teman-teman, termasuk saya setelah lebih dari satu Pelita bekerja dan berkarir menjadi perawat (baik di Institusi Pendidikan, atau pelayanan) merasakan tidak enak juga yahhh naik kereta ekonomi terus. Bahkan ada teman yang setelah sekian puluh tahun bekerja di Puskesmas, baru setelah 1-2 tahun bekerja disini bisa memiliki rumah, mulai berpikir untuk sekolah kembali, mau melakukan bisnis, bisa ibadah haji/umroh, meningkat kemampuan bahasa inggris, memahami berbagai budaya dan karakter individu/bangsa, online internet, dan terpenting memiliki tekat-keyakinan dan kepercayaan diri sebagai perawat Indonesia.

Rasanya harapan baru justru tumbuh pada LOKOMOTIF dan MASINIS Keperawatan Indonesia yang memiliki Institusi, Pemikiran, Visi dan Misi, serta para PENUMPANG yang juga memiliki pemikiran merubah kelas kereta – "jumping". Yang bisa saja dimulai sejak dari mahasiswa telah berpikir untuk bekerja, sekolah dan berkarir menjadi perawat di luar negeri sebagai jembatan/batu loncatan antar kereta. Maka Insya Allah Hari Raya Idul Fitri tahun ini, lebih baik dari tahun kemarin dan tahun depan akan lebih baik lagi : dalam tingkat keimanan, silahturahmi, pemikiran, kesejahteraan, kesehatan dan visi sebagai perawat.

Kalau mungkin 3 tahun yang lalu saat ditanyakan di salah satu AKPER di Jawa Tengah, Berapa mahasiswa yang ingin mejadi PNS (90% menjawab kompak ya), dan hanya 5% malu-malu ingin bekerja di LN, atau masih 1 – 2 STIKES/AKPER yang memproklamirkan visinya untuk menempatkan lulusannya bekerja di LN. Ada rasa senang dan gembira apabila saat ini katakanlah 50% mahasiswa perawat ingin bekerja di LN atau 50% STIKES/AKPER/PSIK/FIK di Indonesia menyatakan siap menempatkan lulusannya bekerja di luar negeri – sehingga "tour of duty" perawat Indonesia berjalan berkesinambungan.

Tentu saja hal ini akan lebih signifikan saat PPNI dan Depkes mendukung pula 100% - menjadikan satu Model Penempatan Perawat di LN adalah program masif mengatasi "pengangguran terdidik" perawat kita. Dan jangan biarkan Seleksi Alam STIKES/AKPER dan kelimpungan profesi perawat terjadi di Indonesia.

Taqqaba'llahu minna wa' minkum

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1427 H

Mohon Maaf Lahir dan Batin


Nur Martono

Staf Nurses Al Amiri Hospital Kuwait